Mohon tunggu...
Rahman Wahid
Rahman Wahid Mohon Tunggu... Menggapai cita dan melampauinya

Menggapai cita dan melampauinya

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Sebuah Seni Untuk Bersikap Peduli Ketika yang Lain Bodo Amat

2 Januari 2019   12:49 Diperbarui: 2 Januari 2019   13:18 432 1 0 Mohon Tunggu...
Sebuah Seni Untuk Bersikap Peduli Ketika yang Lain Bodo Amat
Sumber foto: Pixabay.com/Geralt

Tahun 2018 menjadi tahun dimana Mark Manson mencapai puncak popularitasnya sebagai blogger dan penulis. Pria asal Amerika itu menjadi sorotan dunia berkat buku bestsellernya yang digandrungi berbagai macam kalangan yaitu sebuah seni untuk bersikap bodo amat. Sekilas jika kita hanya menjustifikasi isi bukunya hanya sekedar dari melihat judul jelas merupakan kekeliruan yang hakiki. Nyatanya isi buku Mark Manson bukan menyuruh kita agar membodo amatkan segalanya. Hanya pada hal yang akan menggangu peningkatan kualitas diri kita.

Dari apa yang menjadi respon publik, saya melihat beberapa orang, terutama anak muda, malah terjerumus dalam kesalahan memaknai judul buku tersebut, kemungkinan mereka terhipnotis oleh judul buku yang unik sekaligus menarik, dan dengan begitu menjadi ditafsirkan seudelnya saja. Maka kiranya istilah ini menjadi tepat "Don't judge a book by it's title", lebih elok jika membacanya dulu baru kemudian bisa memberikan penilaian, sehingga hasilnya menjadi lebih reliabel.

Hingga pada titik ini, terpikirkan untuk sedikit melanjutkan kisah dari buku Mark Manson itu dengan pendekatan tersendiri. Dari judul mungkin terkesan seperti anti tesis dari buku Manson, namun tentu saja bukan itu yang dimaksud, malahan ini pelebaran bahasannya. Nah, jadi jika Manson dalam bukunya menekankan untuk bersikap bodo amat pada hal yang menganggu peningkatan kualitas diri, disini yang dibahas adalah bagaimana menjadi peduli terhadap hal yang sering orang lain abaikan atau bodo amatkan.

Tentu beberapa hal yang sering diabakan orang lain ini bukan sekedar penting untuk dipedulikan, malahan lebih urgen untuk dicari solusi penyelesaian permasalahannya. Saya mengambil sebagian kecil dari hal yang sering diabaikan atau dibodo amatkan tadi. Check this out.

1. Bodo amat terhadap kerusakan lingkungan

Setelah menonton film The day after tomorrow karya sutradara sekaliber Rolland Emmerich, ditambah film Before the flood yang dibintangi Leonardo Di Caprio, saya sedikitnya disadarkan bahwa kondisi lingkungan saat ini sedang tidak baik - baik saja. Pembakaran hutan, efek gas rumah kaca, sampai penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan menyebabkan kualitas lingkungan menjadi rusak.

Maka tidak heran dari waktu ke waktu semakin banyak bencana alam terjadi. Bencana tadi bukan semata mata terjadi sebegitunya saja, tapi jelas ada olah campur tangan manusia yang menjadikan bencana alam tadi lebih sering terjadi. Kita tahu sendiri bahwa banjir yang kerap melanda kota besar semacam Jakarta dan Bandung seolah tak menemui titik solusi. Salah siapa ? Absolutely human, dikira yang buang sampah ke sungai itu gorila apa ? Itulah dampak dari manusia yang tidak mempunyai rasa kepedulian dan terkungkung oleh sikap bodo amat terhadap lingkungan.

2. Bodo amat terhadap interaksi sosial

Kemajuan teknologi secara nyata bukan berdampak pada perubahan cara produksi mesin yang menjadi lebih efisien, namun lebih besar lagi berdampak pada perubahan pola perilaku pengembangnya sendiri yaitu manusia. Katakan saja dengan adanya gawai, pola interaksi sosial masyarakat menjadi kurang begitu lekat seperti dahulu. Kini interaksi secara langsung sebagian besar mulai dialihkan ke dunia maya.

Dengan demikian banyak juga yang mengatakan bahwa dengan kemajuan teknologi, pola hidup cenderung menjadi individualistis. Ini senada dengan pendapat Gendhotwukir, peneliti Merapi Cultural Institute (MCI) yang disadur oleh Beritasatu.com, ia mengatakan bahwa seseorang saat ini cenderung menjadi individualis dan tidak menghiraukan orang lain disekitarnya, salah satu penyebabnya adalah karena teknologi. Tentu kita tidak boleh bodo amat dengan membiarkan sikap individualis ini menggerogoti seluruh jiwa, karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial. Jadi, berbaurlah!

3. Bodo amat terhadap perdamaian

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x