Mohon tunggu...
Muhammad Rafiq
Muhammad Rafiq Mohon Tunggu... Jurnalis - Bersahabat dengan Pikiran

Ketua Umum Badko HMI Sulteng 2018-2020 | Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako | Peminat Hukum dan Politik | Jurnalis Sulawesi Tengah

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Sudah Cukup Bicara Politik

20 April 2019   19:00 Diperbarui: 20 April 2019   19:16 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Angka fantastis itu jauh lebih tinggi bila dibandingkan prediksi New York Times yang menyatakan peluang kemenangan berada di angka 85 persen. Media lainnya seperti Bloomberg, Fox News, CBS News, dan ABC serta situs fivethirteight.com memastikan kemenangan Hillary atas Donal Trump, baik untuk popular vote maupun dalam elektoral vote. Akan tetapi, seluruh kajian, analisis dan prediksi itu meleset, dan kahirnya Hillary kalah.

Hillary tidak menyalahkan lembaga survei. Justru dengan tegar dan tersenyum mengakui kekalahannya diharapan para pendukung setia. serta menekankan pentingnya menerima hasil. Menariknya, Hillary justru menyatakan kepada pendukungnya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai peradilan yang adil, kesetaraan hak, kebebasan berekspresi, dan proses demokrasi damai.

Apa yang terjadi di Pemilu 2016 di AS, membenarkan bahwa demokrasi butuh kedewasaan dari pihak yang menang maupun kalah. Menang bukan berarti besar kepala, kalah tidak harus marah-marah.

Karena tidak selamanya yang menang itu lebih hebat secara kualifikasi teknis maupun politis. Demikian yang kalah tidak menganggap sebagai pihak yang sengaja dikalahkan hingga bertindak diluar akal sehat.

Faktanya, banyak pihak yang dulunya dianggap benar, ternyata diciduk KPK. Yang kalah pun setelah diberikan kesempatan memegang jabatan, justru sama-sama bertemu dalam penjara.  Walhasil, menang dan kalah sama-sama masuk penjara, ada juga masuk rumah sakit jiwa.

Kini, dinamika seusai Pilpres berpindah ke penantian pengumuman resmi KPU tentang siapa yang diberikan mandat rakyat memimpin Indonesia. Ketidak puasan dialamatkan kepada lembaga survei, juga kepada KPU.

Terlepas dari segala dinamika yang ada, kita perlu berbangga diri bahwa Pilpres dan Pileg 2019 berlangsung aman dan penuh suka cita. Rasa lelah terasa seperti sedang berjuang melawan penjajah.  Ada pula yang rela memberikan nyawanya demi menjaga nilai-nilai Pemilu sebagai Kelompok Penyelenggaran Pemungutan Suara (KPPS).

Disamping suka cita rakyat merayakan pesta demokrasi, media sosial diwarnai pertarungan dua kubu capres yang cukup alot dengan harapan menciptakan opini agar rakyat bisa ikut meramaikannya. Akan tetapi, faktanya rukun-rukun saja.

Memang Pilpres kita kali ini terkesan keras dan kasar. Para elit politik mendramatisasi dunia maya seakan-akan sedang berperang, Kita pun larut dalam konstruksi polarisasi yang terkesan tajam.

Lihat saja, bagaimana rakyat mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) menyalurkan hak pilihnya. Sampai-sampai, yang datang memilih tidak kebagian surat suara karena tidak terdaftar sebagai pemilih tetap. Aksi protes di Kantor KPU menggambarkan betapa berharganya satu suara untuk masa depan bangsa.

Suasana proses pencoblosan dan perhitungan suara berlangsung tanpa ada kericuhan. Entah itu pendukung 01 atau 02, sama-sama menunggu hasil perhitungan saura selesai, tidak ada bantah-bantahan atau adu jotos. Usai perhitungan suara selesai, sesekali mengajak ke warung kopi berdiskusi bersama tentang menang dan kalah. Tak dirasa waktu semakin larut, kopi segelas pun habis. Rumah jadi tempat beristirahat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun