Mohon tunggu...
Rafli Yanto
Rafli Yanto Mohon Tunggu... Mahasiswa

Hidup dengan Dakwah Insyaallah Berkah

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pendidikan Apatis

16 September 2019   13:20 Diperbarui: 16 September 2019   13:20 0 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh : Muhammad Rafliyanto


"Pendidikan itu ialah menyiapkan akal untuk pengajaran", itulah Testimony yang diutarakan oleh seorang Filusuf Yunani Aristoteles.


Pendidikan, demikian ia kita namai, hingga menit-menit milenia ketiga masehi pecah dan dimulai, selalu kita percayai dengan pola kepercayaan yang sama, dipandang sebagai sesuatu hal yang penting serta mesti ada dalam bingkai backdrop kehidupan manusia di mana pun dan sampai kapan pun.

Ketika kita menyebut sebuah kata yakni "Pendidikan" terlintas dalam pikiran kita tentang bangku dan meja yang ditata dengan lajur. Kita termasuk anda semua menyebut tempat itu dengan Sekolah, Madrasah atau Kampus. Teguh Wangsa Gandhi dalam bukunya Filsafat Pendidikan, beliau mengatakan "Dalam Dunia Pendidikan Manusia dikelompokkan dalam dua tipe, Pertama anak didik dan yang Kedua ialah Guru atau Pendidik".

Guru adalah mereka yang membimbing, mengajarkan serta memberi arti dan membentuk karakter pada anak didik mereka, itulah seorang "Teacher". Menurut pendapat pribadi saya, Guru adalah pendidikan utama dalam sekolah maupun luar sekolah, ini dikarenakan peran ganda yang diberikan Allah Swt kepada seorang yang bernama Guru. Adolph Diesterweg mengatakan "a teacher and his way of thinking, that's was is most important in any educational system". Tapi ada pertanyaan yang muncul dari pribadi saya sekarang, yakni apakah peran sebagai Guru masih dihargai atau masih diperlukan hingga saat ini terlebih khusus di Negara Indonesia ini ?. Mungkin masyarakat serentak mengatakan "Iya Masih sangat Dihargai", jawaban yang rasional tapi masih dalam kategori Munafik.

Terbenak melintas difikiran saya tentang pernyataan yang diutarakan oleh Mochtar Lubis seorang Sastrawan Indonesia, dalam pidatonya, beliau mengatakan "Ada 6 karakteristik yang dimilki oleh orang Indonesia, 1. Hipokritis, 2. Selalu Percaya Mantra, 3. Penakut... dll" (06 April 1977). Percaya atau tidak, tapi itulah pendidikan yang terjadi di Indonesia semua isinya ialah kebohongan belaka yang melahirkan jiwa  EXNORINGE. Pada zaman ini seorang Anak Didik tidak lagi peduli dan bersikap acuh terhadap Tenaga Pendidiknya bahkan sudah tidak ada lagi yang namanya Balas Budi Siswa tapi yang ada hanyalah Seorang Anak Didik yang hanya mengejar Dunia eksistensi belaka, terbukti dari beberapa kasus yang terjadi, Seorang Guru di bully, seorang Guru di bunuh hingga tewas.

Pada Zaman Revolusi Industri 4.0 ini juga seorang Guru juga hampir kehilangan Harga Dirinya. Ya, sebagai orang yang dikatakan luas akan pemahaman Ilmu mungkin sangat susah untuk menafsirkannya dan muncul pertanyaan "Kok bisa...?", Jawabannya sangat sederhana, karena seorang Guru tidak memiliki jiwa layaknya seorang Guru yang sebenarnya. Kekerasan dalam Dunia pendidikan tidak hanya terjadi kepada Guru, tetapi juga pada Murid.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melihat trend kekerasan terhadap anak dalam pendidikan di tahun ini cukup meningkat. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan dari total 445 kasus bidang pendidikan sepanjang tahun ini, 51,20 persen atau 228 kasus terdiri dari kekerasan fisik dan kekerasan seksual yang kerap dilakukan oleh pendidik, kepala sekolah dan juga peserta didik. Kasus cyberbully di kalangan siswa juga meningkat.

Dalam konferensi pers di kantor KPAI, Jakarta, Kamis (27/12), Retno menyoroti kasus cyberbully di kalangan siswa yang meningkat signifikan. Hal ini, kata Retno karena perkembangan teknologi dan pengaruh media sosial cukup masif di kalangan pelajar.

" (Tanggal) 21 Desember total 206 kasus, ini peningkatan memang. Pada tahun sebelum 2015 cyberbully itu nol, atau tidak ada laporan satu pun tentang cyberbully, tapi terjadi terus naik dari 2015. 2015, pertama itu pun hanya empat lalu terus naik, terakhir mencapai 206, jadi seiring dengan kemajuan teknologi dan media sosial memang terjadi peningkatan terutama untuk cyberbully," kata Retno.

Di Indonesia ini memiliki banyak beragam bahasa dan budaya, tak luput juga beragam Pendidikan yang tersebar hampir diseluruh 34 Provinsi, hendaknya sebagai seorang anak didik kita harus lebih bijak dalam mengatasi persoalan ini, kita harus lebih dewasa dalam menanggapi masalah ini. Di Indonesia terlalu luas, tidak bisa kalau hanya sendiri yang mengatasi kekacauan pendidikan di Indonesia ini.

Dalam hadist Rasulullah SAW bersabda, "Seutama-utama amal shalih ialah hendaknya engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya). Kaitannya dengan Hadist diatas ialah bahwasanya kita sebagai orang yang akan kaya ilmu atau istilah saat ini ialah seorang Guru selain mengajarkan ilmu hendaknya juga mengajarkan tentang karakter dan akhlak, sama-sama berbagi ilmu tapi disamping itu juga bisa berbagi tawa dan senyuman kepada anak didiknya.


Kalimat terakhir dari saya ialah "Menurut pendapat saya seorang guru dan orang tua murid harus bekerjasama dalam mendidik anak agar menghasilkan pribadi yang berkualitas."  Seperti itulah hakikat seorang anak didik dan seorang yang mendidik. Menjadikan dunia Pendidikan sebagai peradaban Bangsa, sebagai revolusioner Dakwah dan menjadi suatu bagian hidup dari kita. Dan kita sebagai seorang penuntut ilmu harus bisa Takzim terhadap Gurunya maupun Kedua Orang Tuanya.


"Education is the most powerfull weapon, which you can use to Change The World".

~ Nelson Mandela ~

KONTEN MENARIK LAINNYA
x