Mohon tunggu...
Wen Simahgoda
Wen Simahgoda Mohon Tunggu... gayo takengon

Mengilmui Diri : Jangan Lupa Menjadi Manusia

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kini, Baik Tidaknya Seseorang Tergantung Capres yang Didukung

25 Februari 2019   16:38 Diperbarui: 25 Februari 2019   17:16 92 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kini, Baik Tidaknya Seseorang Tergantung Capres yang Didukung
Dokpri: saat ini indikator baik-buruknya seseorang adalah siapa yang didukung

Amat banyak persoalan  politik di indonesia yang dimaknai keliru oleh masyarakat. Kekeliruan ini tampak jelas  bila didasarkan pada studi dasar kemanusiaan. Akibatnya, seolah-olah ada indikator baru yang wajib digunakan sebagai dasar mementukan baik-tidaknya sesuatu. Sayangnya indikator ini sudah begitu sakral sehingga untuk persoalan esensi kemanusiaanpun wajib mengikuti indikator ini.

Tak terpungkiri, saat ini kita sebagai WNI sedang didebarkan oleh dinamika demokrasi yang didalamnya syarat nuansa kompetisi. Kalau boleh diumpamakan, sekarang kita sedang terlibat dan memang harus terlibat dalam pertandingan untuk memperebutkan kejuaraan. 

Saking gencarnya, persoalan kejuaraan pun tidak lagi diperebutkan tapi malah diributkan oleh sebagian pihak. Berbicara juara artinya berbicara kekalahan dan kemengan. Adapun pemaknaan atas kejuaraan ini kembali pada manusianya, disitu nanti akan timbul sikap keagamaan, kebangsaan dan hal-hal lainya menyangkut kehidupan manusia.

Saat ini apapun tindakan kita, hal fundamental yang disinggung adalah  "dukung Siapa". Kalau kita jawab capres A maka akan hadir hukum atau rekonstruksi hukum untuk itu, demikian pula kalau kita jawab Capres B maka kejadiannya sama, kita juga akan ditimpai hukum-hukum baru. 

Pada titik tertinggi nantinya kita akan divonis "kamu tidak baik", "kamu baik", atau berbicara dari konteks agamanya akan terjadi pemusliman atau pengkafiran. Kita akan dikatai  "kamu kafir",  "kamu muslim" dan dakwaan-dakwaan spontan lainnya. Bagaimana tidak resah, kemusliman dan kekafiran kitapun berasas pada formulasi 'kamu Dukung Siapa'.

Bicara esensi kemanusiaan apalagi mengkaji baik-buruknya sikap dan tindakan manusia adalah butuh berbagai hal yang komprehensif. Bicara sisi ruh dan kejiwaan manusia misal, Kita akan dihadapkan  pada hal yang ghaib atau mengarah pada pembicaraan keagamaan seperti Tuhan, takdir, dan tentang hari kiamat. 

Dari sudut kebangsaan misal, kita akan berbicara pemerintahan, UUD, pancasila atau pemaknaannya dan hal kenegaraan, belum lagi masyarakatnya dan aturan yang ada didalamnya.

Dalam mendukung Paslon A tau B, Kita boleh mengkonversi makna kedalam bentuk apapun sesuai potensi akal, ideologi dan keilmuan kita, tetapi kalau sudah menyinggung persoalan baik-buruk manusia ini saya kira sudah kepada persoalan yang amat tinggi dan rumit sekali dimana indikator yang kita pakai hanya dengan formula "Dukung Siapa" semata.

Mari kita membicarakan kebaikan-keburukan manusia dengan lebih adil dan bijaksana. Bila kita sudah menyinggung persoalan kebaikan dan keburukan manusia maka jangan setengah-setengah. Artinya masing-masing kita juga harus mengkaji kebaikan dan keburukan kita sendiri, kebaikan dan keburukan pihak kita sendiri. Cara seperti ini akan lebih esensial dan substantif.

Kita semua adalah WNI dan tentunya kita adalah bersaudara. Bila benar-benar memasuki hakikat ke-WNI-an kita, maka tidak seharusnya kita Salih memburukkan satu sama lain. 

Kita jangan sampai keliru memahami kompetisi pilpres ini. bila keliru, maka akan banyak permasalahan antar kita, lebih-lebih masing-masing pendukung. Apa mungkin nanti yang tidak mendukung capres A harus diusir dari indonesia, atau yang dukung capres B dapat perhatian lebih dari pemerintah? Inilah nanti poin-poin yang akan terjadi jika kompetisi ini dimaknai keliru. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN