Mohon tunggu...
Media

Meningkatkan Tanggap Bencana Melalui Sandiwara Radio, Strategi Merakyat dari BNPB

31 Agustus 2016   21:41 Diperbarui: 31 Agustus 2016   21:51 111 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Meningkatkan Tanggap Bencana Melalui Sandiwara Radio, Strategi Merakyat dari BNPB
youtube-merapi-57c6eeaf557b615754ce5d2b.jpg

Geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan dan terletak di posisi unik menyebabkan negara ini memiliki potensi berbagai bencana alam. Misalnya saja karena didominasi oleh gunung berapi menyebabkan negara ini amat rentan dengan adanya bencana alam gunung meletus. Seperti contoh Gunung Merapi, salah satu gunung paling aktif di dunia ini, mengalami letusan-letusan kecil hampir setiap 2-3 tahun dan mengalami letusan lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Pada erupsi besar di tahun 2010, Gunung Merapi mulai beraktivitas seismik pada akhir September dan menyebabkan letusan besar pada 26 Oktober  2010 yang mengakibatkan sedikitnya 353 orang tewas. 

Pada saat tersebut ada pula cerita yang menghebohkan karena juru kunci Gunung Merapi bernama Mbah Maridjan turut wafat dalam letusan tersebut karena memilih tetap tinggal di area kawasan berbahaya. Walaupun hal tersebut terkait pula dengan masalah tradisi dan kepercayaan beliau sebagai juru kunci, namun dalam peristiwa gunung meletus itu pula banyak penduduk lain turut menjadi korban karena mereka kurang waspada untuk segera mengungsi meskipun BPPTK Yogyakarta telah meningkatkan status Gunung Merapi menjadi "awas" yang berarti semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman. 

Itu baru contoh tentang gunung meletus saja. Masih banyak lagi bencana alam yang rentang terjadi di Indonesia seperti banjir, tsunami, gempa bumi, kebakaran, dan lain-lain. Oleh karena itu kesadaran akan kepatuhan penduduk dengan gejala bencana dan warning yang pihak berwenang memang masih perlu ditingkatkan di Indonesia. Masalah seperti menganggap "nampaknya" keadaan masih aman, kepercayaan bahwa sang Gunung tidak akan melukai warga sekitar, atau kekhawatiran meninggalkan harta benda di rumah karena harus mengungi masih menjadi problem mengapa kesadaran penduduk akan tanggap bencana masih rendah. Karena itu perlu sekali dilakukan berbagai upaya sehingga tanggap bencana ini dapat ditingkatkan untuk meminimalisir korban saat terjadi bencana alam. 

peta-indo-png-57c6eec3fd22bdfa4bde7b14.png
peta-indo-png-57c6eec3fd22bdfa4bde7b14.png
jenis-bencana-png-57c6eed7a4afbd5154960b17.png
jenis-bencana-png-57c6eed7a4afbd5154960b17.png
Sewaktu mendengar bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis sandiwara radio sebagai media untuk menyampaikan edukasi tentang bencana pada masyarakat, saya langsung tertarik ingin mengetahuinya lebih lanjut. Karena menurut saya ini adalah inovasi yang tepat untuk melakukan pendekatan pada penduduk awam yang tinggal di area rawan bencana yang notabene seringkali terletak di pelosok. Radio bagi masyarakat, termasuk masyarakat pedesaan adalah media yang amat digemari. 

Sandiwara radio, yang amat digemari sejak era '80-an oleh penduduk adalah media yang dapat dijangkau oleh mereka yang belum tersentuh media informasi internet, TV, maupun penduduk yang masih buta huruf. Dengan mendengarkan sandiwara radio dan larut dalam cerita, maka secara tidak langsung pesan yang terselip di dalam sandiwara radio untuk mengenal gejala bencana dan memahami kondisi bencana alam akan terngiang di telinga pendengar dan melekat dalam ingatan.

Berbicara mengenai sandiwara radio yang dirilis oleh BNPB, judulnya adalah Asmara di Tengah Bencana. Cerita ini berlatar belakang era Kerajaan Mataram. Menceritakan kisah cinta seorang anak Tumenggung dengan gadis desa biasa  meskipun sang bangsawan sudah ditunangkan dengan gadis bangsawan lain pula. Yang menarik adalah setting kisah yang terjadi di tengah bencana alam gunung meletus. Gabungan antara kisah asmara beda strata, peperangan dan bencana alam dikemas menjadi sebuah kisah yang menarik sepanjang 50 episode. Siaran sandiwara radio ini ditayangkan di 20 radio siaga bencana yang tersebar di wilayah Indonesia. 

