Mohon tunggu...
Raden Rachmadi
Raden Rachmadi Mohon Tunggu... Menulis, adventure

Hobby menulis dan adventure

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

AS Mengapitalisasi Hubungan Panasnya dengan Iran?

17 Januari 2020   22:15 Diperbarui: 17 Januari 2020   22:20 56 0 0 Mohon Tunggu...

Buntut panjang usai pembunuhan Komandan Pasukan Quds Jenderal Qassem Soleimani beberapa waktu lalu, masih belum habis. Sejumlah aktivis telah turun ke jalan menentang kemungkinan adanya perang antara dua pemerintahan yang telah berseteru puluhan tahun itu.

Kabar terbarun menyebutkan bahwa Pemerintah Trump telah memetik keuntungan dari ketegangannya dengan Iran. Pekan lalu Presiden Donald Trump kepada Fox News, seperti yang dikutip oleh KOMPAS.com, mengaku telah mendapat uang deposit dari Pemerintah Arab Saudi sebesar US$ 1 milyar. Jika dikurskan dalam rupiah, kurang lebih Rp 13,6 trilyun. 

Tentu saja, Arab Saudi bukan sedang bersedekah kepada negeri paman sam tersebut. Itu adalah anggaran agar Amerika tetap mau menempatkan pasukannya di Arab Saudi. KOMPAS juga menyebutkan bahwa uang yang digelontorkan ke Amerika Serikat untuk ongkos penempatan serdadu, bukan kali ini saja.

Pada era perang teluk yang meledak pada 2 Agustus 1990 dan berakhir pada 28 Februari 28 Februari 1991, Arab Saudi dan sejumlah negara timur-tengah, setor uang sebanyak US$ 36 milyar, atau setara Rp 491,4 trilyun. 

Terkait ketegangan Iran dan Amerika yang terbaru, dikabarkan bahwa Arab Saudi telah menggelontorkan persekot atau panjar sebanyak US$ 500 juta atau setara dengan Rp 6,8 trilyun. Kocek sebanyak itu, digunakan AS untuk operasional para serdadunya di Arab Saudi. Selain itu, juga digunakan untuk biaya pergerakan pasukan tempur dan rudal patriot.

Jika demikian kabarnya, apakah keliru jika publik menyatakan bahwa serangan ke Iran yang menewaskan Jenderal Qassem Soleimani adalah agenda setting AS untuk mengkapitalisasi kocek dari Arab Saudi? Meski mungkin AS akan terang-terangan membantah tudingan tersebut, namun kabar tentang milyaran dollar disetor ke brankasnya, justru semakin membenarkan anggapan publik.

Ada kemungkinan, sejumlah negara arab  yang satu sekutu, juga akan berbuat, seperti yang dilakukan Arab Saudi. Ini sangat tergantung eskalasi ketegangan dengan Iran.   Suriah, untuk menyebut selain Iran, telah menjadi alasan bagi AS tetap membuat ikatan ketergantungan Arab Saudi dan kawan-kawan, semakin absolut. 

Beberapa negara di jazirah Arab merasa keberadaan AS bisa mengurangi pengaruh Iran dan mitra koalisinya (Suriah, Libanon, dan Yaman) yang dikhawatirkan bisa jadi ekspansif, seperti yang terjadi pada era Sadam Husain menguasai Kuwait, yang menyebabkan perang teluk.

Pengaruh ekspansif Iran, bisa jadi bukan isapan jempol. Saat Sadam Husain terguling sebagai Presiden Irak, pengaruh provinsi-provinsi yang berhaluan syiah, mendominasi.

Tak heran jika Perdana Menteri ad interim Adel Abdul Mahdi terpilih.  Dia diduga dapat sokongan dari Iran. Tetu saja, ini mengkhawatirkan koalisi Arab Saudi  yang terdiri dari Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA); serta poros Turki-Qatar. 

Dalam situasi seperti itu, Amerika Serikatlah yang datang jadi juru selamat. Tapi, pepatah klasik mengatakan, tak ada makan siang yang gratis. Washington tanpa malu-malu meminta bayaran atas bantuan militer yang  mereka turunkan di sana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN