Mohon tunggu...
Rahman Wahid
Rahman Wahid Mohon Tunggu... Menggapai cita dan melampauinya

Menggapai cita dan melampauinya

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Salah Kaprah Sekolah

29 Agustus 2019   16:23 Diperbarui: 29 Agustus 2019   16:40 118 0 0 Mohon Tunggu...
Salah Kaprah Sekolah
Sumber foto: Pixabay/KokomoCole

Instansi sekolah setidak-tidaknya sampai saat ini masih diandalkan oleh sebagian besar masyarakat sebagai lembaga yang paling berperan dalam mendidik serta mengajar anak-anaknya. Ya, mungkin paradigma ini telah menjadi kebenaran mutlak di mata publik. Maka tak heran jika pada akhirnya banyak orang yang mencemooh, mencaci, bahkan sampai mengutuk sekolah bilamana ia tak mampu berjalan sesuai ekspektasi publik, terutama perihal meningkatkan kecerdasan murid-muridnya.

Percaya atau tidak, menyalahkan sekolah karena tidak bisa mendidik murid dengan baik telah menjadi tradisi yang terlestarikan dalam laku hidup masyarakat kita. Hal tersebut jelas menandakan bahwa masyarakat masih belum begitu paham hakikat pendidikan dan bagaimana peran sekolah yang sebenarnya. Telah lama kita diingatkan oleh pendiri bangsa bahwa tugas mendidik yang utama sekurang-kurangnya diemban oleh tiga komponen yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat, begitu tutur Ki Hadjar Dewantara.

Betul, tugas mendidik itu nyatanya dimiliki juga oleh keluarga dan masyarakat. Bahkan tugas mendidik yang paling utama dan krusial ada pada ranah keluarga, bukan di sekolah. Konon, tingkat kekurang urgensian sekolah dalam urusan didik mendidik bisa kita tahu dari sejarah dan asal kata sekolah itu sendiri. Sekolah berasal dari bahasa latin skhole, scola atau scholae yang berarti waktu luang. Hal ini berdasarkan kebiasaan orang Yunani kuno yang sering menemui orang pandai atau pintar untuk bertanya ini itu tatkala mereka tidak ada kegiatan.

Kebiasaan tadi akhirnya mendorong orang Yunani kuno untuk juga menyuruh anak mereka menemui orang pandai tadi guna belajar dan menambah wawasan. Seiring berjalannya waktu, karena dianggap anak-anak mereka berhasil bertambah pandai pada akhirnya mereka mempercayakan urusan mendidik anak kepada orang pandai tersebut. Tradisi orang Yunani inilah yang sekarang kita sebut sebagai bersekolah.

Dari sini kita kemudian tahu bahwa sebenarnya hakikat sekolah itu hanya sebuah pengisi waktu luang semata. Lagipula orang pandai yang dipercayakan orang Yunani kuno untuk mengajar anak mereka adalah para kaum sofis. Ya, mereka adalah para intelektual yang kerap digambarkan oleh Sokrates dan Plato sebagai orang yang hanya mau bekerja jika dibayar dan keras kepala.

Sedikit sejarah tentang sekolah mungkin akan menerangkan dan membuka pemahaman kita tentang peran sekolah yang sesungguhnya. Momen itulah yang menyebabkan mengapa sekolah sampai saat ini dipercayai secara buta oleh mayoritas masyarakat bahwa peran sekolah adalah utamanya mendidik anak mereka sampai pintar. 

Bahkan banyak orang tua yang rela merogoh kocek kantongnya dalam-dalam agar anak mereka masuk sekolah unggulan, ini saking berharapnya mereka pada sekolah mampu mencerdaskan anaknya. Tentu kekeliruan berpikir semacam ini perlu segera direduksi.

Kemudian di era kapitalistik seperti sekarang, ihwal substansi peran sekolah tidak lagi menjadi penting. Oleh karena itu instansi sekolah itu sendiri yang kini malah mentasbihkan diri sebagai pendidik ulung dengan jaminan mampu membuat murid menjadi cerdas, asalkan ada pengganti yang sepadan mau dikeluarkan oleh orang tua muridnya. Ini jugalah yang menyebabkan sekolah sofis makin menjamur sampai sekarang.

Paradigma pengiring lain akhirnya muncul juga dari transaksi sekolah dan orang tua yang sudah terjadi. Ya, para orang tua menjadi lepas tangan sebagian atau seutuhnya dalam urusan mendidik anak. Mereka mempercayakan semuanya kepada sekolah, karena beranggapan sudah membayar sejumlah rupiah. 

Padahal hakikatnya orang tua merupakan sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya, tidak hanya ketika mereka balita dan anak-anak saja, namun tugas mendidik itu terus menjadi tugas orang tua hingga anaknya dewasa sekalipun.

VIDEO PILIHAN