Mohon tunggu...
Ria Anggraini
Ria Anggraini Mohon Tunggu... Ordinary people

Orang biasa yang suka menulis dan membaca.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menyikapi yang Disebut "Realita"

16 Januari 2020   00:02 Diperbarui: 16 Januari 2020   07:12 11 0 0 Mohon Tunggu...
Menyikapi yang Disebut "Realita"
source: ballmemes.com dengan sedikit editan pribadi

Untuk mengikuti suatu kelas baik yang bersifat formal atau informal, pastinya akan diadakan tes kemampuan. 

Tes kemampuan ini dimaksudkan agar calon peserta didik atau kandidat masuk dalam level yang sesuai. 

Begitupun dengan lembaga pendidikan yang sedang saya ikuti saat ini. Placement Test, begitulah lembaga pendidikan ini menyebutnya. 

Cerita dimulai dari placement test. Teman saya bersama temannya mengikuti test bersamaan dengan hasil berbeda. Teman sekelas saya saat ini dinyatakan masuk ke level tiga, sedang temannya di level dua. Karena perbedaan ini merekapun minta test ulangan. Sebab tujuan mereka mengikuti pendidikan informal ini agar bisa bersama, di level yang sama dan satu kelas pula. 

Test kedua pun dilakukan. Hasilnya berbeda lagi. Teman saya tetap di level tiga sedang temannya malah turun ke level satu. Ya, karena tujuan belajar mereka bersama, nggak enak aja kalau ternyata kelas mereka berbeda. Mengingat semangat belajar keduanya pun niat mereka yang mulia, dengan pertimbangan matang akhirnya tutor yang bertugas melakukan pengetesan mengambil jalan tengah, keduanya pun dimasukkan ke level dua.

Pada awalnya teman saya menolak, namun karena penjelasan dari tutor dengan berat hati teman saya mengiyakan. Tokh demi kebersamaan juga. Jadilah mereka masuk di level yang sama. 

Akan tetapi permasalahan muncul saat waktu pembelajaran dimulai. Temannya teman saya tak terlihat di kelas. Hari pertama, kedua, ketiga, teman saya masih mengikuti kelas tanpa protes. Dan di pertemuan selanjutnya keluar juga sesuatu yang selama ini ia pendam. Ternyata eh, ternyata teman saya masih belum bisa menerima bahwa dirinya harus berada di level yang lebih rendah dari hasil placement test nya.

Boleh di bilang ia berkorban untuk menemani temannya, meski memang hal tersebut sudah diputuskan oleh tutor yang melakukan test. Bisa jadi protesnya teman saya tersebut disebabkan karena ketidakhadiran temannya. 

Untuk keberatan tersebut, tutor kelas kami pun menawarkan teman saya untuk bisa ke level tiga dengan kembali melakukan test. Namun teman saya menolak. Menurut informasi tuto kami, sebelumnya hal yang sama pernah terjadi pada calon peserta didik lain. Dimana si peserta didik ini yakin bahwa ia bisa langsung masuk ke tingkatan paling tinggi, namun pada saat test banyak materi dasar penting yang ia lupakan untuk bisa menduduki tingkatan tertinggi tersebut. Ya, mau tidak mau ia harus mengulang dari level dasar. 

Dari cerita teman saya di atas, mengingatkan tujuan dan ekspektasi saya mengikuti pendidikan informal ini. Kalau mau jujur ekspresi saya lumayan tinggi. Dan tentu bukan tanpa alasan saya mematok ekspektasi tersebut. Sebab saya tahu kemampuan saya. Meski pada saat test hanya sedikit catatan yang saya dapat, entah mengapa si pengetes menempatkan saya pada level dasar ya, memang nggak dasar-dasar banget sih. Tapi saat itu entah kenapa rasa kecewa saya kecil dibandingkan dengan niat belajar agar menjadi lebih baik lagi.

Karena saya yakin, apa yang diputuskan oleh si pengetes adalah yang terbaik dan merupakan tulisan Sang Ilahi. So, saya legowo menjalani. Dan seiring berjalannya waktu belajar alhamdulillah sikap legowo ini menunjukkan hasil, dimana tutor saya saat ini selalu mengekspresikan kemampuan saya secara positif dengan nilai-nilai yang masuk kategori baik sekali. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x