Mohon tunggu...
rahmad nasir
rahmad nasir Mohon Tunggu... Wiraswasta -

Seorang aktivis mahasiswa Cipayung. Tinggal di Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Perspektif, Menikmati Alam Dibalik Tubuh Hawa

4 Agustus 2016   10:24 Diperbarui: 4 Agustus 2016   10:38 98 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Perspektif, perlahan membawaku ke alam imajinasi dan hampir menyentuh teritorial rasio. Retina mataku semangat untuk berfungsi, fikiranku liar mustahil dijinakkan, gegap birahi terus menggelora dalam denyut-denyut jantung yang makin kencang. Tatkala aku menginderai ada pengetahuan pertama. Tatkala aku mencerap dalam penilaian karena melibatkan akal, aku mendapatkan keabsahan pengetahuan.

Alam semesta terlampau luas untuk manusia hina setitik debu, alam semesta terlalu luas untuk bumi yang setitik pasir. Aku harus realistis untuk sementara waktu menginderai dan mewujudkan perspektif-perspektif tentang bumi dalam kajian geografi dan dunia dalam kajian humaniora. Bumi tempat hidup manusia adalah serpihan alam yang didesain untuk satu kehidupan yang paling nyaman untuk kehidupan manusia, nyaman dalam hal suhu, persediaan makanan serta dapat berkembang biak.

Jika aku pandangi tubuh molek sang hawa, perspektif muncul akan kesamaan alam semesta khususnya tampakkan bumi dengan bohainya tubuh hawa. Entahlah, jika di alam ada keindahan yang menakjubkan, maka di tubuh hawa pun ada kekaguman atas keindahan yang sama. Apakah tubuh wanita adalah simbol keindahan alam semesta ataukah alam semesta adalah simbol kemolekan tubuh wanita?. Hanya sang arsitek hakiki yang mengetahui pasti kebenaran jawabannya.

Ada bukit yang menyembul, gugusan gunung menjulang, air yang mengalir perlahan, lembah yang merekah, deru tarikan napas oksigen dan karbondioksida dalam hembusan angin, cuaca dan iklim, hutan yang lebat tersusun dan berserakan, sorotan yang tajam penuh kesan simbol sang surya serta aroma khas menyengat hidung penikmat. Dalam hal bencana tetesan embun jatuh dalam kenelangsaan, dalam kondisi cerah sorotan itu berbinar-binar. Fisikal indah itu pun menua bersama menuanya bumi fana ini. Hawa yang cenderung menghamba pada naluri perasaan kebinatangan, apakah alam juga demikian?. Hawa yang cenderung tak menghiraukan akal. Bukankah alam demikian?.

Jika perspektif berbasiskan materialisme maka insting kemanusiaan sebagai juru bicaranya, jika perspektif berbasis filosofis nan teologi maka naluri kemalaikatan yang akan berbicara. Apa pun basis perspektifnya, akan tetap menyimpulkan satu fakta kekaguman atas panorama bumi yang indah, panorama wanita yang seksi karena inci demi inci tiap lekukannya adalah keindahan tiada tara. Mungkin karena desain konstruksi awalnya dipikirkan secara matang, dibuat dalam ide seni yang tinggi maqomnya serta dengan penuh kehati-hatian dan kemanjaan.

Aku terus menatap tanpa satu kedipan mata pun, dalam kekaguman bercampur keheranan atas penginderaan gratis dalam hidup ini. Aku telah berkeliling dari satu tempat ke tempat lain yang didesain untuk para wisatawan pencari hiburan, namun aku masih berkesimpulan bahwa itu hanyalah serpihan-serpihan keindahan alam karena jauh lebih indah dari keindahan itu telah tersimpulkan dalam satu sosok tubuh bernama wanita. Kesimpulan ini harus diferivikasi oleh berbagai testimoni dan observasi lanjutan untuk mendapatkan validitas fakta yang menunjang suatu kebenaran material maupun secara hakiki secara faktual. Meskipun sudah bisa diprediksi tentang kebenaran akhir dari penelitian mengasyikan ini.

Tatapanku terus berlanjut dalam ketaksadaranku bahkan aku kehilangan identitas karena tak lagi mengenali diriku sendiri hingga otoritas atas diriku pun hilang seketika karena tak tahan dengan godaannya yang dahsyat itu. Karang keimananku goyah dan jatuh tersungkur dari ketinggian memuja-muja dewi keindahan yang terpampang di depanku. Adakah yang bisa menolongku dalam mabuk kepayang ini?. Aku pun menyerah dalam kepasrahan takdir atas perspektif yang terus mempermainkan diri ini.

“Perspektif, memang membunuh secara perlahan hingga membuat seniku menjadi maut”, kata seorang seniman. Apakah benar akan membunuhku dalam gemerlapan kenikmatan dunia fana ini? Atau mencabut aku dari akar identitasku yang sering kutulis dalam formulir akademikku?.  Aku hanya penikmat dalam suatu perspektif tak karuan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan