Mohon tunggu...
Muhammad Rafiq
Muhammad Rafiq Mohon Tunggu... Bersahabat dengan Pikiran

Berbuat dan berkarya untuk negeri | Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako | Peminat Hukum dan Politik | Jurnalis Sulawesi Tengah

Selanjutnya

Tutup

Politik

Mencari "Macan" Terakhir

24 Mei 2019   01:59 Diperbarui: 24 Mei 2019   02:22 0 0 0 Mohon Tunggu...
Mencari "Macan" Terakhir
Kompas.com

Aura mendung menyelimuti Ibu Kota Indonesia, Jakarta 22 Mei 2019. Suasana khas Kota Metropolitan seketika berubah drastis saat jutaan manusia meneriakkan takbir di depan Kantor Bawaslu RI. Atas nama agama, segala keburukan pemilu dianggap sebagai dosa besar sepanjang sejarah prilaku hidup manusia.

Penyelenggara pemilu dianggap lembaga memperkerjakan para pendosa untuk meloloskan dua macan Joko Widodo (Jokowi)-Prabowo Subianto. 


Segerombolan penyandang orang beradab dan bermartabat turun meneriakan kalimat yang tak mencerminkan diri sebagai orang paling dihargai religiusnya. 

Seperti ada transaksi religius dimana kalimat kesetanan dibayar uang kertas dalam bentuk amplop putih. Warna putih kini telah dideportasi dari kesucian jadi kepalsuan. Kini putih setara dengan abu-abu, semakin tidak menunjukkan asal muasal makna sebenarnya.

Dalih mencari keadilan di atas nama Tuhan harus tercoreng oleh dua macan yang sedang berkompetisi,  Jokowi-Prabowo. Entah siapa macan sebenarnya, pertarungan tampak masih panjang.

Dihutan belantara saja, persaingan mata rantai makanan terbilang cukup alot. Namun, hampir tidak ditemukan adanya saling bunuh membunuh antar sesama.  Justru solidaritas kelompok memberlakukan asal teritorial. Apa yang terjadi, sisi penghargaan akan sebuah batas wilayah tercipta tanpa ada kekerasan, apalagi melukai sesama macan.

Membawa istilah petarung macan di Indonesia,  berbanding terbalik 180 derajat. Antusiasme ide dan gagasan mengantarkan para pendukung ke moment baku hantam, bukan lagi kedewasaan berdemokrasi atau momentum konstitusional. Siapa yang dalang dibalik itu? 

Jika memakai logika kelompok, massa aksi tidak termasuk anggota dari dua kubu macan yang sedang bertarung, yakni TKN-BPN. Kalau boleh berkata jujur, mereka hanyalah korban 'stratak' yang tahu apa-apa selain menggemakan takbir. Lantas kelompok mana yang sedang bertarung hari itu?

Tak ada takbir yang menggema diantara kelompok TKN-BPN. Yang ada hanyalah simbol dimana Ma'ruf Amin sebagai tokoh ulama, sedangkan Sandiaga Uno adalah representasi politik islam ala PKS. Representasi dua orang itu membentuk dua kelompok,  yakni 'cebong' dan 'jihad'.  

Alhasil,  perseteruan antara dua macan pindah antara 'cebong' dan 'jihad'. Korban pun berjatuhan dengan berbagai latar belakang sebab. 

Aparat kepolisian tampil mengatur suasana agar tetap berjalan damai,  justru disalahkan karena menarik pelatuk hingga menjatuhkan korban dan meninggal dunia. Aparat kepolisian tak ubahnya seperti macan ketiga yang juga sedang bertarung dan memburu mangsa. Akhirnya ada tiga macan di hari itu.  

Macan yang satu ini sebelumnya sudah mencium aroma kericuhan pada hari itu. Ketajaman penciuman itu berhasil menemukan adanya indikasi aksi terorisme dibalik aksi massa.

Pada hari kejadian, peluru tertuju pada massa yang sedang mengamuk sambil menggemakan takbir. Aparat berdalih tak ada senjata yang digunakan mengamankan massa. Logikanya, bukan aparat jika tak dibekali senjata dilapangan. Lantas apa yang dipegang aparat bila mengamankan jutaan massa lepas kendali?

Di sisi lain, para jendral dan mantan jendral turut terlibat membantu dua macan memperebutkan singgasananya. Misalnya Wiranto, Moeldoko, dan jendral lainnya yang berdiri dibelakang Prabowo. Peran penting mereka melahirkan kekacauan dilapangan. 

Ketiga macan masing-masing mengeluarkan pendapatnya,  BPN menyatakan tidak bertanggung jawab atas insiden itu,  TKN menyatakan belasungkawa,  dan aparat keamanan menegaskan tindakan itu sesuai SOP. Entah siapa yang benar dan salah, masing-masing mempertahankan posisinya. 

Parahnya,  tidak ada titik temu dari sikap dan argumentasi dari dua macan Jokowi-Prabowo.  Petahana 'pemenang' duduk santai diantara kelompoknya,  sedangkan petahana 'kalah' dalam kondisi beringas.  Lebih - lebih aparat membenarkan kebenaran di lapangan. 

Kalau sudah begini,  apakah jalur konstitusional mengakhiri pertarungan dua macan yang sedang bertarung? Ataukah macan ketiga yang mengakhiri pertarungan lewat hujan peluru dan hujan komando untuk kesekian kalinya. 

Kita tak menginginkan adanya korban lagi dalam Pemilu kali ini. Keberingasan tiga macan hari itu sudah cukup mencoreng wajah Indonesia yang dikenal dengan alam demokrasi bermartabat. Kalau pun situasi kacau balau ini terulang kembali, bisa dibayangkan bagaimana hancurnya negeri ini hanya karena ingin menemukan macan terakhir. 

Sebagai petarung, Jokowi-Prabowo harus menunjukkan sikap kenegarawanan di hadapan masyarakat.  Aparat harus tampil sebagai wasit dilapangan tanpa ada peluru di mana-mana. 

Kalau begini negeri kita,  betapa indahnya pemilu di Indonesia bisa menjadi wisata demokrasi masyarakat internasional. Lebih membanggakan lagi, bila TV dunia memberitakan indahnya pemilu di Indonesia, bukan tembakan aparat di mana-mana. 

Tapi belum sekarang, dua macan itu sedang memburu mangsanya untuk disantap bersama kelompoknya. Begitu juga macan ketiga lagi menanti-nanti berapa banyak mangsa yang harus diburu.