Mohon tunggu...
Rahman Wahid
Rahman Wahid Mohon Tunggu... Menggapai cita dan melampauinya

Menggapai cita dan melampauinya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mewujudkan Ruang Kelas Tiga Dinding

1 April 2019   06:07 Diperbarui: 1 April 2019   06:29 0 1 1 Mohon Tunggu...
Mewujudkan Ruang Kelas Tiga Dinding
Sumber foto: Pixabay/Akshayapatra

Sudah terlalu lama pembelajaran didalam kelas tak banyak memberikan dampak langsung pada lingkungan sekitar. Sudah terlalu lama pembelajaran didalam kelas tak mampu menyelesaikan permasalahan sosial yang ada. Ya, terlalu lama ruang kelas menjauhkan para pelajar kita dari realitas sosial disekitarnya.

Kelas ibarat penjara, ia tak memberikan kesempatan pada para pelajar untuk berkontribusi langsung pada masyarakat. Pelajar kita seolah di borgol oleh sistem yang membelenggu. Teori demi teori dilahap para pelajar dengan rakusnya, tentang bagaimana itu mengatasi banjir, konflik sosial, korupsi, bahkan mengatasi kemiskinan.

Terlalu naif, pelajar kita hanya unggul dalam hal teori semata, sedangkan prakteknya dilapangan sangat jauh dari harapan. Pendidikan yang didapat pelajar di sekolah terlalu terpaku pada tataran teori semata, sedangkan prakteknya bagaimana ? Ah para pembaca yang budiman mungkin sudah tau jawabannya bagaimna toh.  

Omong kosong jika berbicara praktek, pelajar kita kurang terbiasa menerapkan teori yang didapatnya. Tilaar mengatakan bahwa sesungguhnya pendidikan itu merupakan ilmu praksis, dimana pendidikan merupakan perpaduan antara teori dan praktik, jadi kurang cocok disebut pendidikan kalau tidak ada praktiknya dilapangan.

Lebih jauh, malahan Ki Hadjar Dewantara pernah mengungkapkan konsep pendidikan yang agaknya cukup nyeleneh. Namanya pendidikan ruang kelas tiga dinding. Apa itu ? Apakah pelajar kita belajar dikelas yang dindingnya cuma tiga ? Tidak Saudara - saudara. Bukan berarti belajar dalam kelas yang jumlah dindingnya hanya tiga.

Konsep ini menekankan akan penyadaran realitas kepada para pelajar kita, dinding ke-empat yang ditiadakan itu diibaratkan sebagai celah agar pelajar kita tidak terkungkung dalam kelas, ia memberikan kesempatan agar pelajar juga dapat mengetahui dan melihat realitas yang perlu mereka benahi ketika telah menyelesaikan pembelajaran.

Freire selanjutnya mengatakan bahwa guru dan murid merupakan subjek dalam pendidikan, sedangkan objeknya sendiri adalah realitas sosial. Nah disini menjadi jelas bahwa ruang kelas tiga dinding merupakan perumpamaan bahwa sejatinya proses pembelajaran didalam kelas tidak boleh atau jangan sampai melupakan realitas sosial yang ada.

Bahkan dalam teori hadap masalah, Freire mengatakan juga bahwa agar setiap realitas sosial yang dianggap rusak perlu sekali untuk dibawa kedalam kelas, tentu tujuannya agar pelajar tidak sekedar melihat dan mengetahuinya saja, namun juga untuk merasakan dan membangkitkan kesadaran kritisnya. Ini juga lah yang disebut Ausubel sebagai pembelajaran bermakna.

Konsep pembelajaran yang saat ini digunakan cukup kiranya menjadi bukti akan semakin lemahnya dan tidak pedulinya pelajar pada masalah yang ada di masyarakat. 

Ya, mereka belajar berbagai teori, beragam ilmu dipunyainya, tapi berbagai kemampuannya itu tidak memberikan manfaat bagi masyarakat. Jika memang pembelajaran seperti itu efektif, harusnya berbagai permasalahan sosial seperti korupsi dan kemiskinan harusnya dapat teratasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2