Mohon tunggu...
Lulu Rahayu
Lulu Rahayu Mohon Tunggu... LULU RAHAYU

I do what i love and I love what i do

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Urgensi Pendidikan Karakter untuk Anak Usia Dini "Zaman Now"

29 April 2019   06:48 Diperbarui: 29 April 2019   08:43 0 0 0 Mohon Tunggu...

Dalam dunia yang lubang ozon moralnya terus melebar, seiring tumbuh dan berkembangnya perubahan peradaban bangsa menuju puncak peradaban dunia, sehingga banyak sekali terjadi pergeseran nilai-nilai agama dan moral di masyarakat, hal ini tentu saja banyak menimbulkan pergesekan-pergesekan yang pada akhirnya menyebabkan perselisihan dan pertikaian. 

Dalam proses perubahan itu,banyak fenomena-fenomena yang terjadi berkaitan dengan menurunnya nilai karakter. Sebagai contoh kasus yang baru saja terjadi baru-baru ini yaitu murid yang menganiaya gurunya sampai menghembuskan nafas terakhir karena alasan tidak suka ketika gurunya menegur untuk tidak tidur di dalam kelas dan banyak kasus-kasus lain yang berkaitan dengan hal tersebut.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Fenomena apakah ini?Siapa yang patut disalahkan pada kasus ini? Apa dampaknya pada generasi berikutnya?Bagaimana penanganan kasusnya?Apa reaksi pemerintah atas kasus ini? Bagaimana reaksi pemerhati anak terhadap kasus ini mengingat murid tersebut masih dibawah umur?Apakah masih pantas dilakukan pembelaan kepada murid tersebut? Demikianlah serentetan pertanyaan yang muncul dan berlintasan di benak saya.

Betapa malunya wajah pendidikan negara kita yang pada saat ini sedang gencar-gencarnya mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap aspek sendi pembelajaran disekolah. Apanya yang salah? Kurikulumnyakah? Rasanya seperti mencari kambing hitam di dalam kubangan lumpur.

Hal ini tidak akan terjadi apabila pendidikan karakter di sekolah dilaksanakan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan bukan hanya sebagai slogan semata. Sebab karakter merupakan kumpulan nilai-nilai baik yang menjadi landasan atau pedoman sikap dan perilaku seseorang. Karakter memiliki nilai-nilai atau virtues karakter yang dianggap baik atau buruk secara universal. 

Karakter adalah proses perkembangan, dan pengembangan karakter adalah sebuah proses berkelanjutan dan tak pernah berhenti (never ending process) selama manusia hidup dan selama sebuah bangsa ada dan ingin tetap eksis. Sebab, hanya bangsa yang memiliki karakter kuat yang mampu mencapai puncak peradaban dunia. Maka untuk membentuk karakter yang baik ini diperlukan pendidikan karakter.

Sejatinya ukuran kecerdasan seseorang tidak hanya dilihat dari aspek kognitifnya saja, tetapi juga menyangkut aspek afektif yang berkaitan dengan sikap dan karakternya.Namun ironisnya di Indonesia, masih banyak sekolah yang mengedepankan dan berorientasi pada aspek kognitif  dalam proses penerimaan siswa baru. 

Dengan menetapkan standar nilai tertentu yang menjadi patokan batas minimal diterima tidaknya siswa disekolah tersebut. Bahkan sampai tingkatan paling rendah sekalipun seperti sekolah dasar favorit yang menerima siswa baru apabila sudah mampu CALISTUNG.Sehingga banyak sekolah-sekolah meningkatkan kuantitas dan bukan kualitas lulusan lembaganya. Dan pada akhirnya segala macam cara dilakukan agar dapat masuk ke sekolah favorit tersebut. Padahal belum tentu anak yang lulus dari aspek kognitifnya, lulus juga dari aspek afektif.

Proses Pendidikan karakter akan melibatkan ragam aspek perkembangan peserta didik, seperti kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai suatu keutuhan (holistik) dalam konteks kehidupan kultural. Karakter tidak dapat dibentuk dalam perilaku instan yang bisa langsung disajikan. 

Pendidikan karakter harus menyatu  dalam proses pembelajaran yang mendidik, disadari oleh guru sebagai tujuan pendidikan, dikembangkan dalam pembelajaran yang transaksional dan bukan instruksional, dan dilandasi pemahaman secara mendalam terhadap perkembangan peserta didik.

Mulai Sejak Dini

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN