Mohon tunggu...
Rahab Ganendra
Rahab Ganendra Mohon Tunggu...

BEST IN FICTION Kompasiana 2014 - Fiksianer "hujan ingkar datang, tlah lama matahari karam di pelupuk mata di bayang gelap raksasa pohon asmara kala hari tercatat di penanggalan tua berguguran kering kupu-kupu muda bernisan rasa ..."

Selanjutnya

Tutup

Puisi

[LOMBAPK] Kita Ini Sontoloyo

24 Januari 2017   17:36 Diperbarui: 24 Januari 2017   17:55 0 5 1 Mohon Tunggu...
[LOMBAPK] Kita Ini Sontoloyo
Ilustrasi

 (1)
 Seberapa paham kita mendengar slogan-slogan kebaikan
 mengalun melalui gendang telinga mengisi benak ingatan
 menuju kedalaman hati
 merasuk lubuk sanubari
 dari rumah-rumah suci
 dari rahim-rahim bumi
 dari malam-malam doa
 dari hening subuh saga

 tapi, masak iyaa
 kita ngitung berapa banyak kita berbuat baik dan benar

 tapi, masak iyaa
 kita ngitung berapa banyak kesalahan orang-orang berseberangan

 (2)
 Seberapa lama kita tahu, adab budaya dan keyakinan tak sama
 bercium tanah di satu pertiwi nusa
 bersembah dengan panji-panji keyakinan berbeda
 dari buku-buku masa sekolah lama
 dari guru-guru bijak di kelas mulia
 dari surau-surau di remang senja
 dari gereja, klenteng dan barisan pura

 tapi, masak iyaa
 kita masih bertanya
 Tuhanmu yang mana?

 tapi, masak iyaa
 kita menghujat
 jalan Langitmu adalah neraka

 tapi, masak iyaa
 kita saling klaim
 aku adalah tuhan, kamu bukan

 (3)
 Seberapa menep jiwa kita bersemayam  
 kala partikel-partikel kasih sayang dan cinta, tak perlu lagi diajarkan
 saat halaman-halaman kebaikan, khatam di penutup buku
 saat gita-gita suci tlah lekat di benak luar kepala
 saat puja-puji terlanggam tanpa henti

 tapi
 masak iya
 perilaku kita sontoloyo
 bernafsu dengki
 Tuhankan ambisi  

 (4)
 Seberapa dalam kita tahu, bahwa kita tak berdaya
 bertakdir lahir dimana
 turun dan hidup di dunia yang mana
 siapa bisa meminta

 lalu, mengapa kau teriakkan, “kulitmu bikin celaka!”
 mengapa kau pekikkan, “Timurmu sesat, Baratku rahmat!”

 (5)
 Seberapa mengerti, bahwa negara tercipta mahal harganya
 untuk satu pekikan bersama, merdeka
 oleh mereka, yang berbeda baju dan cara berdoa
 oleh mereka, yang tak pernah bertanya leluhurmu siapa
 oleh mereka, yang rela seberapa banyak pun darah ditebuskan

 (6)
 Kini, tanpa sadari, noda-noda hitam kita tuangkan sendiri
 di wajah-wajah angkuh menang sendiri
 coreng moreng, melumuri tangan-tangan yang dulu ringan menyalami
 untuk siapa?
 untuk ego sontoloyomu?
 untuk harga diri persetanmu?

 (7)
 masak iyaa, kita berlagak lupa cara menghargai, sementara dulu kita saling mesra menyayangi
 masak iyaa, kita kekeh menang sendiri, sementara dulu kita saling mengalah mengasihi
 masak iyaa, kita abai saudara sebangsa sendiri, sementara dulu kita saling tulus peduli

 (8)
 masak iyaa kita mau lupakan sejarah, satu negeri
 masak iyaa kita mau campakkan budi pekerti
 masak iyaa, kita mau tanggalkan hati nurani

 (9)
 lalu, masihkah ada Tuhan dalam diri?
 atau, apakah kita sudah jadi sontoloyo, membunuh Tuhan dalam hati?

 ***
 Jakarta – 24 januari 2017

 @rahabganendra

Sumber gambar Ilustrasi

Planet Kenthir Dok
Planet Kenthir Dok

KONTEN MENARIK LAINNYA
x