Mohon tunggu...
Gading Cempaka
Gading Cempaka Mohon Tunggu... Pegawai swasta

Menulis📝, adalah seni menuangkan isi hati ke dalam rangkaian kata-kata yang saling terhubung menjadi untaian cerita yang sarat dengan makna💞😍

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Aib di Ramadhan Terakhir

14 Juni 2018   20:27 Diperbarui: 14 Juni 2018   20:39 0 0 0 Mohon Tunggu...
Aib di Ramadhan Terakhir
Sumber: www. hipwee.com/perempuan yang sedang menangis.

(Masih terngiang di telingaku...jelas, dan menyakitkan. Betapa tidak, dan sungguh tak pernah aku sangka orang yang selama ini aku hargai, dan aku hormati...ternyata, memiliki perangai dan sifat yang seharusnya tidak seperti itu. Kata-kata yang terlontar dari mulut tuanya, Pedih...menyakitkan hati. Bak sembilu yang mengiris dadaku ini. Aku seketika terdiam, seolah-olah tak sadar dan tak percaya dengan apa yang aku dengar dan aku lihat).

Sore itu, di romadhan terakhir, sehabis magrib.

Aku tak sengaja mendengar percakapan tetanggaku. Maklumlah...di kampung kami tinggal berdekatan, dan saling tahu satu dengan yang lainnya. Seperti siang tadi, Rika menantu Haji Harun mendadak keluar rumah sendiri dan berjalan kali melewati jalan kampung di depan rumah kami. Hal ini tak seperti biasanya, karena mereka tergolong keluarga berada. Ke mana-mana naik mobil. Tumben...Rika berjalan terburu-buru, seolah-olah tak mau terlihat oleh para tetangga. Sesekali ia melihat ke belakang, entah apa yang dirisaukannya. Aku yakin, sorot mata tetangga di kampung sini penuh dengan tanda tanya, ada apa ya?

Rika berjalan dengan tergesa-gesa. Semakin menambah penasaran para tetangga. Tak lama berselang, sang ibu mertua meminta anak tetangga depan untuk mengantar Rika, namun syaang sepertinya hal itu sia-sia.

Tak lama berselang, keluarlah sedan putih dari rumah haji Harun. Mobil yg dikendarai sang putra mahkota mereka(maklum, anak satu-satunya...hehe), dan terlihat Haji Harun ikut serta disebelahnya. Sebenarnya ada apa ya dengan keluarga mereka? Selama ini tak pernah keluarga ini seperti itu. Biasanya adem ayem.

Menjelang sore hari, Rika datang diantar sepupunya. Namun, raut muka Rika tak seperti biasanya. Mukanya terlihat memendam masalah (duh, kayak peramal dah guwe)...

Dan bak drama yang ada skenarionya, tiba-tiba putra mahkota dan Haji Harun datang. Nampak tak ada apa-apa di antara mereka, biasa saja. Namun, lagi-lagi Rika gak ikut serta dalam percakapan mereka. Entahlah...mungkin ia lelah, atau ia sedang tak mood bicara.

Adzan magrib berkumandang, saatnya berbuka. Namun, cetaaar...bak suara petir di siang bolong, terdengar suara pertengkaran adu suara antara Rika dan putra mahkota. Sepertinya perang dunia ketiga. Meski samar, namun terdengar juga masalah mereka apa. Keduanya emosional, namun tak ada suara lain yang menengahi.

Sesaat diam. Babak 1 selesai.

Yang mengejutkan adalah, tiba-tiba terdengar suara tangisan Rika. Dan rupanya, lawan bicaranya tak lain adalah Haji Harun, alias mertuanya sendiri. Betapa tidak, wajar jika mendengar perkataan ini, wanita mana yang tak menangis. Saya yang mendengar saja kaget.

Rika dianggap membuat aib di rumah mereka, karena telah lancang keluar rumah. Bikin malu saja.

"Kamu tahu, semua tetangga pasti melihat perbuatanmu itu. Dan apa kata orang-orang nantinya.  Bikin malu dan aib".

Terdengar suara Rika membela diri dan menjelaskan, namun Sang Kaji merah besar, dan berujar kasar. "Kamu tahu kalau saya sakit. Panas telinga saya mendengar ucapan dan tangisanmu. Silahkan pergi!!"

Rika menangis...namun putra mahkota justru membela sang ayah...

Padahal, kalau saya sih, Rika biasa seperti itu, apalagi mereka tinggal di kota besar. Mandiri itu penting. Dan gak ada tetangga yang akan berpikiran bahwa itu aib kalau di kota besar. Capek deh...ngurusin orang lain.

Lama kudengar Rika nangis terisak. Sang putra mahkota bersuara, dan meminta Rika meminta maaf dengan ayahnya.

Sebagai tetangga, saya cuma merasa, tak pantas rasanya Rika diperlakukan seperti itu. Namun entahlah, masing-masing keluarga punya cara tersendiri dalam mengatasi setiap masalah dalam hidup.

Haji Harun dulunya memang galak, namun tak seemosi sekarang, semenjak sakit dan terkena struk, emosinya semakin tak terkendali, cepat tersinggung

Pagi ini, aku datang ke rumah mereka. Sekedar menyapa, dan berpamitan karena kebetulan akan mudik ke rumah mertua juga. Aduuuh, jadi sugesti nih, keingat kejadian yang menimpa Mba Rika.

Mba Rika tetap tersenyum, meski terpaksa. Masih jelas terlihat lelah di wajahnya. Sisa-sisa menangis semalam masih ada. Mata yang bengkak dan sembab. Entah apa yang ia pikirkan, andai saja bukan karena menghargai haji Harun dan keluarga,  mungkin ia sudah kabur dan pulang ke orang tuanya. Walau bagaimanapun tak pantas kata-kata seperti itu terucap, apalagi ka;au mengingat status yang disandangnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2