Mohon tunggu...
Raharjo Yuwono
Raharjo Yuwono Mohon Tunggu... Lulusan UGM 1992

Pertanian

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Kacang Gude Sumber Tambahan Pendapatan Petani Marginal Gunungkidul

20 Juni 2020   00:18 Diperbarui: 20 Juni 2020   00:34 26 2 2 Mohon Tunggu...

Daerah zone selatan kabupaten Gunungkidul merupakan daerah lahan kering dengan pertanian mengandalkan curah hujan, sehingga pertanaman padi hanya dilaksanakan sekali setahun dan musim berikutnya dilanjutkan dengan tanaman palawija. Apabila musimnya bagus maka panen musim kedua akan berlimpah, namun jika curah hujan tersendat maka hasil kurang optimal.

Lalu bagaimanakah para petani zone selatan meningkatkan pendapatan dari usaha taninya? Ternyata para petani sudah terbiasa beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka tinggal.

Daerah selatan yang terkenal dengan pegunungan seribu, karena dipenuhi bukit bukit yang berbatu dengan lapisan tanah  tipis, bahkan boleh dikatakan "batu bertanah" ternyata memiliki khasanah flora yang bernilai ekonomi menjadi tambahan sumber pendapatan para petani.

Kacang gude salah satu tanaman yang diusahakan para petani zone selatan di lereng lereng bukit berbatu. Tanaman ini tumbuh sepanjang tahun dan dipanen 3 bulan sekali.

Di Indonesia, tumbuhan ini disebut kacang binatung (Makassar), fouhate (Ternate dan Tidore), kacang gude (Jawa), kacang bali (Melayu), undis/kekace (Bali), hiris (sunda), kance (Bugis), iris/ turis/ lebui/ legui/ puwe jai (Halmahera), tulis (Rote), tumis (Timor), ritik lias (Batak Karo), dan koluere (Tomia-Wakatobi). [Wikipedia]

Kacang gude adalah salah satu legum yang paling toleran kekeringan (Valenzuela dan Smith 2002 dalam Sharma et al. 2011) dan menghasilkan polong pada musim kering (Sharma et al. 2011).

Kacang gude memiliki kombinasi keunggulan seperti profil gizi yang optimal, toleransi yang tinggi terhadap stres lingkungan, produktivitas biomassa yang tinggi, dan berkontribusi besar bagi nutrisi dan kelembaban tanah. Kacang gude kaya akan pati, protein, kalsium, mangan, serat kasar, lemak, dan mineral. Selain itu, kacang gude juga digunakan sebagai obat tradisional di berbagai negara.

Seperti halnya Sutrisno (48) petani asal Pringsanggar, Purwodadi, Tepus saat dijumpai di lahan bulak Sumurup, Purwodadi, Tepus sedang memanen kacang gude. Sutrisno menjelaskan bahwa dalam sekali panen sehari dia mendapatkan 3 kg kacang gude, dan panen bisa dilakukan beberapa hari. Jumlah tersebut lumayan cukup untuk menambah pendapatan petani seperti dirinya.

Harga satu kilo kacang gude dihargai   Rp 15.000,-. Rata-rata satu petani bisa memanen sekitar 30 kg, hal ini dikarenakan kacang gude hanya ditanam selingan di lereng lereng bersamaan dengan tanaman lain seperti pohon turi, kacang koro benguk dan lain-lain.

Sedangkan tanaman utama yang diusahakan adalah kacang tanah, saat ini curah hujan cukup baik sehingga pertumbuhan kacang tanahnya subur, berharap besuk saat panen hasilnya memuaskan. Untuk kacang tanah rata-rata dari lahanya sekitar 3000 m2 didapat 40 sak  kacang tanah glondong atau 1,2 ton kacang tanah glondong, diperkirakan pertengahan awal Juli sudah mulai panen.

Kepala Dinas DPP Ir.Bambang Wisnu Broto saat memonitor pertanaman palawija (Rabu, 27 Mei 2020) di zone selatan saat di bulak Sumurup melihat pertanaman palawija baik kacang tanah dan jagung tumbuh subur, dirinya bersyukur saat akhir Mei menjelang Juni masih ada curah hujan di zone selatan sehingga menambah ketersediaan air untuk pertanaman musim kedua di lahan kering, dan berharap nantinya bisa panen bagus. Ka DPP juga mengapresiasi para petani yang masih menanam kacang gude dan koro benguk disamping tanaman utamanya, hal ini akan menambah pendapatan petani.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN