Mohon tunggu...
Jonathan Latu
Jonathan Latu Mohon Tunggu... Banser NU

menulis supaya membaca

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Ulasan Buku "Kyai Tanpa Pesantren"

22 Oktober 2019   16:46 Diperbarui: 22 Oktober 2019   17:12 0 1 2 Mohon Tunggu...
Ulasan Buku "Kyai Tanpa Pesantren"
Novel Kyai Tanpa Pesantren | dokpri

22 Oktober 2019 ini sangat istimewa, selain karena Hari Santri Nasional. Hari ini saya menerima paket yang cukup membuat saya kaget campur seneng, karena pengirimnya pernah kirim 2 noel juga sebelumnya, dan saya sangat suka dengan novel sebelumnya. Novel ini judulnya "Kyai Tanpa Pesantren" penulisnya Sahabat Imam Sibawaih El-Hasany.

Kisah nyata seorang Santri bernama Gus Ainu, putra seorang Kyai di Magetan bernama Yai Muhyidin yang "mondokin" putranya di Jogja, di pesantren Daar Al Falah asuhan Yai Misbah. Yang sejak kecil selalu ingin ke Maroko dan belajar kitab Al Hikam al Ghautsiyah (entah darimana Ainu punya keinginan masa kecil seperti itu)

Yang menarik adalah, kisah hidup Ainu yang luar biasa, Gus yang cukup nakal pada masa kecilnya. Sangat berpengaruh bagi teman seusianya karena kenakalannya. Mulai tehnik membolos, mencuri mangga tetangga, menyelinap ruang baca Kyai, sampai membongkar tempat mesum di desanya dengan cara yang cukup kocak.

Kehidupan dan kisah santri pada umumnya, dengan pola didik pesantren Salaf yang banyak hafalan kitab klasik tentunya, dan seperti Santri "istimewa" pada umumnya, kenakalan Ainu berbanding terbalik dengan kemampuan ngaji kitab dan setoran hafalan yang membuat seluruh Pesantren kaget. Bahkan Ainu ini pernah diusulkan dipindah oleh salah satu Ustad pengajar karena saking nakalnya, namun Ustad tersebut akhirnya mengakui keistimewaan Ainu.

Yai Misbah yang kemudian membimbing Ainu, sampai akhirnya Ainu bisa ke Maroko untuk melanjutkan belajar di Universitas Qarawiyyin dan akhirnya mendapatkan Kitab Al Hikam al Ghautsiyah langsung dari Syekh Benyaisy seorang pengajar yang sangat masyur. Hal ini mengingatkan satu hal tentang kekuatan doa masa kecil yang di ijabah melalui proses yang sangat panjang. 

Kisah Ainu sangat menarik, perjalanan hidup yang seada-adanya dan juga proses masa remaja yang sangat menarik, saat dimana Ainu merasa jatuh cinta dan semua polemik dan goncagan hasrat yang ada. Hingga kisah Aimi yang melakukan dakwah ditempat-tempat tidak lazim seperti tempat hiburan malam di Madiun yang akhirnya digruduk massa dengan atribut keagamaan dan hobi sweeping.

Celakanya, Ainu ikut digebukin saat disana dianggap bermaksiat padahal sedang melakukan dakwah, zaman sekarang mirip Gus Miftah gitulah. Tapi sialnya Ainun ikut digebuki ormas yang kemudian Ketua Ormasnya sendiri juga kaget ternyata Ainu seorang Muballigh dan putra seorang Kyai dan mengasuh Pondok Pesantren juga. 

Kisah ini juga menorehkan cerita yang menyedihkan dimana sang guru yaitu Kyai Misbah harus kembali pada Sang Khalik ketika kecelakaan pesawat di Jogja pada tahun 2007 di Bandara Adisucipto. Disaat kerinduan Ainu memuncak sepulang dari Marokko dan menjemput Kyai Misbah, guru yang sangat disayang oleh Ainu.

Kisah di novel ini sangat seru, banyak epik kejadian yang sangat alami tentang Santri dan Pondok Pesantren yang sangat layak dibaca mereka yang tidak paham tentang Pesantren. Kisahnya sangat renyah dan ringan, namun sangat banyak keseruan yang bisa kita dapatkan di kehidupan sehari-hari dunia sekitar kita.

Sebuah karya yang sangat mewakili hal yang tadi pagi saya tulis terkait Hari Santri Nasional dimana Santri adalah bagian utuh dari Indonesia. Bahkan Santri dan Indonesia adalah satu tarikan nafas yang tidak akan bisa terpisah satu sama lain. Menuju sebuah harapan tentang Indonesia yang diyakini oleh para Kyai dan Pesantren yang diasuh, yaitu Indonesia yang Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur atau Indonesia yang Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Titi Tentrem Kerto Raharjo.

Man Jadda Wajada