Rahab Ganendra
Rahab Ganendra Jakarta Worker

demen melekan - suka ngeVlog

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

100 Tahun Negeri Api, di Antara "Tar" dan "Naghara"

6 Mei 2018   14:08 Diperbarui: 6 Mei 2018   23:44 296 1 0
100 Tahun Negeri Api, di Antara "Tar" dan "Naghara"
Tar dan Naghara. (Foto Ganendra)

MALAM bersejarah di Rabu 2 Mei 2018 malam bagi warga Republik Demokratik Azerbaijan, seiring tepat dalam perhitungan kalender, mengenang 100 tahun kemerdekaannya, hari lahirnya. Turut merasakan kebahagiaan saudara-saudara Azeri saat aku masuk ke Bali Room, Hotel Kempinski, Jakarta memenuhi undangan pihak Kedubes Azerbaijan bersama rekan bloger.

Acara yang bersahaja selama hamper durasi 2 jam-an. Menikmati suasana, bertemu duta besar Azerbaijan dan kerabat dengan pakaian nasional Azeri plus dentingan music Tar dan Nagara  yang seakan membawa ke 100 tahun silam.

Aku berasa di suasana 'kerajaan' saat masuk ke ruangan Bali Room. Pasalnya saudara-saudara dari Kedutaan Azerbaijan, bersama keluarga dan warga berpakaian 'megah', berkostum kebesaran negaranya. Melihat Ruslan Nasibov as Counsellor/Deputy Chief of Mission dan Emil Ahmadov as Third Secretary (Consul) gagah berwibawa dalam baju nasional "negeri Api" itu. Dengan beliau pernah ketemu saat aku bersama kawan blogger berkunjung ke kantor Kedubes Azerbaijan.

Dubes Azerbaijan untuk Indonesia (tengah). (Foto Ganendra)
Dubes Azerbaijan untuk Indonesia (tengah). (Foto Ganendra)
Tak ketinggalan anak-anak dibawa serta dengan pakaian serupa. Ya, mungkin sembari menanamkan pemahaman sejarah tentang haru biru perjuangan Azerbaijan meraih kemerdekaan menjadi Republik Demokratik Azerbaijan, seabad silam.

"Aisyu," kata gadis cilik itu saat kutanya namanya.

Aisyu (maaf kalau salah nulis) kulihat berfoto (mungkin) kerabat dan tamu undangan lainnya.  Bersama 2 bocah kecil lainnya. Rekan bloger Andri pun aku maintain tolong untuk memfoto kami berempat. Cling....jadilah foto bersejarah, aku satu frame dengan anak-anak Azerbaijan. Hehee.

Pakaian khas Azerbaijan. (Foto GANENDRA)
Pakaian khas Azerbaijan. (Foto GANENDRA)
Selayaknya perayaan yang bersifat kenegaraan, hadir pula tamu undangan mewakili pemerintah Indonesia.  Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB)  Asman Abnur, Ketua DPR RI Oesman Sapta Odang. Ada pula terlihat hadir ustad kondang Yusuf Mansur.  

Hubungan diplomatik Indonesia dengan Azerbaijan cukup erat. Terbina dengan baik. Bahkan pencak silat menjadi olahraga yang popular di negeri, maka selayaknya negeri kita turut berbahagia merasakan kebahagiaan dalam perayaan 100 tahun bersejarah kemerdekaan Azerbaijan itu.

Dubes Azerbaijan untuk Indonesia, Tamerlan Garayev. (Foto: Ganendra)
Dubes Azerbaijan untuk Indonesia, Tamerlan Garayev. (Foto: Ganendra)
Menengok sejarahnya,  Azerbaijan berdiri pada 28 Mei 1918 dengan nama Republik Demokratik Azerbaijan. 2 tahun berselang, Azerbaijan jatuh ke dalam kekuasaan Uni Soviet dan menjadi bagian negeri yang sekarang bernama Rusia itu. Saat Sovyet jatuh, Azerbaijan meraih kemerdekaannya kembali pada 18 Oktober 1991 silam.

Turut merinding saat lagu Indonesia Raya berkumandang di awal acara yang diikuti lagu kebangsaan Azerbaijan. Diantara mulutku yang menyanyikan lagu itu dengan lirih, kulihat hadirin hening, berdiri dengan sikap hormat. Demikian pula Tamerlan Garayev, Duta Besar Republik Demokratik Azerbaijan untuk Indonesia kulihat tenang berdiri. 

Kumandangnya lagu Indonesia Raya itu menjadi sebuah penanda bahwa Indonesia dan Azerbaijan saling menghormati dalam hubungan antar negara yang telah terjalin sejak tahun 1992.

(Foto Ganendra)
(Foto Ganendra)
Tar dan Naghara sepanjang acara. (Foto GANENDRA)
Tar dan Naghara sepanjang acara. (Foto GANENDRA)
Acara yang ringan dengan kata sambutan dari Tamerlan Garayev serta Asman Abnur yang memberikan wawasan sejarah kemerdekaan Azerbaijan 100 tahun silam dan juga tentang hubungan diplomatic yang manis dan terjaga hingga sekarang.

Petikan "Tar" dan "Naghara", alat musik yang dimainkan oleh masing-masing musisi 'Shahriyar Imanov' dan Shukur Aliyev membuat nuansa budaya negeri salah satu tempat lahirnya peradaban itu semakin kental. "Bersih" terdengar petikan music dengan tabuhan yang bernuansa etnik apalagi ruangan luas Bali Room dengan desain lampu di atas bak kubah kerajaan.

Praktis "Tar" dan "Naghara" menjadi pengiring acara dari awal sampai akhir. Dari music nuansa balaada yang kurasakan hingga alunan riang yang membuat tamu-tamu dan jajaran Kedubes Azerbaijan menari dengan ceria. Itu tarian tradisional Azeri.

Sementara aku memperhatikan tarian kebahagiaan mereka di sudut kiri panggung. Menikmati hidangan yang sederhana namun bercita rasa. Sayangnya banyak yang gak kukenal. Itu ada kuliner khas Azerbaijan. Ada kebab disamping daging kambing panggang yang nikmat dengan tekstur lembut.

Foto bersama selepas potong kue. (Foto GANENDRA)
Foto bersama selepas potong kue. (Foto GANENDRA)
Tak ketinggalan semangkuk kuliner khas Timur Tengah, Lentil Soup dengan roti. Kuah kecoklatan yang kental membuat hangat diantara dinginnya AC ruangan. Buah merah delima dengan cita rasa asam plus buah regular lainya, papaya, nanas dan lainnya menjadi pencuci mulut penutup[, saat aku hendak beranjak, pulang di akhir acara.

Lentil soup (kanan) (Foto Ganendra)
Lentil soup (kanan) (Foto Ganendra)
Delima. (Foto GANENDRA)
Delima. (Foto GANENDRA)
Bersyukur berkesempatan hadir memenuhi undangan, berbaur dalam malam kebahagiaan "Negeri Api". 100 tahun sudah berjalan, tanpa melupakan sejarah indah yang mesti dikenang. Dikenang hingga hari bersejarah itu menempel di dada Aisyu dan generasi penerusnya. Selamat Hari Ulang Tahun Republik Demokratik Azerbaijan. Salam Damai.

@rahabganendra

Baca juga artikel tentang Azerbaijan:

Obrolan Sore tentang ''Negeri Api'' dengan Kedubes Azerbaijan 

Air Mata Khojaly di Istiqlal