Rachmat Willy
Rachmat Willy karyawan swasta

Menikmati hidup dengan membaca, menulis, dan ngeblog. Follow saya di @RachmatWilly pasti di follback.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Promosi LGBT dalam Serial Televisi dan Kisah Negeri Pelangi Kita

15 Juli 2017   17:20 Diperbarui: 16 Juli 2017   09:38 1903 4 7
Promosi LGBT dalam Serial Televisi dan Kisah Negeri Pelangi Kita
Serial TV Supergirl. Sumber gambar: dc.wikia.com

Selesai sudah saya menonton habis serial televisi Supergirl season 2 (musim kedua). Menarik dan menyenangkan. Terutama melihat tokoh utamanya yang diperankan secara sungguh-sungguh oleh Melissa Benoist. Wajahnya yang lugu tapi tak belagu itu benar-benar mendukung peran yang dibawakannya. 

Yang tak kalah menarik, adalah apa yang terjadi pada saudara tiri atau kakak dari Supergirl yaitu Alex Danvers. Yup, buat yang belum tahu, dalam serial Supergirl yang paling baru ini dikisahkan bahwa Supergirl dalam kesehariannya menggunakan nama Kara Danvers dan mempunyai saudara tiri (atau saudari tiri) bernama Alex Danvers.

Apa yang menarik dari seorang Alex Danvers? Ternyata pada musim kedua (season 2) ini dia bergumul dengan identitas dirinya. Identitas untuk menjadi seorang yang "straight" atau menjadi penyuka sesama jenis. Dan, betul sekali, akhirnya dia memutuskan menjadi penyuka sesama jenis dan mencintai seorang detektif perempuan bernama Maggie Sawyer.

Kebetulan, saya adalah penggemar serial televisi. Di waktu senggang dan kala tidak tahu harus mengerjakan apa atau kalau memang waktu luang yang tersedia sangat banyak, ketimbang tidur saya lebih memilih menonton serial televisi secara marathon. Apalagi kalau serial televisinya adalah tentang superhero. 

Rasanya lebih puas menonton serial televisi daripada versi singkatnya yang ditayangkan di bioskop. Nah, karena menggemari berbagai serial televisi tentang superhero ini, maka saya menemukan bahwa pola promosi penyuka sejenis juga terjadi di beberapa serial televisi bertajuk superhero lainnya. Oh iya, istilah penyuka sejenis sepertinya tidak tepat. Terasa sangat memojokkan karena ada juga kelompok yang tak hanya penyuka sejenis tapi kedua-duanya. Untuk itu istilah LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) lebih tepat.

Serial televisi bertajuk superhero apa saja yang memuat promosi LGBT ini? Mari kita lihat eh.. baca dan simak satu persatu. Seperti kita ketahui jagad superhero di dunia ini seolah hanya milik dua kubu besar yaitu DC Comics dan Marvel. Sudahlah. Bukan persaingan mereka yang akan kita bahas saat ini. Sekarang yang kita bahas promosi LGBT-nya saja. 

Pertama, kita mulai dengan Marvel. Ada serial televisi Jessica Jones, buat yang belum tahu, Jessica Jones adalah seorang perempuan muda yang mempunyai kekuatan luar biasa. Kalau ikut olimpiade bisa menang medali emas dalam cabang angkat berat. Pada serial ini, bisa kita temukan hubungan khusus antara Jeri-Hogarth (diperankan oleh aktris film Matrix, Carrie-Anne Mos) dan Wendy Ross, sekretarisnya. Jerry adalah orang yang sering mempekerjakan Jessica untuk menangani beberapa kasus. Dalam episode 1 hal ini sudah ditunjukkan. Bahkan di episode itu pula Jerry ternyata berselingkuh dengan Pam (tetap dengan sesama perempuan).

Selanjutnya, ada serial televisi Agents of Shield yang merupakan buntut suksesnya waralaba Avengers. Dalam serial ini bisa kita temukan Joey Gutierrez, seorang meta-human atau in-human atau apapun namanya, yang memiliki kekuatan melelehkan logam. Joey, dalam kisah ini menjalin hubungan sejenis dengan seseorang. Saya lupa namanya, nanti saya tonton lagi kalau sempat.

Cukup dengan Marvel, sekarang kita lihat serial televisi superhero besutan DC Comics. Ada serial yang menjadi favorit saya yaitu The Flash. Sayang, akhir musim ketiganya (season 3) agak mengecewakan. Sepertinya serial ini akan di-freeze sementara sambil menunggu serial Black Lightning keluar. Lho, kok malah bahas yang lain. 

Yuk fokus.. Nah, dalam serial ini, sang kapten di markas polisi dimana Barry Allen (The Flash) bekerja yaitu kapten David Singh adalah penyuka sesama jenis yang menjalin hubungan dengan seorang lelaki bernama Rob. Bukan hanya dalam serial The Flash, serial Arrow yang sudah cukup lama tayang juga akhirnya menampilkan promosi LGBT melalui peran yang dimainkan oleh Curtis Holt dan Paul pada musim keempat (season 4). 

Curtis dan Paul adalah pasangan sejenis yang pada akhirnya bergabung dalam tim Arrow untuk turut serta menumpas kejahatan. Selain itu, masih dalam Arrow, ada Sara Lance dan Nyssa al Ghul. Sara Lance adalah adik dari Black Canary dan Nyssa adalah putri dari ketua komplotan pembunuh bayaran terkenal di dunia Ra's al Ghul. Komplotan itu sendiri bernama League of Assasins. Komplotan ini konon menerima order atau menyediakan jasa pesanan pembunuhan jika dibutuhkan. Kalau ini bukan sekedar fiksi, boleh juga disewa untuk tim angket... ah sudahlah.

Ternyata fenomena ini juga terjadi di berbagai serial televisi lainnya. Kebetulan saya juga sedang menunggu Game of Thrones musim berikutnya (anda juga ya?) dan The Walking Dead musim berikutnya pula. Kalau diperhatikan dengan baik, promosi LGBT dapat pula kita temukan di kedua serial televisi itu. 

Kisah hubungan sejenis antara pangeran kerajaan dengan pacar laki-lakinya yang berbuah pada penuntutan oleh kelompok agamis berjubah dapat kita jumpai di Game of Thrones. Lain lagi di The Walking Dead. Bayangkan, kisah cinta yang heroik terjadi antar sesama jenis (sesama laki-laki maupun sesama perempuan) di tengah-tengah kejaran zombie. Mantap! Walau keduanya berakhir tragis dengan tewasnya pasangan salah satu tokohnya.

Melihat fenomena di atas, saya jadi bertanya-tanya. Apa perlunya promosi LGBT? Mengapa dilakukan secara masif bahkan merambah ke tontonan publik? Haruskah LGBT diperkenalkan secara luas dengan memanfaatkan media film atau serial televisi?

Untuk menjawabnya, mari kita lihat sekilas fenomena LGBT di Indonesia. Masih ingat tentang pesta seks kaum gay yang digerebek pada bulan Mei di kawasan Kelapa Gading? Apakah mereka ditangkap karena gay atau karena menggunakan obat-obat terlarang? Atau karena pesta seks-nya mungkin? Yang jelas, semua pelaku diciduk dan diamankan ke kantor polisi. 

Beberapa foto saat penangkapan bahkan bisa beredar luas dimasyarakat sehingga wajah pelakunya diketahui oleh banyak orang. Okelah, anggap saja itu kesalahan mereka karena salah satu unsur kriminalnya jelas yaitu penggunaan obat-obatan terlarang. Kita tutup kasusnya sampai di situ.

Sekarang kita beranjak ke hal lain, bagaimana situasi LGBT di Indonesia? Apakah aman-aman saja atau bagaimana? Infografis yang ditampilkan di web Jakarta Post yang dilakukan risetnya oleh Arus Pelangi ternyata menampilkan data yang cukup menyedihkan. Sebanyak 89.3% LGBT di Indonesia ternyata mengalami kekerasan. 

Baik itu kekerasan fisik, psikologis, seksual, ekonomi, bahkan kekerasan budaya. Kekerasan psikologis justru banyak dilakukan oleh keluarga dan waria ternyata adalah kelompok yang paling menderita oleh kekerasan seksual. Wow! Menyedihkan sekali kehidupan LGBT di Indonesia. Belum lagi kalau bicara masalah pengakuan identitas. Perempuan? Laki-laki? Atau..???

Sumber infografis: thejakartapost.com
Sumber infografis: thejakartapost.com

Padahal khasanah Nusantara memiliki cerita tersendiri tentang LGBT. Menurut penelitian Graham, misalnya, di suku Bugis ada 5 (lima) gender. Yang menarik adalah gender Bissu sebagai pelaku ritual yang menghubungkan anggota suku dengan para dewa. Seorang yang terpilih menjadi Bissu biasanya diawali dengan adanya penampakan jenis kelamin yang ambigu pada saat dia lahir. Bissu digambarkan sebagai orang yang sakti dan bahkan dianggap kebal terhadap senjata. 

Penelitian lain, Sunardi, mencoba melihat fenomena gandrung lanang di Banyuwangi. Untuk fenomena yang satu ini saya belum mendapatkan hubungannya dengan LGBT. Yang saya tahu, dulu itu pemainnya semua laki-laki dan seseorang bernama Marsan konon katanya adalah penari gandrung lanang yang paling terkenal. 

Cerita lainnya yang berujung papa adalah kisah penutupan salah satu pesantren waria yang diteliti Knight di Jogja bernama Pesantren Al-Fatah. Ini adalah pesantren yang katanya dikhususkan untuk waria. Di sini mereka bisa beribadah mendekatkan diri pada sang Khalik yang sebenarnya menerima mereka apa adanya.

Ada pula cerita sedih tentang hukuman seratus cambukan jika disertai bukti adanya hubungan sejenis dan 80 cambukan jika bukti yang ditemukan tidak kuat yang terjadi di salah satu daerah di ujung Barat Nusantara. Hanya beda 20 cambukan antara dugaan dan kenyataan. Belum lagi kisah penutupan media sosial Tumblr karena dianggap mengandung unsur pornografi dan promosi LGBT. 

Jadi, kalau ada dua hal itu langsung ditutup, tapi kalau hanya pornografi saja mungkin masih pikir-pikir dulu untuk menutup. Salah satu rumor bahkan terdengar agak sadis, situs yang memuat pornografi konon katanya masih dibutuhkan untuk sekedar menghabiskan bonus-bonus kuota. Mudah-mudahan ini hanya sebatas rumor saja.

Padahal katanya Pancasila menaungi seluruh warga Indonesia untuk memperoleh hak-haknya sebagai manusia. Sebagai rakyat Indonesia. Saya Pancasila. Saya Indonesia. Artinya, para pendiri bangsa ini dari jauh-jauh hari sudah bisa meramalkan bahwa kemajemukan Indonesia tidak lagi sebatas melting pot kesukuan semata. Ada banyak kemajemukan lain. Harusnya, pesan Bhinneka Tunggal Ika makin dalam merasuk ke sendi-sendi bangsa ini. Harusnya, dengan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia adalah negara pertama yang menjadi Rainbow Nation atau Negeri Pelangi. Apa itu?

Rainbow Nation atau Negeri Pelangi adalah istilah yang pertama kali dikemukakan oleh Desmon Tutu, seorang rohaniawan untuk menggambarkan kondisi Afrika Selatan pasca berakhirnya politik apartheid. Lebih tepatnya setelah berlangsungnya pemilihan demokratis yang pertama di Afrika Selatan pada tahun 1994. 

Konstitusi mereka pun berubah menjadi konstitusi yang paling liberal dan progresif di dunia. Kalimat kuncinya adalah "respect, protect, promote and fulfil" yang berlaku bagi semua orang tanpa mempertimbangkan jenis kelamin, ras, situasi sosial, atau orientasi seksual. Artinya, keberagaman itu dihargai tanpa harus memperhatikan hal-hal yang membedakan satu sama lain. Apa bedanya dengan kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Bendera pelangi yang sering digunakan sebagai simbol dukungan terhadap LGBT. Sumber: mashable.com
Bendera pelangi yang sering digunakan sebagai simbol dukungan terhadap LGBT. Sumber: mashable.com

Konstitusi yang dipunyai Indonesia juga terbukti mendukung ciri khas Negeri Pelangi dengan menjamin 40 hak konstitusional warga negara Indonesia (WNI)yang terbagi dalam 14 rumpun hak (Pasal 28 A hingga 28 J pasca amandemen) antara lain: hak atas kemerdekaan pikiran dan kebebasan memilih dan hak bebas dari ancaman, diskriminasi, dan kekerasan.

Namun apa yang terjadi? Kita bisa melihat situasi pasca sidang kasus dugaan penodaan agama, misalnya, atau suasana politik menjelang pilkada yang dihubung-hubungkan dengan agama dan golongan tertentu, atau situasi lainnya. Ternyata menjadi warga negara Indonesia itu masih sulit. Masih harus dipantau terus penjaminan pemenuhan hak-haknya. 

Masih perlu peningkatan kesadaran bahwa Indonesia ini adalah milik semua dan akan menjadi maju kalau saling menghargai atas hak-hak yang dimiliki masing-masing itu dijalankan dengan baik. Masih perlu belajar banyak dari negara semacam Afrika Selatan atau negara lainnya walau jelas-jelas secara teoritis kita jauh lebih baik. 

Kembali ke serial televisi, saya pribadi mendukung LGBT untuk memperoleh hak-haknya sebagai manusia, sebagai rakyat Indonesia (jika mereka memang terdata sebagai warga negara Indonesia). Artinya, tak ada pengecualian dalam segala hak sebagai warga negara dan kewajiban sebagai warga negara. Bahkan saya mendukung jika kelak ada calon pemimpin wilayah berasal dari kelompok LGBT. Siapa tahu mereka lebih bersih dari korupsi (baca: maling) daripada banyak para pemimpin daerah yang berkategori "normal" tapi tetap korupsi.

Yang saya tidak dukung adalah promosi yang berlebihan tentang LGBT. Kita tahu LGBT itu ada di sekitar kita. Bukan baru. Sudah sejak lama. Sampai kapanpun akan tetap ada. Namun, mempromosikan LGBT via berbagai media secara masif akan memicu kebosanan dan semakin meningkatkan rasa antipati dari kelompok yang sejak awal menentang LGBT. Bukankah dalam teori komunikasi dikatakan bahwa penyampaian pesan yang efektif adalah dengan memberikan dosis pesan yang tepat dan pada situasi yang tepat pula? Jangan tanya saya ini teori siapa. Saya lupa.

Yang dibutuhkan adalah meningkatkan peran kelompok pendukung (support group). Hal ini mungkin baru di Indonesia. Mungkin curhat dengan teman oke-oke saja, tapi dukungan kelompok terbukti meningkatkan percaya diri lebih baik. Ini yang sebenarnya harus disosialisasikan dengan luas dan lugas.

Tiba-tiba saya teringat akan transgender Wonder Woman yang cantik asal Thailand. Foto-fotonya sangat apik dan menarik. Awalnya, tak ada yang mengira kalau dia adalah seorang transgender. Saya scroll ke bawah untuk melihat kolom komentar. Ada yang menulis di kolom komentar "makanya jangan asal serudak-seruduk di Thailand tau-tau dapatnya ... (titik-titik)". Dia pikir, segampang itukah transgender tertarik dengan seseorang? Ketika dilihat gambar profilnya, sudah dapat diduga, terlihat agamis sekali dengan jubah dan rias kepala warna putih. Lagi dan lagi.

Indonesia punya perangkat keberagaman yang jelas sekali sangat baik (Pancasila, Undang-Undang Dasar, dan lain-lain). Situasinya yang berbeda. Bukan situasi yang dibangun dari perangkatnya. Perangkat itu tidak digunakan dan bahkan disengaja disalah-artikan oleh kelompok-kelompok tertentu. 

Sudah saatnya bangsa ini kembali ke kearifan masa lampau dimana ada suatu negeri dimana penduduknya ramah-tamah dan tepa-selira. Negeri dimana semua perbedaan dihargai dan menjadi alat pemersatu dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Namun, kalau semua itu tidak dilakukan, nyatalah sudah bahwa negeri ini memang masih jauh dari menjadi Negeri Pelangi.