Ganendra
Ganendra Jakarta Worker

demen melekan - suka ngeVlog

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Celestial Movies Presents: Little Big Master "Haru Biru Pengabdian"

25 Oktober 2015   23:20 Diperbarui: 26 Oktober 2015   00:54 317 3 2

[caption caption="the Little Big Master, kisah sekolah TK Yuen Tin. (sumber Celestial Movies)"][/caption]
Bocah itu dengan ragu-ragu mengulurkan tangan mungilnya. Perlahan dan perlahan. Air matanya mengalir, terisak oleh rasa takut. Rasa takut yang terpendam sekian lama membuat hatinya ciut saat tetes hujan beserta guntur dan kilat datang. “Monster Gunung” begitu yang tertancap di benaknya. “Monster” yang menghantuinya sejak lama, seiring kepergian orangtuanya. “Monster Gunung” itu mengambil pergi orangtuanya, itu yang dipahaminya. Sementara perempuan dewasa di sebelahnya membangkitkan keberanian untuk ‘menyapa’ tetesan air dengan tangannya.

“Monster Gunung” itu tidak ada,” kata perempuan itu. Benar saja, bocah itu terbangkitkan hatinya dan mengerti orangtuanya telah tiada dan hidup di surga.

“Ibu tak usah khawatir di surga, aku baik-baik saja disini,” kata-kata yang meluncur dari bibir mungilnya. Mengharukan.

Adegan yang kuingat dari film Little Big Master sangat menyentuh. Apalagi dukungan musik dan lagu berbahasa mandarin yang ‘touching’ banget. Soal lagu menyentuh hati memang ‘mandarin song’ jagonya, menurutku. Dan Adegan Chu Chu murid TK Yuen Tin dan gurunya Lui Wai-Hung itu adalah sebagian kecil adegan persembahan Celestial Movies (CM) yang tayang perdana pada Minggu (25/10/2015) malam ini. Film ini meraih sukses di Hongkong.

Film drama berdurasi 112 menit ini menggali dalam-dalam tentang makna mendalam pengabdian. Pengabdian pada profesi dalam hal ini profesi pendidik, pengabdian pada keluarga, serta pengabdian sebagai manusia yang baik. Film yang diangkat dari kisah nyata ini memberikan sebuah frame tentang perjuangan kepala sekolah perempuan dengan penghasilan terendah dalam sejarah Hong Kong, HK$ 4.500. Sekolah yang hanya memiliki 5 murid namun memiliki semangat belajar yang tinggi. Film yang mengingatkan kita tentang anak-anak cemerlang di ‘Laskar Pelangi’ garapan Riri Riza yang sampai saat ini, disebut-sebut masih menduduki posisi pertama film Indonesia terlaris sepanjang sejarah.

Sinopsis  

Film Little Big Master mengisahkan ‘haru biru’ perjuangan seorang kepala sekolah perempauan di sebuah desa kecil, Yuen Tin. Guru bernama Lui Wai-Hung itu memiliki penghasilan terendah dalam sejarah Hong Kong. Bahkan bukan hanya mengajr yang menjadi tugasnya, namun segala hal menyangkut TK Yuen Tin seperti kebersihan, sarana prasaran dan lain-lain menjadi tanggungjawabnya. Sendirian!

Sebelumnya Hung adalah kepala sekolah di TK terkenal dengan bayaran yang tinggi. Oleh karena ketidaksepahaman dengan salah seorang penyantun dana TK bersangkutan, Hung mengundurkan diri dari posisinya. Sementara itu suami Hung yakni Dong juga mengundurkan diri dari posisinya sebagai seorang Kurator museum. Momen yang bertepatan menjelang hari ulang tahun pernikhan mereka yang ke-10. Mereka berdua merencanakan untuk keliling dunia setelahnya. Impian yang lama mereka inginkan.

Saat masa-masa tak bekerja itu, Hung tanpa sengaja melihat berita tentang TK Yuen Tin yang terancam tutup. Pasalnya para pengajar dan kepala sekolahnya mengundurkan diri, menyisakan 5 orang murid perempuan. Komite desa melalui kepala desa membuka lowongan untuk kepala sekolah baru dengan bayaran kecil, HK$ 4.500 dengan tanggungjawab pekerjaan penuh. Selain sebagai  kepala sekolah juga merangkap pengajar dan pembersih. Komite desa juga menetapkan bahwa jika dalam waktu 4 TK Yuen Tin tidak mendapatkan kepala sekolah, maka sekolah akan ditutup dan diubah menjadi tempat pembuangan sampah atau rumah pemakaman. Bukan itu saja seandainya ada kepala sekolah dan murid-muridnya tak bertambah, minimal 5 murid maka sekolah akan ditutup.

Hung yang memiliki jiwa pendidik, tergerak hatinya. Baginya anak-anak harus mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak boleh tidak sekolah. Rasa pengabdiannya terusik yang memotivasi  Hung mengajukan diri melamar menjadi kepala sekolah TK di daerah miskin itu.

Satu sisi lainnya adalah soal suaminya. Hung menyampaikan rencananya itu pada Dong, dengan janji hanya 4 bulan. Setelahnya mereka bisa menjalankan rencana perjalanan keliling dunia. Ijin diperoleh. Namun belakangan seiring dengan semakin dibutuhkannya Hung untuk memenuhi harapan TK memperoleh murid, Hung bekerja keras. Bahkan jiwa pengabdiannya lebih terpanggil untuk berupaya sekolah tak ditutup. Kesehatan memburuk, dan satu hal adalah Hung terancam tak bisa memenuhi janji pada suaminya. Janji 4 bulan menangani TK Yuen Tin. Alasan Hung dibaliknya sebenarnya adalah tentang pengabdian pada profesi pendidiknya. Bahwa anak-anak harus tetap bersekolah. Di sisi lain pengabdian pada keluarga, pada suaminya memanggil dirinya sebagai istri yang peduli pada suaminya. Pengabdian sebagai istri yang baik.

Lalu bagaimana lanjutan kisahnya? Bagaimana dua benturan pengabdian mulia Hung itu terselesaikan? Bagaimana kisah TK Yuen Tin, apakah harus tutup?

*

'Kacamata hati' Hung sebagai kepala sekolah TK selama puluhan tahun membuatnya terbangun hatinya, mencintai bidang pendidikan. Profesi pengajar yang obyektif sebagai pendidik diantara beragam kendala dan kesulitan. Dimulai saat Hung berbincang dengan Martin, salah seorang muridnya di TK terkenal di kota. Kemurungan murid yang takut apabila mengecewakan kedua orangtuanya bila dirinya tak mampu berprestasi seperti didengungkan orangtuanya pada dirinya. Sebuah sikap yang mengkhawatirkan menurut Hung. Maka direkomendasikanlah Martin untuk kembali bersekolah di sekolah umum, bukan sekolah berbakat. Sebuah saran yang mengecewakan orang tua Martin. Tentu saja tak setuju. Hung pun memilih untuk mundur.

Jalan membukanya untuk mengabdi di sekolah Yuen Tin yang membawanya pada beragam persoalan. Murid yang hanya 5 orang, Ho Siu Suet, Tam Mei Chu, Lo Ka Ka, Kitty Fathima dan Jennie Fathima, terancam ditutup karena murid satunya akan lulus. Bukan itu saja, murid-muridnya berasal dari kaum yang kekurangan secara ekonomi dan persoalan membayangi masing-masing muridnya. Chu Chu yang menjadi yatim piatu dan dirawat bibinya, Bibi Han, seorang pencuci piring restoran yang sibuk bekerja demi sesuap nasi.  Siu Suet seorang piatu tinggal dengan ayahnya, pengumpul besi tua. Kondisi sang ayah sudah tua dan sakit-sakitan.  Siu menjadi penanggungjawab mengurus pekerjaan rumah. Mengharukan adegan saat dirinya memasak untuk ayahnya. Badannya yang mungil sementara kompor yang tinggi mengharuskan dirinya menggunakan kaleng di kakinya.  Ka Ka, yang memiliki orangtua selalu bertengkar, membuatnya takut untuk meninggalkan bersekolah. Ayahnya suka uring-uringan setelah kehilangan sebelah kakinya.

“Aku tak mau melihat ayah dan ibu saling bunuh, saat kutinggal sekolah,” isaknya.

Semetara kakak adik, Fatimah dan Jennie memiliki orang tua yang masa bodoh dengan pendidikan anak perempuan. Beruntung ibunya masih bersemangat mengantarkan bersekolah, meski belakangan tak sanggup membayar ongkos bus sekolah.

Praktis persoalan kelima muridnya itu mengguah rasa pengabdian Hung sebagai pendidik. “Mereka harus tetap sekolah,” kata Hung.

Maka upaya keras dimulai. Mengurus sekolah, kebersihan, mencari dana investor hingga antar jemput muridnya. Pengabdian seperti apa yang ditunjukkannya itu? Kepedulian akan masa depan anak didiknya, membuat Hung bukan saja hanay berperan sebagai guru. Hingga kedekatan emosinal terbangun. Bukan hanya pada murid-muridnya namun juga pada keluarga mereka. Hung makin dekat dan berkeyakinan tak menyerah.

“Guru yang baik, tidak akan pernah menyerah,” kalimat Hung di penghujung film.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2