Mohon tunggu...
rahmad nasir
rahmad nasir Mohon Tunggu... Wiraswasta -

Seorang aktivis mahasiswa Cipayung. Tinggal di Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tenunan Tradisional, Sebuah Upaya Melestarikan Budaya NTT

31 Maret 2017   14:38 Diperbarui: 31 Maret 2017   14:53 1520 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Syarif Moeis (2009) mengutip Bapak Antropologi Indonesia, Koenjtaraningrat bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Sementara konsep awal tentang budaya sebagaimana pernyataan E.B. Tylor yang dikutip  Deni Miharaja (2013) bahwa cultureatau civilizationitu adalah complex whole includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society. Deni Miharaja (2013) juga mengutip Ralph Linton tentang batasan kebudayaan adalah a culture is the configurationas of learned behavior and results of behavior whose components elements are shared and trasmistted by the members of a particular society

Pernyataan-pernyataan ini setidaknya memberikan gambaran bahwa kebudayaan merupakan hasil karya berbagai aktivitas dengan segala produknya yang bersumber dari manusia sehingga membentuk satu komunitas dengan kebiasaan-kebiasaan yang lama kelamaan akan terlembagakan dalam ruang kehidupan manusia.

Salah satu hasil karya manusia adalah pembuatan pakaian dengan corak tertentu yang disesuaikan dengan karakteristik manusia bersangkutan serta tidak kalah penting memperhatikan situasi lingkungan dimana pakaian tersebut digunakan manusia. Pakaian bisa menunjukkan jati diri seseorang sehingga model, motif, warna serta segala yang melekat dari pakaian biasanya memiliki maksud-maksud tertentu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rahmadya Putra Nugraha (2012) bahwa fashion merupakan fenomena komunikatif dan kultural yang digunakan oleh suatu kelompok untuk mengonstruksikan dan mengkomunikasikan identitasnya, karena fashion mempunyai cara nonverbal untuk memproduksi serta mempertukarkan makna dan nilai-nilai. Fashion sebagai aspek komunikatif tidak hanya sebagai sebuah karya seni akan tetapi fashion juga dipergunakan sebagai simbol dan cerminan budaya yang dibawa.

Perkembangan zaman yang semakin modern dengan ciri super canggih di era kekinian membuat manusia bisa saja merasa jenuh dengan pakaian modern yang diproduk mesin. Pakaian-pakaian modern yang juga terinspirasi dari dunia luar sebagai konsekuensi logis dari arus globalisasi membuat generasi manusia Indonesia pun ikut terpengaruh menggunakannya bahkan merasa semakin percaya diri dengan produk bangsa lain. Akan tetapi, pada satu titik manusia Indonesia juga merindukan untuk kembali pada budaya asalnya. Pakaian tradisional yang didesain masyarakat pribumi secara turun-temurun sebenarnya memiliki kualitas yang baik dengan keunikannya tersendiri. Dalam skala nasional, pakaian batik sudah sangat mainstream bahkan sudah sangat terkenal sampai ke manca negara. Batik sebagai produk budaya karya masyarakat Jawa sebagai suku dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia sangat beralasan membuatnya mudah terkenal dalam skala nasional hingga internasional.

Untuk itulah, kelihatannya kini pakaian tradisional yang berasal dari masyarakat di timur Indonesia khususnya tenunan tradisional dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai diminati baik dalam wilayah NTT dan sekitarnya maupun mulai merambah ke kanca nasional bahkan internasional. Hal ini mungkin saja dipengaruhi oleh geliat pertumbuhan dunia pariwisata di timur Indonesia semakin baik. Panorama alam di timur Indonesia terutama di NTT telah mendatangkan banyak wisatawan dalam negeri maupun luar negeri bahkan tokoh-tokoh dunia pun mulai satu per satu mengunjungi NTT dengan segala corak kebudayaan yang unik dan dikombinasikan dengan wisata alam yang sangat indah. Dari 21 kabupaten/Kota di NTT semuanya menawarkan promo wisata unggulan baik dari sisi karya seni seperti tenunan tradisional maupun wisata alam. Masyarakat Internasional (kaum bule) yang semakin banyak hadir di NTT sudah menjadi hal biasa dan ini menunjukkan daya tarik NTT semakin kuat.

