Mohon tunggu...
Wen Simahgoda
Wen Simahgoda Mohon Tunggu... gayo takengon

Mengilmui Diri : Jangan Lupa Menjadi Manusia

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Persoalan Murid yang Masih Berburu Angka

3 Maret 2019   10:55 Diperbarui: 3 Maret 2019   11:43 48 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Persoalan Murid yang Masih Berburu Angka
Dokpri: angka bukan tolak ukur, kemanusiaan tidak sesempit perolehan angka. dokpri

Penghargaan terbaik kepada murid adalah menghargai perilakunya secara menyeluruh. Bukan hanya dari satu perspektif semata. Penghargaan dinamis atau penghargaan yang menyentuh aspek-aspek kehidupan murid akan lebih subjektif serta manusiawi. 

Adapun penghargaan dari capaian nilai angka tidak ada salahnya juga, namun menyoal kehidupan murid yang begitu kompleks, maka merujuk kepada capaian angka semata sepertinya bukanlah tindakan yang bijaksana.

Adalah lumrah bagi murid, ketika mendapatkan angka tinggi akan merasa senang dan akan merasa sedih bila mendapatkan angka rendah. Umumnya dalam dunia anak, tinggi rendahnya angka yang diperoleh akan sangat berdampak pada beberapa aspek kehidupannya seperti mempengaruhi motivasi belajar dan sikap kompetitif. Bahkan berkemungkinan pula berdampak negatif terhadap kejiwaannya dalam hal belajar.

Apabila murid hanya berputar-putar pada domain angka saja maka murid tersebut akan terfokus pada hasil semata dan mengabaikan prosesnya. Seperti kita ketahui bersama bahwa pengaruh "proses belajar" juga berperan besar dalam evaluasi disamping "hasil belajar". 

Pada "proses belajar" kita dapat amati perilaku alami murid. Seperti antusiasnya dalam belajar, rasa hormat kepada guru, kedisiplian di sekolah dan banyak lagi hal-hal lain.  Sementara itu pada "hasil belajar" kita sering temui kejanggalan atau tepatnya berpotensi hadirnya kejanggalan. 

Selain itu durasi penilaian yang singkat dan terikat ruang dan waktu terkesan akan menyeting kejiwaan murid. Yang namanya murid kalau sudah diseting tentu murid akan pasang perilaku terbaiknya. Ini tidak sepenuhnya benar namun ada peluang untuk hal semacam itu disekolah.

Kembali pada pembicaraan dimuka tadi, menyoal kehidupan murid yang begitu kompleks ini artinya kita membicarakan murid berangkat dari sudut pandang yang lebih berdinamika, seperti dari ajaran agama, kemanusiaan, negara dan hal-hal yang ada didalamnya. 

Disinilah nantinya kita akan dihadapkan kepada pembicaraan mengenai manusia yang lebih esensial seperti akhlak, Tuhan, kedamaian, rasa cinta kepada alam dan hal-hal dalam jiwa manusia.

Lau apa dampak dari perburuan angka semata, tentu fenomena saat ini menjawabnya secara nyata. Sangat sering kita temui anak sekolah yang nilainya tinggi ternyata tidak disertai dengan perilakunya yang baik. 

Ada yang peringkatnya dirapor tinggi, namun dalam kehidupannya sehari-hari belum ada etikanya, seperti tidak sopan kepada orang yang lebih tua, buang sampah sembarangan dan lain-lain. Pada mahasiswa misal, yang memiliki IPK tinggi belum sepenuhnya bermanfaat bagi masarakat dan malah sebaliknya oknum mahasiswa malah membodoh-bodohi masyarakat dengan ilmunya.

Kedepannya guru, lembaga pendidikan secara kelembagaan dipandang perlu menjelaskan kepada murid-murid terkait dalam keadaan yang bagaimana nilai, perangkingan, tinggi rendahnya nilai itu digunakan. Memang hal ini pasti akan mengalami kendala, karena merubah kebiasaan anak-anak cukup rumit, apalagi pada jenjang atau seumuran sekolah dasar sederajat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN