Mohon tunggu...
Ganendra X
Ganendra X Mohon Tunggu... Jakarta Worker

Suka nulis, fotografi, ngevlog - email: masrahab@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Andris Wijaya, Sosok Pengangkat Citra Beras Asli Garut

23 Oktober 2016   04:18 Diperbarui: 23 Oktober 2016   14:09 0 11 4 Mohon Tunggu...
Andris Wijaya, Sosok Pengangkat Citra Beras Asli Garut
Andris Wijaya. (Foto Istimewa)

Kecintaan dan motivasi besar untuk mengangkat nama beras asli Garut ke kancah yang lebih luas, membuatnya pantang mundur dan terus menerus berkreasi produk-produk menarik dari olahan beras Garut. Jatuh bangun, permasalahan yang datang silih berganti yang ditemuinya, tak lantas membuat sosok ini patah arang. Justru aneka problema itu menjadi pelecut dirinya untuk lebih termotivasi membuat terobosan-terobosan baru. Satu impiannya adalah, mengangkat perekonomian para petani Garut, dengan memperjuangkan beras Garut yang berkualitas tinggi, agar dikenal banyak orang. Caranya adalah mengolah bahan baku beras Garut menjadi produk-produk menarik, yakni Nasi Liwet Instan 1001. Melalui produk kreatif ini, citra beras Garut kian hari kian bersinar, diakui dan disukai banyak orang. Efeknya, para petani lebih terberdayakan dan terangkat perekonomiannya.

*

ANDRIS WIJAYA nama sosok pria yang tumbuh dari keluarga petani sekaligus wiraswasta beras di Kabupaten Garut. Lahir di Garut, 6 Juli 1979 dari pasangan H. Dedi Mulyadi dan Hj. Yayat Maryati, Andris mewarisi usaha turunan orang tuanya yang telah lama mati suri, sejak ayahnya meninggal dunia pada 1990 silam. Itulah saat dimana Andris memutuskan dan meneguhkan untuk bergelut di bidang agrobisnis.

Berbekal pendidikannya dan pengetahuannya di teknik mesin yang direguk dan diselesaikannya pada 2001 di Politeknik Institut Teknologi Bandung/ITB, ia merintis kembali usaha orang tuanya dengan ‘cita rasa’ baru. Cita rasa hasil dari kreativitasnya ‘meramu masalah’ yang datang silih berganti dalam pengembangan bisnisnya.

Andris sadar, bahwa ‘dunia beras’ menjadi takdirnya. Takdir sebagai sumber penopang perekonomian hidupnya sekaligus sarana dirinya memaknai hidup untuk lebih banyak bermanfaat dan berbuat banyak bagi masyarakat.

Memegang filosofi hidup dengan teguh serta mengaplikasikannya, membuat semangat Andris tak pernah surut. “Kesuksesan dalam hidup adalah bisa bangkit dari kegagalan,” salah satu filosofi yang dipegangnya. Pesan agung dari almarhum sang ayah yang asli Sunda, lekat dalam ingatannya, “Mun keyeng pasti pareng.”

“Kalau kita rajin dan giat, pasti akan tercapai. Man jadda wajada,” begitu kira-kira arti pesan itu.

Beras Garut semakin dikenal banyak orang, salah satunya lewat kreativitas bisnis Nasi Liwet Instan 1001. (Istimewa)
Beras Garut semakin dikenal banyak orang, salah satunya lewat kreativitas bisnis Nasi Liwet Instan 1001. (Istimewa)
Problema adalah Motivasi
Sejak menerima ‘tongkat estafet’ meneruskan bisnis beras keluarganya pada 2003, Andris sudah dihadapkan dalam berbagai permasalahan. Suami Rully Putri Mustika ini sempat mengalami kegagalan. Saat itu harga beras Garut produk pabrik penggilingan padinya didera jatuh bangun. Tak stabil. Sempat pabrik itu terancam dijual, karena banyak terkena tipu, utang semakin bertambah, modal tinggal sedikit, sementara beban yang harus dipenuhi besar. Hingga diputuskan pabrik yang telah dirintis orang tuanya sejak 1975 itu rencana dijual.

Dalam kondisi seperti itu, Andris sadar biasanya orang bisa berpikir ke arah positif dan juga bisa negatif. Momen menunggu pembeli dengan harga yang cocok dan pas, bukanlah hal sebentar. Padahal setoran harus dipenuhi. Beruntung Andris lebih rasional berpikir ke arah positif.

“Pernah gagal itu pelajaran agar tak gagal lagi dan mampu bangkit kembali,” adalah filosofi yang diyakini Andris. Gagal tidak membuatnya kapok, semisal ganti usaha. Pasalnya jika berganti usaha, peluang gagal justru makin besar karena belum menguasainya. Berbeda dengan halnya jika usaha tetap di beras, kemungkinan gagal lebih kecil, karena sudah memahami salahnya apa dan dimana, untuk selanjutnya diperbaiki.

Sejak 2003 mulai mengelola pabrik penggilingan beras di daerahnya. Pasarannya pun tidak tentu dan belum pasti ada pembeli yang membelinya di Jakarta. Ditawarkannya ke toko-toko, namun harga sering dipermainkan. Bahkan terpaksa harus melepas berasnya dengan harga yang minim dan merugikan. Terpaksa ia mengikuti harga sesuai keinginan pembelinya, untuk menghindari kerugian lebih besar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5