Kebudayaan menenun diperkirakan sejak ada sekitar sejak 5000 SM di negara Mesopotamia dan Mesir. Kebudayaan ini kemudian berkembang dan menyebar ke Eropa dan Asia hingga akhirnya sampai ke Indonesia setelah melalui India, Cina dan Asia Tenggara. (Soewarni, 1983). Berdasarkan pendapat ini, masih belum dipastikan kapan budaya menenun masuk ke Indonesia. Setidaknya ada 4 klasifikasi tenunan nusantara yakni kain batik di Pulau Jawa, tenun ikat, tenun songket, dan seni sulaman. Bedasarkan pengelompokkan ini di NTT yang biasa digunakan adalah kain tenun ikat dan tenunan songket yang hampir menyebar merata di berbagai pulau di NTT.

Dengan pandangan-pandangan di atas, maka masyarakat Flobamora perlu menyiapkan diri untuk menangkap peluang-peluang pertumbuhan ekonomi dalam sektor budaya dan pariwisata. Selain NTT sebagai daerah yang berbatasan langsung baik secara darat maupun laut dengan dua negara yakni Republik Demokrat Timor Leste (RDTL) terutama di Kabupaten Belu, Malaka dan Alor dan berbatasan dengan negara Australia terutama di kabupaten Rote Ndao. Salah satu produk unggulan masyarakat NTT adalah kain tenun tradisional baik jenis songket maupun tenun ikat. 

Kini tenunan NTT diminati para pejabat mulai dari presiden, menteri-menteri hingga para pejabat nasional yang mampir atau melakukan kunjungan ke NTT. Selain pejabat, para artis/selebritis atau para desainer nasional mulai melirik tenunan NTT untuk dijadikan bahan fashion yang dikombinasikan dengan pakaian modern. Peluang-peluang inilah yang harus dimanfaatkan dengan baik oleh para pengrajin tenun yang ada di NTT atau para aktor yang bergerak di bisnis ini. 

Koordinasi dengan hotel-hotel/penginapan tamu dari luar NTT perlu dibangun sehingga konektivitas antara masyarakat dan pengusaha perhotelan sama-sama membangun pertumbuhan ekonomi kreatif NTT semakin maju dan berdaya saing. Kendati demikian, satu hal yang harus tetap dijaga adalah tidak boleh saling meniru (plagiat) motif dari suku/kabupaten lain, bahwa masing-masing suku dengan motifnya sendiri-sendiri sehingga tidak menimbulkan kecemburuan atau ketidaknyamanan diantara para pengrajin tenunan tradisional yang telah terkonfigurasi ke dalam sekat-sekat kesukuan dan motif sebagai kreativitas nenek moyang kita secara turun-temurun.

Semua komponen daerah Flobamora harus bergotong-royong membangun iklim ekonomi yang kondusif dan bermanfaat bagi kemajuan daerah terutama dalam mensejahterakan masyarakat sebagaimana tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yakni mensejahterakan kehidupan bangsa. Jauh dari kepentingan di atas, tujuan lainnya adalah upaya melestarikan budaya bangsa lewat tenunan tradisional dengan memperkenalkan motif daerah dan segala makna filosofis dari motif tersebut. Inilah yang dinamakan mengembangkan kearifan lokal (local wisdom) kepada dunia luar tentang jati diri dan identitas daerah/bangsa tercinta ini. Jika kita berdiri di atas bangunan ke-jatidiri-an yang kokoh maka tentu kita akan sangat dihargai oleh orang lain dan membentuk citra kewibawaan yang baik.

Sebagai pelaku usaha di bidang sektor pariwisata terutama budaya tenunan tradisional, saya mengajak kepada seluruh stakeholder/pemangku kepentingan bersama segenap komponen yang ada di daerah terutama masyarakat penenun/pengrajin tenunan tradisional untuk bahu-membahu mengenalkan budaya kita sungguh yang luar biasa ini kepada dunia luar sebagai bentuk pelestarian budaya di tengah gempuran budaya luar (westernisasi). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan