Ganendra
Ganendra Jakarta Worker

Jakarta Worker - suka melekan ...tapi udah mulai ngurangin melek, sejak dimarahin suster :) .... aktif di IG: @rahabganendra follow yes, pasti dipolbek :D ________________________________________ EMAIL: masrahab@gmail.com ________________________________________ FACEBOOK: https://www.facebook.com/rahabganendra ________________________________________ #SemangatPagi

Selanjutnya

Tutup

Makro Pilihan

BULOG, Antara "Pengawal" dan "Juragan" Pangan

17 Mei 2018   06:07 Diperbarui: 17 Mei 2018   06:50 388 2 2
BULOG, Antara "Pengawal" dan "Juragan" Pangan
Keterangan gambar: Kompasiana Kopiwriting bersama BULOG dengan tema

Dengan tagline "Menyediakan pangan murah dan sehat" BULOG berperan penting dalam menyediakan pangan yang unggul dan sehat untuk Ketahanan Pangan Nasional. Perpres no 48 tahun 2016 mengamanatkan penugasan kepada BULOG dalam rangka Ketahanan Pangan Nasional.

Namun di satu sisi format BULOG sekarang dituntut untuk menghidupi perusahaan umum (Perum) sendiri dengan sekitar 4300 orang yang menggantungkan hidup sebagai pegawainya.

BULOG mau tak mau harus kreatif dan inovatif di bidang yang tak dibiayai pemerintah. Bisnis dengan memaksimalkan asset-asetnya menjadi strategi yang diterapkan. Seperti hotel, resto, transportasi, bangunan serbaguna, pasar rakyat hingga memberdayakan masyarakat di bidang pangan melalui pembentukan dan pembinaan Rumah Pangan Keluarga (RPK).

Pernahkah anda menemui produk bermerek "KITA"?  Ada gula manis KITA, tepung KITA, daging KITA, minyak goreng KITA, dan beras KITA. Itu salah satu bidang usaha komersial BULOG.  BULOG komersil?

"Mengupas Strategi Bulog Perkuat Sektor Komersial" di Ajang Kompasiana Kopiwriting

Untuk memahami peran dan strategi BULOG sebagai Perum BUMN, acara Kompasiana KITANgopiwriting bersama BULOG dengan tema "Mengupas Strategi Bulog Perkuat Sektor Komersial" menjadi penting dan perlu.

Acara digelar pada  Kamis, 3 Mei 2018 di Kanawa Coffee, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dengan  narasumber dari pihak BULOG, hadir  Tri Wahyudi Saleh, Direktur Komersial Perum BULOG, Siti Kuwati, Sekretaris Perusahaan BULOG, serta jajarannya Febi Novita, Ermin Tora, dan Widiarso.  Acara dipandu oleh Audrey Chandra, jurnalis Kompas TV menjadi meriah dan seru dengan banyaknya pertanyaan dari kompasianer yang hadir.

Kompasianer yang hadir, datang dari berbagai ragam latar belakang passion menulis. Ada yang politik, ekonomi, lingkungan, lifestyle, traveling, teknologi, kuliner dan lain-lain.  Nampak Yon Bayu, Ronald Wan, Sigit dedengkotnya tulisan politik. Lifestyle seperti Mak Uly, Agung Han. Traveling ada Diaz. Isu lingkungan ada Bu Maria Sumitro. Tekno ada Andri dan Adica, dan banyak lagi.

image003-5afc33445e137362e72024f2.png
image003-5afc33445e137362e72024f2.png

Mengenal wajah BULOG  sekarang, dijelaskan oleh Tri Wahyudi, bahwa dulu BULOG di bawah presiden sekarang dibawah kementerian BUMN. Dan satu sisi BULOG sebagai pelayanan publik (public service obligation/PSO) dan sisi lain BULOG memposisikan selayaknya "perusahaan komersial".

Sebagai PSO, BULOG melaksanakan penugasan stabilisasi harga beberapa komoditas melalui menjaga stabilitas harga tingkat produsen, menjaga stabilitas harga tingkat konsumen, dan menjaga stok pada jumlah tertentu untuk melakukan intervensi pasar pada saat dibutuhkan oleh pasar (darurat, stablisasi harga). Sejak 2016 BUMN Perum BULOG peran dan tugas yang dulunya seputar beras ditambah mengelola 12 komoditas pokok.

Bisnis Komersial BULOG melingkupi; perdagangan komoditi, unit Bisnis dan anak perusahaan.   Dalam Perdagangan Komoditi, BULOG melakukan perdagangan komoditi pangan strategis seperti Kedelai, Jagung, Gula, Bawang Merah, Cabai Merah, Daging, Minyak Goreng, dan lain-lain.

Dalam Unit Bisnis (UB) yang dimiliki BULOG yaitu UB Jastasma, UB Opaset, UB Retail, UB Industri. Dan dan Anak Perusahaan yakni Anak Perusahaan (Anper) dengan kegiatan Bisnis yang bergerak pada industri logistiK yaitu PT. Jasa Prima Logistik BULOG (PT. JPLB).

"Dulu distribusi beras, sekarang inovasi komersial. Tugas wajib saat harga tinggi di pasaran, BULOG stabilisasi. Dari sisi perdagangan tugasnya komersial. BULOG punya asset banyak. Bisnis transportasi usaha," urai Tri Wahyudi yang sudah 21 tahun di BULOG, sejak 1997.

Tri Wahyudi menjelaskan bahwa asset BULOG banyak di seluruh Indonesia. Untuk sisi komersil strateginya dengan mengoptimalkan asset yang dimiliki BULOG. BULOG masuk pasar retail.

"Kita kerjasama dengan Chairul Tanjung Transmart Carefour, dan supermarket di Indonesia. Juga merambah industry, mengolah varian beras di Indonesia," kata Tri Wahyudi yang berpengalaman lama di farmasi namun tertarik dunia pangan itu.   

Unit Usaha Komersial BULOG

Di bidang distribusi BULOG memiliki anak perusahaan,  PT. Jasa Prima Logistik. Memindahkan stok komoditi dari tempat satu ke ke tempat lain. Menjembatani proyek unggulan di daerah. Seiring dengan banyak program pedesaan. Ada divisi penjualan, mendistribusikan komoditi ke seluruh tanah air.

Bidang perhotelan sebagai contoh ada hotel di Surabaya yang sedang diperbaiki. Untuk mengoptimalkan asset. Ada wisma untuk  acara pernikahan atau pesta lainnya. Saluran distribusi, dari komoditi yang ada hotel, restoran, kaf, serta banyak sinergi dan kerjasama BUMN. Ada juga di Biak dibangun pasar rakyat KITA. Dibangun dengan memanfaatkan asset kosong, di tengah-tengah masyarakat. Ada pujasera tempat nongkrong kawula muda.

Di bidang pangan, BULOG secara makro memiliki banyak produk. Produk-produk kebutuhan pokok seperti Beras KITA yang sudah diapresiasi Presiden Joko Widodo, minyak goreng KITA, gula manis KITA, tepung KITA, daging KITA, dan bahkan sedang dipersiapkan untuk launching, bakso KITA.   Produk-produk "KITA" itu sudah disiapkan dari Sabang sampai Merauke.  

Keterangan gambar: Berpose dulu di depan produk BUMN BULOG KITA di acara Kompasiana Kopiwriting bersama BULOG dengan tema
Keterangan gambar: Berpose dulu di depan produk BUMN BULOG KITA di acara Kompasiana Kopiwriting bersama BULOG dengan tema

Nah bagaimana strategi pemasaran produk "KITA" itu? 

BULOG membuat konsep Rumah Pangan Kita (RPK). RPK ini dengan memberdayakan masyarakat, dengan demikian produk lebih dekat ke masyarakat sebagai konsumennya. RPK dibentuk Perum BULOG sebagai kegiatan stabilisasi harga pangan dan pelayanan voucher pangan. RPK sebagai outlet penjualan pangan pokok milik masyarakat yang dibina oelh Perum BULOG. RPK sebagai usaha kecil dengan tujuan menumbuhkan jiwa wirausaha dan membangkitkan ekonomi masyarakat.

"Cocok untuk komunitas ibu-ibu. Hanya memerlukan space kecildi rumah seperti garasi," urai Wati, panggilan Bu Siti Kuwati.

Menurut Wati, melalui RPK, BULOG berupaya mendekatkan produk ke masyarakat. Saat ini sudah ribuan peserta RPK. Kecuali itu BULOG bekerjasama dengan Dewan Masjid Indonesia, kerjasama dengan masjid. Misalnya Baitul Pangan di Depok. BULOG mendukung dengan meminjamkan freezer dengan syarat tertentu.

Keterangan gambar: BULOG kadang masih diidentikkan dengan beras. Foto beras dari pedagang beras di kawasan Kedoya, Jakarta Barat. (Foto Rahab Ganendra)
Keterangan gambar: BULOG kadang masih diidentikkan dengan beras. Foto beras dari pedagang beras di kawasan Kedoya, Jakarta Barat. (Foto Rahab Ganendra)

Lalu gimana kalau mau ikut  RPK, lahan terbatas, modal berapa?

Menjawab pertanyaan khas ibu-ibu dari kompasianer Uli Hartati itu, Febi dari BULOG menjelaskan, RPK sangat simple, tak perlu tempat luas, di garasi, di gang bisa. Mendaftar dengan menggunakan KTP. Modal pembelian RPK minimal Rp. 5 juta. BULOG akan kirim barang senilai pembelian produk.

"Kita kasih banner, rak juga," jelas Febi.

BULOG juga bekerjasama dengan retail seperti Transmart untuk barang lain diluar produk BULOG. Itu dilakukan agar lebih menarik dan menyediakan kebutuhan lain yang juga dibutuhkan masyarakat. Tentunya member BULOG mendapat harga special.

"RPK milik Ibu. RPK bukan francise bukan punya BULOG," tambah Febi. 

Kondisi di lapangan  produk KITA sudah mulai bersaing. Minyak goreng KITA dibanding produk ternama, menurut sharing beberapa pengusaha rumahan, mengatakan bahwa setelah memakai minyak goreng KITA usahanya meningkat. Keripik, macaroni dengan tepung KITA "ngembangnya" lebih baik.

"Terigu KITA walau baru, sekitar dua bulan. Terigu ini peminatnya banyak. Hasilnya sangat bagus. RPK yang gabung BULOG, banyak yang berkembang. Omset mereka tinggi dalam sebulan  belanja ratusan juta," urai Febi.

Soal bahan produk diperoleh dengan cara kerjasama. Seperti gula manis kerjasama dengan PTPN pabrik gula petani. Terigu dengan Bogasari, Sri Boga Semarang. Minyak dengan perusahaan lain dengan kualitas minyak "ga tengik" dan tahan lama, bahkan bisa digunakan 5 x. Beras produk petani lokal.

"Kecuali untuk stabilisasi penugasan pemerintah, beras juga impor," tambah Tri Wahyudi.

Nah pada saat itulah posisi BULOG dan peran fungsinya cukup berat. Terkadang seperti buah simalakama. Coba ingat-ingat saat harga gabah anjlok, para produsen "berteriak-teriak", siapa yang menjadi sasaran tudingan? BULOG kan? Satu sisi saat harga beras tinggi, siapa yang dituding salah oleh masyarakat? BULOG lagi kan?

"Kita itu ada dimana-mana," kata Tri Wahyudi disambut gelak tawa kompasianer. Itulah yang membuat posisi BULOG menjadi representative dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan di negeri ini. BULOG sebagai "Pengawal" stabilitator harga sekaligus sebagai "Juragan" yang harus "cari duit" untuk menghidupi keluarganya (BULOG). Uffff

Cicipin Produk KITA, dalam Porsi Bersahaja

Jadi penasaran dengan produk BULOG bermerek KITA itu. Jadi cobalah memasak dengan adik membuat olahan penganan menggunakan produk KITA. Bikin apa ya? Bakwan jagung dan sayuran menjadi pilihan. Soalnya bakwan jagung itu agak susah nyari di penjualnya. Jadi kenapa gak bikin sendiri saja ya? Hehee.

Keterangan gambar: Tes produk KITA. (Foto Rahab Ganendra)
Keterangan gambar: Tes produk KITA. (Foto Rahab Ganendra)

Apalagi tepung KITA dan minyak goreng KITA sudah punya. Tepung KITA dengan tekstur halus berwarna putih bersih dengan berat bersih 1 kg. diolah dari biji gandum pilihan, dan pastinya cocok lah ya buat bikin gorengan bakwan jagung. Hehee.

Dipadu dengan minyak goreng KITA yang 'fresh' ga tengik produksi Lampung. Berbahan buah sawit pilihan. Hasilnya, hmmm lumayan empuk tekstur tepung terigunya, rasa gurih dari minyaknya.

Tak ketinggalan secangkir teh tubruk dengan menggunakan gula manis KITA. Sruput teh makin mantap.

Pastinya melihat produk KITA dengan label SNI, MUI, dan identitas tulisan BUMN "Hadir untuk Negeri" bagiku tak ada alasan satu pun untuk tidak memilihnya.  Produk KITA ...murah dan sehat!

@rahabganendra