Mohon tunggu...
Rahadi AR
Rahadi AR Mohon Tunggu...

blogger amatiran

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Islamisasi, Kristenisasi dan Nativisasi di Lereng Merapi

28 Juni 2011   04:12 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:07 1120 0 1 Mohon Tunggu...

Gunung Merapi di Jawa banyak menyimpan misteri. Bukan hanya potensi letusan, Merapi juga menyimpan misteri sejarah dan berbagai mitos yang membelitnya. Di lereng salah satu gunung berapi teraktif di dunia inilah, berbagai proses dan pergulatan sosial telah datang silih berganti. Hinduisasi, Nativisasi, Islamisasi, juga Kristenisasi dengan mudah dapat dijumpai di berbagai kawasan lereng Merapi.

Dilihat dari sejarah Islamisasi, kawasan lereng Merapi bisa dikatakan agak belakangan, terutama bila dibandingkan dengan wilayah lain di Jawa Tengah. Ini terkait dengan topografinya yang relatif lebih sulit, dibandingkan daerah lain. Dalam catatan Kareel Steenbrink pada abad ke 17, wilayah gunung Merapi masih merupakan wilayah Hindu. Ini terbukti dari naskah-naskah yang ditemukan di daerah tersebut. Dengan mengutip pendapat W. van der Molen, Steenbrink menjelaskan:

Kebanyakan karangan Jawa kuno memang terkumpul di Pulau Bali sejak pertengahan abad ke 19. Satu-satunya koleksi besar yang lebih tua berasal dari pertapaan di lereng gunung Merbabu, dalam koleksi itu ditemukan sejumlah naskah, yang berasal dari abad ke 17. Pertapaan-pertapaan di Gunung Merapi pada waktu itu masih menganut agama Hindu. Pada periode terakhir abad ke 18, pertapaan tersebut memeluk agama Islam, sehingga koleksi Merbabu itu juga ditemukan karangan campuran Hindu – Islam dan karangan yang kurang lebih sudah murni keislamannya. (Kareel A Steenbrink, Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat, Kajian Kritis Mengenai Agama di Indonesia (Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga Press hal. 34-35), dikutip dari DW. van der Molen, Javaanse Tekskritiek, (Leiden :KITLV, 1983).

Sejalan dengan Steenbrink, K.H. Muhammad Sholikhin, seorang penulis produktif tentang Islamisasi di Tanah Jawa, juga menjelaskan, bahwa rintisan dakwah di daerah lereng Merapi dimulai pada tahun 1700-an. Dalam wawancara dengan penulis, Kyai Sholikhin mencatat beberapa nama yang aktif merintis dakwah Islam di lereng Merapi, seperti Kyai Handoko Kusumo, Kyai Ragasari, Kyai Hasan Munadi dan Kyai Rohmadi. Nama yang terakhir ini populer dikenal sebagai juru kunci Merapi.

Diperkirakan, mereka adalah generasi kedua murid Sunan Kalijaga. Dari nama-nama tersebut, yang paling legendaris adalah sosok Kyai Handoko Kusumo. Dalam tradisi tutur penduduk setempat, Kyai Handoko disebut-sebut seorang keturunan Arab, berkulit putih kemerahan dan berhidung mancung. Gara-gara faktor hidung mancung inilah, masyarakat setempat menjulukinya sebagai Mbah Petruk. Bahkan, Kyai Handoko Kusumo atau Mbah Petruk ini akhirnya dimitoskan oleh masyarakat sebagai penunggu Merapi, karena tidak diketahui dengan jelas kapan dan dimana meninggalnya. Beberapa kalangan menganggapnya moksa.

Ritual Tolak Bala

Proses peralihan dari Hindu yang bercorak Bhairawatantra (lihat tulisan tentang Bhairawa Tantra oleh Muh. Isa Anshory) ke Islam memang berjalan evolutif. Karena itu, meskipun Islam sudah diterima sebagai agama baru, tetapi sisa-sisa Hindu masih terlihat dari aneka kesenian rakyat dan ritus budaya penduduk seperti wayang orang,jathilan, jalantur, seni pahat, seni lukis, jangkrik ngentir, kobro dan slawatan. (Yohannes Paryogo et al, 2006, Opera Zaman, Grafindo Litera Media, Yogyakarta).

Dari ragam kesenian tersebut, hanya tradisi sholawatan yang masih mencerminkan wujud kesenian Islam. Dalam seni jathilan dan kobro, masih dominan corak sinkretisnya, terutama berkaitan dengan ritual ”kesurupan” yang menurut Paul Stange sebagai bentuk unsur Hindu dalam tradisi Jawa. Bahkan praktek mistik seperti ritual tari telanjang untuk menolak bala juga masih dilakukan. Ritus ini dilakukan selepas tengah malam pada setiap awal bulan Syuro di Candi Lumbung. Peserta ritus bertelanjang bulat mengelilingi candi lumbung sambil membaca mantra-mantra di bawah panduan seorang pemimpin upacara. (Paul Stange, Politik Perhatian, Rasa dalam Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: LkiS, 2009).

Hampir semua wujud kesenian dan tradisi yang ada di masyarakat sekitar Gunung Merapi adalah bentuk ritual tolak bala, yakni sebuah upaya spiritual supaya terhindar dari bencana Merapi. Ini bisa diahami, sebab Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Dari aneka budaya lokal tersebut, ritual sedekah gunung merupakan bentuk ritual yang paling banyak diberitakan.

Namun bila ditelaah, tiap komunitas masyarakat mempunyai keyakinan dan bentuk yang berbeda dalam melaksanakan tradisi ini. Dalam pandangan masyarakat Desa Lencoh Boyolali, sedekah gunung dilakukan untuk menghormati leluhur mereka yakni Mbah Petruk yang diyakini telah moksa dan saat ini menjadi pelindung ghaib mereka dari ancaman gunung Merapi. Bentuk tradisi di Lencoh ini bahkan mengalami modifikasi. Semula, tradisi ini sekedar hajatan sederhana dengan menanam kepala kerbau di Pasar Bubrah. Lalu, untuk kepentingan pariwisata, dibuat acar lebih menarik. Sebelum disembelih, kerbau terlebih dahulu dikirab keliling kampung.

Kristenisasi

Proses Islamisasi yang belum tuntas di lereng Merapi tampaknya ditangkap dengan jeli sejumlah tokoh misi Kristen/Katolik.Fransiscus Georgius Josephus van Lith, seorang Pastur Jesuit, misalnya, menjadikan kawasan lereng Merapi sebagai pusat pengembangan misi Katolik di tanah Jawa pada tahun 1899. (FL. Hasto Rosariyanto, SJ, Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 tahun Serikat Jesus di Indonesia, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2009).

Pada perkembangannya, Kolese Xaverius yang didirikan van Lith mampu mencetak para guru dan imam pribumi yang tersebar hampir di seluruh Jawa bahkan Indonesia. Inkulturasi adalah sebuah proses olah budaya dimana seorang Katolik tetap merasa bisa sebagai orang Katolik 100% sekaligus juga orang Jawa 100%. Konsep inkulturasi budaya yang ditawarkan para rohaniawan Katolik tersebut dapat diterima oleh masyarakat secara luas.

Konsep inkulturasi ini kemudian didekritkan oleh Paus Yohanes Paulus II dengan menyatakan bahwa Kristus tidak boleh asing dari suku, bangsa atau budaya manapun dimana saja ia berada. Gereja harus menanamkan akarnya dalam-dalam ke tanah rohani dan budaya setiap negeri. (RM. John Tondowidjoyo, Etnologi Pastoral di Indonesia, (Ende: Nusa Indah, 1992). Dengan proses ini, kata Roest Cornellius, diharapkan gereja akan mampu menjadi kekuatan yang menjiwai, mengarahkan dan memperabarui kebudayaan tersebut. (J.B. Banawiratma, Sepuluh Agenda Pembentukan Persekutuan Jema’at-Jema’at Kontekstual dan Berteologi Kontekstual, Yogyakarta: Kanisius).

Saat ini di sepanjang lereng Merapi dan Merbabu banyak berdiri padepokan seni, yang bertujuan untuk melestarikan budaya asli masyarakat. Para pendiri padepokan tersebut ada yang bergelar “Romo” (istilah untuk pastur) dan ikut berkecimpung secara aktif.Salah satu yang ditokohkan adalah Romo Vincentius Kirjito. Ia dikenal sebagai budayawan penggagas dan pemrakarsa gelar-gelar budaya Merapi di wilayah Barat. Sebagai seorang Padri Katolik Roma, ia mengintegrasikan kesenian Merapi dalam liturgi, pastoral, wacana, diskusi hingga protes terhadap kebijakan pemerintah.

Selain mendampingi masalah budaya, para romo, suster dan aktifis Katolik juga dibekali ilmu pertanian yang mumpuni. Kampanye back to nature, pertanian organik dan hidup selaras alam, bisa mereka ejawantahkan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Sehingga masyarakat yang merasakan ladang dan sawahnya menurun kesuburannya semenjak pemerintah memaksakan pemakaian pupuk kimia dan pestisida kimia lewat program Panca Usaha Tani, menemukan jawaban melaui ajaran “organik” para pastur.

Tuntutan Dakwah

Saat meletus Perang Jawa (Perang Diponegoro) 1825-1830, Kyai Mojo yang menjadi penasehat Pangeran Diponegoro memobilisasi pasukannya dari lereng Merapi. Bahkan sejarah mencatat terjadinya pertemuan antara Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun PakubuwonoVI dengan Pangeran Diponegoro, untuk memberikan dukungan bantuan melawan penjajah Belanda. Mereka bertemu di sebuah tempat bernama Guo Rojo. Akhirnya Belanda mengetahui pertemuan itu. Pakubuwono VI ditangkap dan kemudian diasingkan ke Ambon.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islamisasi terus berlangsung di seputar Merapi. Lereng gunung ini bahkan pernah menjadi salah satu basis kekuatan politik Islam dalam melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dalam bukunya, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, P. Swantoro, menulis ungkapan Pangeran Diponegoro: “Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi” (Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa).

Hingga kini, proses dakwah atau Islamisasi di lereng Merapi masih berjalan tiada henti. Beberapa ormas Islam terus melebarkan sayap dakwahnya. Sejumlah pondok pesantren juga telah berdiri di seputar Merapi seperti pondok pesantren At Tauhid dan Pondok Pesantren Gontor VI yang ada di Kecamatan Sawangan Magelang.

Ritual sedekah gunung yang selama ini dicitrakan sebagai wajah penduduk Merapi, menurut KH. Muhammad Sholikhin sebenarnya sudah mulai ditinggalkan masyarakat seiring meningkatnya pengetahuan dan keislaman masyarakat. Contoh, saat terjadi bencana Merapi pada 2006, masyarakat desa Pedhut masih melakukan ritual sesajen dengan menanam kepala kambing di tiap perempatan desa. Namun pada bencana Merapi tahun 2010 ini, masyarakat sudah tidak melakukan ritual sesajen, tapi mujahadah di masjid kampung dengan jalan melakukan zikir bersama. Ada pun acara sedekah gunung yang dilaksanakan secara massal seperti di Desa Lencoh, lebih merupakan agenda resmi Dinas Pariwisata Boyolali.

Kini, di tahun 2010 ini,Merapi beraksi lagi. Bagi kaum Muslim, musibah pasti membawa hikmah. Dakwah Islam terus dinanti. (***)[::insistnet::]

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x