Wisata

Al-Islahuddiny : Dari Tekanan Kolonial Hingga Semangat Pluralisme Lokal

15 Juni 2017   17:07 Diperbarui: 15 Juni 2017   17:39 273 0 0
Al-Islahuddiny : Dari Tekanan Kolonial Hingga Semangat Pluralisme Lokal
Ponpes Al-Islahuddiny Kediri Kecamatan Kediri Lombok Barat

Pondok Pesantren yang berlokasi di Kota Santri, Kediri Lombok Barat ini lahir bersamaan dengan bergeloranya semangat nasionalisme menentang penjajahan Belanda kala itu. Hingga saat ini, Al-Islahuddiny, bersama ribuan santri serta ratusan tuan guru yang dicetak, bergerak dengan inovasi yang beragam.

Kondisi masyarakat Sasak-Lombok yang masih memegang tradisi keagamaan yang belum sempurna mendorong seorang tokoh agama terkemuka, TGH. Khalidy, mengirim putra-putranya ke tanah suci Makkah sekitar tahun 1870 untuk belajar. Mereka adalah TGH. Mukhtar Khalidy, TGH. Abdussatar Khalidy, TGH. Mustafa Khalidy, dan putra bungsu, TGH. Ibrahim Khalidy. Fokus tulisan ini adalah TGH. Ibrahim Khalidy sebagai peletak dasar berdirinya Pondok Pesantren Al- Islahuddiny

Sepulang belajar pada tahun 1941, serta atas dorongan keluarga dan masyarakatnya, TGH. Ibrahim Khalidy memulai kiprahnya dengan mendirikan sebuah madrasah kecil yang amat sederhana yang dapat menampung anak-anak di desa Kediri kala itu. Awal berdiri, sekolah informal ini berhasil menjaring sebanyak 70 murid. tekanan penjajah Belanda menjadi warna tersendiri kala pondok pesantren ini berdiri dan berkembang. " Berdirinya pondok pesantren ini juga tidak terlepas dari upaya melawan hegemoni penjajah Belanda saat itu," ungkap TGH Muhklis Ibrahim, putra dari TGH Ibrahim Khalidy yang kini menjadi pimpinan Pondok Pesantren Al-Islahuddinybeberapa waktu lalu.

Tahun 1941 persis saat tentara Jepang memulai penjajahannya atas Indonesia, madrasah kecil ini ditutup paksa.Tidak ditemukan literatur lengkap soal bagaimana madrasah bisa menyiasati tekanan Jepang hingga madrasah bisa berkegiatan kembali. Kakak pendiri, TGH. Mustafa Khalidy, lalu bersepakat membeli sebidang tanah yang luasnya sekitar 300,30 meter persegi. 

Separuh tanah itu diwakafkan sebagai Tempat Pekuburan Umum (TPU) bagi masyarakat sekitar. Tahun 1946 (satu tahun setelah kemerdekaan Indonesia), dimulai dakwah pendidikan madrasah secara formal klasikal yang terdiri dari tiga tingkat. Masing-masing tingkat Ibtida'iyah (tingkat dasar), tingkat Tsanawiyah (tingkat menengah) dan tingkat Aliyah (tingkat atas). Seiring tuntutan zaman, pengurus madrasah mendirikan pendidikan tingkat tinggi yang khusus mempelajari dan mendalami ajaran agama yang bernama Ma'had Aly dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mustafa Ibrahim.

Tidak berlebihan jika mengatakan Pondok Pesantren Al- Islahuddiny menjadi bagian penentu corak pendidikan Islam di Pulau Lombok. Berdasarkan data setempat, Al-Islahuddiny telah mencetak ratusan tuan guru berbagai daerah yang kini mendirikan lembaga pendidikan masing-masing. Saat ini lebih dari 2 ribu santri dari berbagai daerah belajar di tempat ini, 204 orang guru dan dosen dan 25 orang kyai.

Sejak lama, Kediri telah dikenal sebagai Kota Santri. Di desa ini terdapat beberapa pondok pesantren ternama dengan ribuan alumni. Selama belajar, sebagian santri bertempat tinggal langsung di dalam kompleks asrama pondok, sebagian yang lain memilih bertempat tinggal di pemukiman-pemukiman warga. Wajah Kediri sebagai Kota Santri akan terlihat jelas saat para santri dengan berbagai tingkatan berjalan menyusuri jalan menuju sekolah pada pagi, siang dan sore harinya.

Pondok Pesantren Al- Islahuddiny adalah salah satu penegas Kota Santri itu. Sebagai Pondok Pesantren tua di Pulau Lombok, Al- Islahuddiny kini sebagai tempat belajar ribuan santri yang berasal dari luar Lombok Barat. Di bagian timur, santri banyak berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Santri juga banyak berasal dari Kabupaten Singaraja, Gianyar, Klungkung, Karangasem di Pulau Bali.

Al-Islahuddiny tumbuh dan berkembang menjadi pondok pesantren terkemuka yang kerap menyuarakan kampanye perdamaian, keterbukaan, dan toleransi. Sebuah ciri khas yang dimiliki oleh pesantren-pesantren dibawah naungan Ormas Nahdlatul Ulama (NU). Tidak hanya itu, pesantren ini kini tengah gencar mengirim lulusan-lulusan Al-Islahuddiny untuk belajar ke luar negeri terutama Negara-negara timur tengah. " Terakhir kami bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta untuk penguatan isu-isu kesetaraan, perdamaian dan lain-lain," ungkap TGH. Mukhlis Ibrahim.

Pesantren ini sadar betul sedang berada di dalam pergaulan global yang sulit terhindarkan. Karenanya, bekal untuk pergaulan itu sangat penting. Santri-santri Al- Islahuddiny dibekali dengan pelatihan kebahasaan yang cukup bagus. Disini, santri diberikan tiga mata pelajaran bahasa asing, masing-masing Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Bahasa Cina. Dalam pergaulan sehari-hari, santri diwajibkan berkomunikasi dengan salah satu dari tiga pelajaran wajib itu. " Khusus Bahasa cina kami sedang menunggu kerjasama dengan seorang pengusaha. Dia mau memperbantukan beberapa pengajar yang akan ditempatkan di pesantren kami," tambahnya.(*)