Walaupun saya berada di wilayah yang tidak terdapat siaran radio siaga bencana sehingga belum dapat menikmati sandiwara radio tersebut untuk saat ini, namun saya sempat mengakses teaser-nya di Youtube dengan kata kunci "Asmara di Tengah Bencana BNPB". Sensasi mendengatkan sandiwara radio memang luar biasa ya, saya seperti bernostalgia di masa kanak-kanan saat mendengar dongeng atau cerita rakyat di radio. 

Menurut saya inovasi dengan membuat sandiwara radio ini amatlah bagus terutama untuk masyarakat pecinta siaran radio (dalah hal ini khususnya penduduk desa atau pelosok serta masyarakat awam bahkan sampai lansia). Karena bagi para pecinta siaran radio maka apabila sudah 'terlanjur' cinta dengan sandiwara radio maka mereka akan benar-benar menyimak setiap episode cerita  bahkan selalu menanti kelanjutan kisahnya. Hal ini seperti pengalaman suami saya semasa kecil yang juga selalu rajin menunggu kelanjutan kisah sandiwara radio kesukaannya, atau seperti kakek dan pakdhe saya yang rutin menyalakan radio pada jam-jam di acara kesayangannya. Penggemar fanatik radio bisa saja menyalakan radio seharian bahkan sampai mereka sendiri tertidur di tengah malam.

Dan berkaitan dengan inovasi terkait peningkatan kesadaran tanggap bencana tersebut maka beberapa opini yang saya ingin berikan pada BNPB antara lain:

  1. Setelah merilis sandiwara radio dengan tema bencana alam gunung meletus, saya berharap adanya sandiwara radio dengan tema bencana alam yang lain seperti banjir, tanah longsor, tsunami, dll. Diharapkan  penduduk yang berada di area rawan bencana jenis selain gunung meletus juga dapat lebih mengenali bencana alam yang rentan terjadi di sekitarnya. Berbagai variasi tema juga semakin menambah wawasan pendengar radio. Tidak hanya meningkatkan kesadaran tanggap bencana, edukasi seperti ini tentunya amatlah bagus untuk semua khalayak.
  2. Adanya topik sandiwara radio berupa cerita yang dapat pula dinikmati oleh kalangan anak-anak. Dengan membuat sandiwara radio berupa cerita dongeng anak, fabel (cerita binatang) ataupun kisah anak-anak lain yang dapat dinikmati semua umur sehingga sejak usia dini pun anak kecil dapat sedikit demi sedikit memahami tentang bencana alam. Apalagi untuk mereka yang tidak tersentuh akses internet atau TV.
  3. Edukasi seperti ini semoga rutin diselenggarakan secara berkala  sehingga semakin lama kesadaran tanggap bencana pada masyarakat terutama masyarakat awam atau yang tinggal di daerah pelosok juga meningkat. Dapat pula diselenggarakan sayembara untuk masyarakat umum untuk dapat menyumbang ide cerita sandiwara radio. Tentunya ini akan menarik minat masyarakat lain termasuk netizen untuk berpartisipasi mengedukasi orang  lain.

Akhir kata, meningkatkan kesadaran tanggap bencana bukan hanya tugas BNPB semata. Tentunya kita semua dapat turun serta berpartisipasi di dalamnya. Mulai dari mengajarkan kepada anak-anak di rumah bagaimana untuk mencintai lingkungan dan alam sekitar, memahami bagaimana alam pun bereaksi atas apa yang kita lakukan juga merupakan edukasi awal supaya mereka terdidik peka terhadap alam di sekitarnya. Sehingga hal ini akan menyebar ke orang lain lagi sampai mereka beranjak dewasa. Sebagai masyarakat melek internet, kita dapat pula menambah wawasan mengenai bencana nasional dengan mengakses website resmi BNPB disini. Di sana tersedia lengkap berbagai informasi yang dapat menambah wawasan kita mengenai bencana.

Dan terakhir, tentunya tidak lupa kita pun harus ikut membantu menyukseskan program-program BNPB dalam hal pencegahan dan penanggulangan bencana nasional. Karena bencana nasional adalah sesuatu yang harus dipikul bersama semua lapisan masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Media Selengkapnya
Lihat Media Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan