Mohon tunggu...
Muhamad Atqi Maududi
Muhamad Atqi Maududi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa BINUS University

Hanya seorang mahasiswa berusia 19 tahun yang masih berusaha memaknai kehidupan yang naif nan fana. Seorang pekerja seni rupa yang berusaha melepaskan semua beban hidupnya dalam kanvas.

Selanjutnya

Tutup

Seni Pilihan

Perjalanan Menemukan Kedamaian dengan Berenang di Lautan Seni

31 Januari 2023   11:29 Diperbarui: 31 Januari 2023   11:43 156
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Setiap dari kita memiliki caranya masing-masing untuk menghabiskan hari-hari di bumi, ada yang suka dengan diam, dan ada yang suka dengan mengeluh. Setiap orang memiliki tipsnya sendiri mengatur kegiatannya, saya sendiri menghabiskan banyak waktu saya dengan berkarya, berseni. Seni itu seperti alam, ada di mana-mana. Layaknya kita, kita semua adalah bagian dari alam, maka kita semua adalah bagian dari seni

Seperti alam, kita semua melihat, memahami, dan merasakan seni dengan cara yang berbeda dan individual. Untuk satu orang itu bisa menjadi hiasan yang dangkal, sedangkan untuk orang lain itu bisa menjadi etos kehidupan. Bagi seorang seniman sejati, itu menjadi pengalaman spiritual yang penuh perasaan. Dan saya, Atqi ingin berbagi Kisah tentang seorang remaja problematik yang akhirnya menemukan cintanya dengan 'berenang' di lautan seni. Tentang bagaimana akhirnya saya menemukan rasa cinta, tenang, dan damai.

 

Masa-Masa Sekolah Dasar dan Memori Mural

Perjalanan saya dimulai ketika saya menduduki bangku SD kelas 4. Kecintaan saya terhadap seni rupa timbul ketika saya pergi ke daerah Slipi, yang dimana disana banyak karya seni mural di tembok-tembok jalanan. Abang sepupu saya merupakan sosok penting dalam perjalanan seni rupa saya, seorang seniman mural jalanan yang rendah hati. Beliau adalah sosok yang mengizinkan saya untuk 'mencoret' karya mural pertama saya di tembok jalanan. Seni mural terkadang diartikan negatif oleh beberapa oknum, banyak yang mengatakan hal tersebut merupakan tindakan yang merusak fasilitas umum. Tapi sebagai anak SD, saya tidak begitu mengerti mengenai peraturan dan hal lainnya. Jadi pada saat itu, yang saya rasakan hanyalah rasa senang melihat semprotan dari kaleng-kaleng cat semprot (piloks). Namun, kesenangan itu hanya bersifat sementara. Karena ayah saya tidak suka jika saya berperilaku seperti itu, melakukan tindak vandalisme. Dan ditambah saya hanya anak kecil berusia 9 atau 10 tahun pada saat itu.

 

Awal Menyentuh Kertas dan Pensil

Mungkin pada usia yang begitu kecil saya tidak begitu peduli dengan larangan ayah, jadi saya merasa biasa saja, seakan tidak masalah dan tidak terjadi apa-apa. Sampai akhirnya di tahun terakhir saya menduduki bangku SD, saya memulai gambar pertama saya di kertas A4 dengan media yang bisa dibilang proper. Saya ingat saya menggunakan pensil sebagai media utama, segala macam jenis pensil saya gunakan, mulai dari 2h sampai dengan 8b. Saya mulai belajar teknik sketsa, mulai sketsa bangunan, pemandangan, hingga proporsi anatomi manusia. Saat itu saya dibimbing oleh guru seni SD saya sendiri, walaupun pada saat itu mungkin beliau tidak terlalu sungguh membimbing, hanya untuk sekedar menghibur saya layaknya anak kecil. Saya bahkan menyadari dari dulu jika saya tidak pernah bisa menarik garis lurus, yang semestinya kebanyakan pelukis bisa melakukannya, karena tangan kanan dan kiri saya selalu gemetar, sulit sekali untuk menenangkan kedua tangan saya. Jadi bisa dibayangkan kira-kira sekurang memuaskan apa hasilnya dengan kondisi tangan saya yang tidak bisa diam.

 

Mencium Aroma Cinta

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Seni Selengkapnya
Lihat Seni Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun