Mohon tunggu...
M RafidhanHindani
M RafidhanHindani Mohon Tunggu... Istiqomah dijalan Allah

Aktif dan kritis namun tidak anarkis

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Aliansi BEM Jakarta yang Keblinger

6 April 2020   16:34 Diperbarui: 6 April 2020   16:39 86 0 0 Mohon Tunggu...

“ oleh : M Rafidhan Hindani."

Melihat situasi di Indonesia kini sangat genting akibat mewabahnya virus corona atau Covid-19, membuat semua elemen dalam masyarakat bergerak untuk bersama-sama melawan virus covid-19 ini. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, ormas-ormas dan seluruh elemen masyarakat bersatu melawan virus ini.

Walau dalam praktiknya, penangananan yang diberikan oleh pemerintah belum maksimal dan malah banyak membuat sebuah kebijakan yang keblinger dalam menangani kasus covid-19 ini pertama beberapa waktu lalu DPR kembali membuat kegiatan yang kontroversi yaitu dengan mengadakan sidang mengenai tindak lanjut penetapan RKUHP dan RUU omnibuslaw yang masuk dalam agenda baleg. 

Serta kesimpang-siuran antara ucapan presiden, menteri dan wakil presiden dalam menetapkan situasi mudik lebaran dalam era pandemic covid-19 ini. ditambah lagi keputusan presiden yang mengeluarkan kebijakan darurat sipil. Hal ini perlu kita kaji dan kita kawal selalu penetapan dan penerapan kebijakanya.  Karena jangan sampai rakyat menjadi gaduh karena kebijakan dan penanganan pemerintah yang tidak tegas dan cenderung membuat rakyat sengsara.

Tetapi diluar dari hal yang keblinger itu, ada hal yang sangat lebih memalukan  yaitu dengan  adanya seorang mahasiswa dari kelompok yang menamakan diri aliansi BEM Jakarta melakukan sebuah conference pers dengan melontarkan sebuah narasi kritik yang ditujukan kepada pemrov DKI.  

Yaitu sebuah  kritik terhadap  pihak-pihak yang menimbun APD, kemudian meminta keseriuasan Anies dalam memberantas virus ini, dan mengkritik startegi pemrov DKI dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dengan terus memberdayakan UMKM. Tetapi ada satu kritik yang sangat miris dilontarkan oleh saudara Yazid-Al Bustomi, seorang Presma BEM Stikes Binawan.

Dia mengatakan bahwa fasilitas hotel bintang lima untuk tim medis sangat berlebihan. Mendengar pernyataan ini, saya justru mempertanyakan kapabilitas dan inetegritas dia sebagai seorang presiden mahasiswa yang seharusnya memiliki wawasan dan daya kritis yang baik sebagai seorang yang diamanahkan oleh rekan-rekan mahasiswa dikampusnya.

Pertama, dalam menyikapi pendapatnya tersebut saya melihat bahwa saudara Yazid belum memahami aspek keselamatan yang maksimal yang harus didapat oleh tim medis tersebut. Bagaimana bisa seorang dokter dan tim medis dapat melayani dengan maksimal jika kurang mendapatkan fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan dan keselamatan dirinya selama masa pandemic covid-19 ini. Bisa dibayangkan jika APD sulit dan kualitas diri dokter dan tim medis lainya tidak terpenuhi dengan baik akibatnya  akan banyak korban dari pihak tenaga medis yang berjatuhan. 

Kedua pernyataan dari aliansi BEM ini bersifat politis dan sama sekali tidak memberi solusi yang nyata. Karena apa yang mereka paparkan terkesan mendeskriditkan pemprov DKI, dengan sebuah narasi kritik yang tidak berbobot dan cenderung provokatif. Dan ketiga karya nyata yang dilakukan oleh pihak aliansi mahasiswa tersebut sudah dilakukan atau belum. Jangan sampai aksi ini menimbulkan kegaduhan dimasyarakat dan berpotensi menimbulka situasi yang tidak kondusif. Saran saya lebih baik aliansi mahasiswa ini melakukan sebuah aksi nyata dalam upaya penanggulangan covid-19 ini. Sperti galang donasi untuk menambah peralatan APD yang dibutuhkan para tim medis dan lainya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x