Mohon tunggu...
raganuriman
raganuriman Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa PKTJ Tegal

hobi berolahraga dan senang berbisnis

Selanjutnya

Tutup

Film

Review Film "Gie"

30 November 2022   10:13 Diperbarui: 30 November 2022   10:18 139
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Film. Sumber ilustrasi: PEXELS/Martin Lopez

Film ini menceritakan tentang seorang tokoh So Hok Gie mahasiswa di Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai demonstran dan pecinta alam film ini menceritkan So Hok Gie yang dibesarkan oleh keluarga orang tiong hoa yang tidak begitu kaya berdomosili di Jakarta sejak remaja ia sudah mengembangkan minat terhadap konsep konsep idealis yang di paparkan oleh intelek intelek dunia semangat pejuang nya, setia kawanya, hatinya yang dipenuhi kepdulian sejati akan orang lain,tanah airnya membaur dalam diri So Hok Gie sejak kecil hal ini membentuk dirinya menjadi pribadi yang tidak toleran terhadap ketidakadilan memimpikan Indonesia yang didasari dengan keadilan dan kebenaran yang murni semangatnya ini sering salah dimengerti orang lain bahkan untuk sahabat sahabatnya sendiri. Sahabatnya pernah berkata untuk apa semua ia melakukan perlawanan ini, namun So Hok Gie menjawab dengan tenang karena ada kesadaran untuk memperoleh kemerdakan sejati dan hak hak yang di junjung semestinya ada harga diri yang harus di bayar dan memberontaklah, semboyan gie lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan

Masa remaja So Hok Gie diawali dari kuliah dibawahi resim polopor kemerdekaan Indonesia yaitu Bung Karno yang mana ini ditandai konflik antara militer dengan pki So Hok Gie dan teman temanya bersikeras tidak berpihak ke golongan manapun mekipun gie menghormati Soekarna sebagai founder father Indonesia So Hok Gie membeci pemerintahan Soekarna karena ketidakadilan sosial penyalahagunaan kedaulatan dan korupsi di bawah naungan Soekarna dan dengan tegas bersura kritakan yang tajam di media,So Hok Gie sangat membenci mahasiswa yang berkedudukan senat dan janji manis nya yang omong kosong belaka untuk memperoleh keuntungan pribadi penentangan ini memenangkan banyak simpati bagi So Hok Gie tapi juga memprovokasi banyak musuh ternyata banyak dari orang orang melobi untuk mendukung kampanyenya sementara musuh So Hok Gie semangat disetiap ada kesempatan untuk mengintimidasikan dirinya.

So Hok Gie memiliki teman kecil yang mana sudah mengangumi keuletan dan keberanian So Hok Gie namun dirinya sendiri tidak memiliki semangat juang yang sama dalam usia kepala dua kedua lelaki di pertemukan kembali meski hanya sebentar So Hok Gie menemukan bahwa temannya itu sudah masuk menjadi pki tetapi tidak tau konsekuensi apa yg sebenarnya menanti, So Hok Gie mendesak temanya untuk meninggalkan pki dan bersembunyi tetpai temanya tidak menerima arahan tersebut karena merasa frustasi, So Hok Gie dan temanya temanya pergi ke gunung dan menikmati alam Indonesia dengan mapala Universitas Indonesia selain itu mereka gemar menonton dan menganalisa film,menikmati kesenian tradisonal dan menghadiri pesta dari hobinya memanjat gunung itu menginspirasi tulisan tulisanya, mereka melakukan pendakian pertama di gunung semeru sebelum berangkat mereka menitipkan jejak perjalanan politik pada temanya  di Jakarta ia berangkat ke semeru menggunakan kereta menetukan arah lewat jalan Belanda dan bertanya pada pemimpin desa ia melewati jalan kuda yang di buat oleh Belanda perkemahan malam di ranu kumbolo di mulai So Hok Gie menjadi pusat perhatian dengan segala kisahnya seperti lagu dan musik yg menurutnya universal setelah itu ia melanjutkan perjalan dan menemukan jalan arkopodo sebagai lokasi menuju ke mahameru mereka pun bermalam lagi. Pada saat mau berangkat lagi ternyata cuaca sangat buruk hujan berkabut akhirnya mereka turun kecuali So Hok Gie dan satu temanya yang ternyaa meraka sudah meninggal karena cuaca buruk itu setelah itu diatur rencana penyelamatan akhirnya pada esok hari mereka yakin bahwa So Hok Gie dan temnaya meninggal di tanah tertinggi pulau jawa mereka menjumpai jasad yang sudah kaku mata biru disaat pendakian itu 

So Hok Gie meninggal pada tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang taunya ke 27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut bersama rekanya bernama Idan lubis. So Hok Gie memang sudah tidak ada ia sudah meninggal di gunung semeru tapi tulisanya dan pemikiranya masih menginspirasi kita salah satu quote dalam catatan harian So Hok Gie yaitu tulisan tentang filsafah dunia Yunani bahwa nasib terbaik tidak dilahirkan,Dila#hirkan tetapi mati muda dan yang tersisa adalah umur tua,rasanya memang begitu bahagialah mereka yang mati mud. Kehidupan sekarang membosankan saya,saya merasa seperti monyet tua yang terkurung di kebun binatang  yang tidak punya kerja lagi saya ingin merasakan kehidupan yang keras, di usap olih angin dingin seperti pisau atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Orang orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur yang paling berhaga paling hakiki di kehidupan dapat mencintai,dapat iba hati dan dapat merasai kedukaan

Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun