Mohon tunggu...
Rafinita Aditia
Rafinita Aditia Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswi program Komunikasi dan Penyiaran Islam

Penapak Jenjang s1 yang masih belajar.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Seberapa Penting Skripsi di Perguruan Tinggi?

21 Juni 2019   22:55 Diperbarui: 21 Juni 2019   23:28 1277
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Skripsi sebagai syarat utama memperoleh gelar sarjana - revi.us

Skripsi merupakan salah satu tugas akhir yang menentukan layak atau tidaknya seseorang menyandang gelar sarjana. Skripsi ini merupakan sebuah karya tulis ilmiah yang didasari pada penelitian dengan menggunakan metode dan cara yang sudah terstruktur.

Sedari dulu, selalu berkembang anggapan bahwa skripsi ini sangat menentukan masa depan mahasiswa. Namun nyatanya, skripsi sekarang hanya dijadikan formalitas belaka. Bahkan sejak tahun 2015, Menristek dan Pendidikan Tinggi sudah memiliki wacana untuk menghapuskan skripsi. Hal ini dilakukan karena maraknya sistem jual-beli skripsi ataupun copy-paste skripsi.

Tidak semua orang yang menyandang gelar mahasiswa memiliki bakat dalam membuat skripsi ini. Namun tetap harus menyelesaikannya karena merupakan syarat utama kelulusan. Oleh karenanya, jasa pembuat skripsi sangat laris dan diminati. Hasilnya adalah, banyak mahasiswa yang lulus tanpa memiliki pengetahuan yang cukup, bahkan ada yang sama sekali tidak mengerti tentang apa yang dibahas dalam skripsinya.

Tak jarang pula kita temukan, ada mahasiswa yang mengerjakan skripsi bukan karena minatnya, melainkan karena tuntutan dari dosen pengajar. Karena apa yang diminati mahasiswa dipandang tak layak untuk dijadikan penelitian, maka dosen pun biasanya memberikan pilihan yang terkadang bukan pada basic sang mahasiswa. Namun mahasiswa lebih memilih apa yang disarankan sang dosen, agar nilainya bisa aman. Ia tidak lagi memikirkan apakah skripsi itu sesuai dengan minatnya atau tidak.

Selain hanya sebagai formalitas belaka, dibuat dengan menggunkan jasa pembuatan skripsi, dan dibuat hanya karena tuntutan dosen, skripsi juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Beberapa kali mahasiswa harus mencetak ulang skripsi yang harus di revisi. Biaya mencetak skripsi, mencetak hasil revisi, menjilid, mengcopy, dan masih banyak lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan karya tulis ini. Biaya tersebut tidak bisa dikatakan murah bagi kalangan mahasiswa.

Pada tahun 2013 lalu, di UIN Ar Raniry Banda Aceh, pernah ditemukan kasus pembakaran skripsi mahasiswa oleh pihak fakultas. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa skripsi bukanlah pilihan terbaik untuk menentukan lulus atau tidaknya mahasiswa menjadi sarjana, karena hasil berupa skripsi itupun bisa dibakar dan dibuang dengan mudahnya oleh pihak perguruan tinggi. Lengkapnya bisa baca di sini.

Senada dengan hal itu, di tahun 2015, pernah pula ditemukan foto ribuan skripsi yang dibuang oleh salah satu pihak kampus di Makassar. Skripsi-skripsi itu pun akhirnya dimasukkan ke dalam karung dan kemudian dibawa menggunakan mobil rongsokan. Tentu saja hal ini semakin membuat mahasiswa tidak bersemangat untuk menyelesaikan skripsinya. Lengkapnya bisa baca di sini.

Selain itu, skripsi juga tidak pernah dijadikan tolak ukur ketika ingin melamar pekerjaan. Biasanya pengalaman organisasi dan kemampuan terhadap suatu bidang lebih diutamakan ketimbang hasil karya tulis berupa skripsi. Hasilnya, skripsi yang mati-matian dibuat oleh mahasiswa, akhirnya hanya digunakan sebagai kartu agar bisa lulus menjadi seorang sarjana. Dan setelah lulus menjadi seoarng sarjana, kartu itu bisa di buang kapanpun, karena memang tak lagi bisa digunakan.

Pemerintah seharusnya lebih memberi perhatian agar permasalahan tentang skripsi ini dapat menemukan titik terang. Pemerintah memiliki kekuasaan yang sangat besar, sehingga kebijakan yang dibuat oleh pemerintah akan lebih berpengaruh dan terasa efeknya oleh mahasiswa.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindari pembuatan skripsi sebagai tolak ukur kelulusan mahasiswa yaitu dengan membuat program lain selain skripsi, yang dapat memberikan ilmu lebih langsung kepada mahasiswa, sesuai dangan program studi serta minat dan bakat yang dimiliki. 

Misalnya dengan lebih mengedepankan PPL dibandingkan skripsi. PPL akan menjadi saran penyalur bakat dan pengasahan kemampuan mahasiswa, karena ketika PPL mahasiswa memang dihadapkan langsung dengan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan program studi yang diambil.

Selain itu, pemerintah juga harus mengambil langkah tegas untuk memberikan efek jera kepada para calo yang menyediakan jasa jual-beli skripsi maupun copy-paste skripsi. Seharusnya, para calo itu melakukan hal tersebut secara sembunyi-sembunyi, namun nyatanya iklan tentang jual-beli skripsi dan copy-paste skripsi ini bisa ditemukan dengan mudah di sekitaran kampus, baik dalam bentuk brosur, iklan, poster, dan masih banyak lagi. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak memberikan efek hukuman kepada para calo skripsi.

Pihak perguruan tinggi juga harus melakukan pengawasan serta memberikan pengarahan kepada dosen dosen yang ada agar lebih membimbing mahasiswa ketika menyusun skripsi, bukan memaksakan mahasiswa mengerjakan skripsi sesuai dengan minat dan bakat mereka. Karena setiap mahasiswa tentu saja memiliki minat yang berbeda-beda. Tidak bisa selalu disamakan. 

Pihak perguruan tinggi juga bisa membantu program pemerintah dan pengedepanan PPL dibandingkan skripsi tadi. Jangan sampai mahasiswa yang lulus, malah hanya menajdi robot yang tidak tahu apa-apa selain diperintah.

Mahasiswa juga seharusnya lebih berfikir kritis tentang fenomena skripsi ini. Jangan hanya dijadikan domba gembala yang selalu dituntun dan diberikan arahan baru bergerak. Mahasiswa adalah agen perubahan yang peka terhadap lingkungannya. 

Ketika skripsi ini dianggap penting sebagai salah satu syarat kelulusan menjadi seorang sarjana, memang sah-sah saja, asalkan memang benar-benar sesuai dengan minat dan bakat mahasiswa serta dapat digunakan ketika ingin melamar pekerjaan. Namun ketika skripsi sekarang hanya sebagai formalitas belaka, mahasiswa harus mampu bersuara dan meminta pertanggung jawaban kepada perguruan tinggi atas seberapa pentingkah skripsi itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun