Mohon tunggu...
Putry Wahyuni
Putry Wahyuni Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi Universitas Negeri Malang

Aku masih penuh dengan warna, tapi buram.-Puput

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Isyarat Ribang

20 September 2022   10:54 Diperbarui: 20 September 2022   11:01 38 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

     Aku bersyair pada sang indurasmi berselaras dengan dinginnya dekapan shyam. Diriku mengintip langit yang nampak gelap lalu kembali menyelami otak bawah sadarku. Menciptakan skenario film bersutradarakan daksa mungil ini. Mataku tak jemu memandang sang purnama sembari menikmati aliran sunyi-sendu yang menyatu dengan aliran darahku. Seakan ku hembuskan nafas kedamaian bak musik belantara. Di sudut lain kudapati galaksi yang menyapa pada alam yang ramai di gelapnya malam. 

    Sebulan ini aku merantau pada klan asing yang berbeda dengan sebelumnya. Klan yang udaranya berpotensi membekukan. Selimut tebal adalah kunci untuk bertahan diri dari serangan di klan ini. Sialnya, selimutku hilang saat aku menyusuri hutan malang di sudut kota klan ini. Kota Apel, itu namanya. Kota yang semua bangunannya hampir menyerupai buah apel dan para warganya bekerja sebagai petani Apel. Untung saja makanan di kota tersebut masih pada bentuk umumnya. Fyuh, jika ku ceritakan tentang kota Apel di klan ini mungkin indurasmi akan bosan. 

"Aku mau pulang." Kata itu terlontar dari seseorang yang sedari tadi duduk di sebelahku.

Air matanya perlahan mengalir satu persatu dari wajahnya dengan isakan kecil yang di tahan,"aku tidak suka berada di klan ini, sungguh! aku sangat ribang dengan klan kita di ujung timur." Lirihnya, di iringi raungan yang pilu yang membuat semua pajangan malam meminjam awan dari hujan untuk menutupi cahayanya. Malam pun menjadi pekat sempurna, "kau yang memaksa untuk ikut berpetualangan denganku di klan ini bukan?" Jawabku dengan sedikit kekehan. 

         Dia berhenti terisak dan beranjak dari duduknya. Aku menghela nafas lega, menyandarkan daksa pada kursi daun waru lalu mengeratkan selimut yang sedari tadi ku pakai untuk menghalau beku. Berada di klan ini, aku memang tidak mudah. Munafik bila diriku tak ingin pergi dari klan yang penuh sesak ini. Aku pun masih bersiteru dengan kenyataan, kenyataan yang semestinya tak lagi kualami. Dan aku masih mempertanyakan semua hal ini. Perlahan aku menutup mata, mendamaikan sukma dengan semesta. 

Dug! Sialan, pengganggu! 

Sebuah benda mengenai kepalaku, aku hampir terhuyung jatuh dari  jendela yang ku duduki. Anjir, astagfirullah. Umpatku dalam hati di akhiri kekhilafan.

 "Ngapain neng, duduk di jendela murung gitu. Broken heart lo?" Tanyanya disertai kekehan,"oh gue tau, lo lagi mengkhayal biar bisa masuk ke dunia real fantasy ya." Sambungnya. 

Aku hanya memutar bola mata malas, "sialan lo Grey, gue jadi gagal merangkai kata yang berisyarat ribang." Jawabku sembari menutup Gawai yang sedari tadi ku pegang lalu melangkah untuk tidur. 

Tamat. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan