Mohon tunggu...
Putri Syafaatul Layliya
Putri Syafaatul Layliya Mohon Tunggu... Mahasiswa

Putri Syafa'atul Layliya Jepara, 5 Desember 2001

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Karakteristik Peserta Didik SD

4 Desember 2020   18:51 Diperbarui: 4 Desember 2020   19:01 37 1 0 Mohon Tunggu...

NAMA : PUTRI SYAFA'ATUL LAYLIYA
NIM     : 191330000427
KELAS : 3 PGSD A1

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan proses pengembangan keterampilan, pengetahuan, maupun kemampuan peserta didik yang dimulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Jenjang pendidikan tersebut merupakan proses pembentukan minat, bakat, dan karakteristik peserta didik yang khas. Pendidikan harus mengarah pada sesuatu yang positif dan akan berlangsung apabila terjadi interaksi edukatif antar peserta didik. Jika mengacu pada waktu, materi, kurikulum, dan tempat berlangsungnya, maka proses pendidikan harus dilakukan di sekolah
 Pelayanan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh Guru Bimbingan dan Konseling atau konselor sekolah diperuntukan bagi semua peserta didik yang sedang mengalami proses perkembangan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan yang sedang dijalaninya.
Pelayanan bimbingan dan konseling yang dilakukan secara komprehensif dan berbasis perkembangan individu yang dilayani akan dapat membangun karakter peserta didik sebagai sosok manusia yang berkembang selaras, serasi, seimbang dalam segala aspek perkembangan secara komprehensif, harmonis, dan utuh yang dapat berfungsi sebagai agen inovatif dan perkembangan kehidupan individu yang efektif dalam keseharian berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena dapat mempengaruhi perkembangan dalam seluruh aspek kepribadian dan kehidupannya. (Indriani, 2014: 22)

PEMBAHASAN

1.1  Identifikasi Karakteristik Siswa Dalam Pembelajaran

     Identifikasi karakteristik siswa perlu dilakukan berdasarkan landasan yuridis dan teoretik. Pertama Peraturan pemerin--tah No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan bahwa pengemba--ngan pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan; tuntutan, bakat, minat, kebutuhan, dan kepentingan siswa.1 Ke--dua secara teoretik siswa berbeda dalam banyak hal yang meliputi perbedaan fitrah individual2 disamping perbedaan latar belakang keluarga, sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan.
     Salah satu ciri kegiatan belajar me--ngajar adalah terjadinya interaksi antara guru dan siswa. Masing-masing memiliki tugas yang saling mendukung. Siswa bertugas untuk belajar dan guru bertugas mendampingi siswa dalam belajar. Dalam kegiatan belajar, siswa diharapkan men--capai tujuan pembelajaran tertentu yang meliputi tujuan umum dan tujuan khusus. Sesuai orientasi baru pendidikan, siswa menjadi pusat terjadinya proses belajar mengajar (student center), maka standar keberhasilan proses belajar mengajar itu bergantung kepada tingkat pencapaian pengetahuan, keterampilan dan afeksi oleh siswa. Oleh karenanya guru sebagai pendesain pembelajaran sudah seharusnya mempertimbangkan karakteristik siswa baik sebagai individu maupun kelompok. (Sanjaya, 2013: 259)
     Setiap satuan kelas memiliki karakteristik yang berbeda. Heterogenitas kelas menjadi salah satu keniscayaan yang harus dihadapai guru. Sebagai pendesain pembelajaran guru harus menjadikan karakteristik siswa sebagai salah satu tolok ukur bagi perencaan dan pengelolaan
proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar di sekolah dasar memiliki corak yang berbeda dengan proses belajar mengajar di sekolah menengah. Karakteristik siswa itu sesuai dengan tahap tahap perkembangan siswa. Misalnya, keberhasilan dalam bidang akademik di sekolah dasar menjadi hal utama sebagai salah satu pencapaian keberhasilan seorang siswa, oleh karenanya penghargaan terhadap mereka yang memiliki kemampuan akademis tinggi akan sangat dirasakan. Sebaliknya bagi mereka yang duduk di bangku sekolah menengah, mulai memiliki pergesaran paradigma terhadap makna keberhasilan belajar. Perkembangan siswa akan berjalan lurus dengan kompleksitas masalah yang dihadapi oleh guru. Kenyataan lain yang juga harus dihadapi guru adalah meski mereka menghadapi kelompok kelas dengan umur yang relatif sama tetapi guru tidak bisa memperlakukan sama terhadap perbedaan karakteristik siswa. Setiap satuan kelas itu berbeda dalam hal motivasi belajar, kemampuan belajar, taraf pengetahuan, latar belakang, dan sosial ekonomi. Hal ini mengharuskan guru memperlakukan satuan kelas itu dengan pendekatan yang berbeda. Memahami heterogenitas siswa berarti menerima apa adanya mereka dan merencakan pembelajaran sesuai dengan keadaannya. Program pembelajaran di sekolah dasar akan berlangsung efektif jika sesuai dengan karakteristik siswa yang belajar. (Beny, 2011:42) mengemukakan empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam menganalisis karakter siswa:
1)Karakteristik umum
2) kompetensi atau kemampuan awal
3) gaya belajar
4) motivasi.
Berkaitan dengan motivasi sangat diperlukan untuk memberi dorongan bagaimana siswa melakukan akativitas belajar agar menjadi kompeten dalam bidang yang dipelajari.
A.Karakteristik Umum
Karakteristik umum pada dasarnya menggambarkan tentang kondisi siswa seperti usia, kelas, pekerjaan, dan gender. Karakteristik siswa merujuk kepada ciri khusus yang dimiliki oleh siswa, dimana ciri tersebut dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pencapaian tujuan belajar. Karakteristik siswa merupakan ciri khusus yang dimiliki oleh masing-masing siswa baik sebagai individu atau kelompok sebagai pertimbangan dalam proses pengorganisasian pembelajaran. Winkel mengaitkan karakteristik siswa dengan penyebutan keadaan awal, dimana keadaan awal itu bukan hanya meliputi kenyataan pada masing-masing siswa melainkan pula kenyataan pada masing-masing guru. (Winkel, 2014:153).
B.Kompetensi / Kemampuan Awal
Tidak semua kemampuan awal siswa berpengaruh dalam proses belajar mengajar, tergantung kepada tujuan instruksional yang ingin dicapai. Misalnya, dalam pelajaran fiqih (siswa mampu melakukan istinjak dengan benar), tidak relevan jika dihubungkan dengan kemampuan siswa dalam hal berlari cepat.
Kemampuan awal yang relevan adalah sejauh mana pengetahuan siswa tentang berwudhu dan mandi. Kemampuan awal siswa ini mencakup hal-hal seperti
1)taraf intelegensi,
2)daya kreativitas
3) kemampuan berbahasa
4)kecepatan belajar
5)sikap terhadap tugas belajar
6)minat dalam belajar
7)perasaan dalam belajar
8)kondisi mental dan fisik.

C.Gaya Belajar
Gaya belajar menggambarkan tentang kecenderungan seseorang dalam memberi respons terhadap sebuah stimuli. Secara sederhana gaya belajar dapat dimaknai sebagai kecenderungan dan preferensi yang dimiliki oleh individu dalam melakukan aktivitas belajar. Gaya belajar atau learning style merupakan suatu cara tentang bagaimana seorang individu melakukan persepsi, berinteraksi, dan merespons secara emosional terhadap lingkungan belajar. Gaya belajar juga dapat dimaknai sebagai presferensi atau kebiasaan yang diperhatikan oleh individu dalam memproses informasi dan pengetahuan serta mempelajari suatu keterampilan. (Beny, 2011:45)

D.Motivasi
Motivasi juga merupakan faktor lain yang ikut memengaruhi keberhasilan individu dalam menempuh program pembelajaran. Motivasi dapat diartikan sebagai kondisi yang dapat mendorong individu untuk melakukan sutau tindakan dalam rangka mencapai tujuan atau bahkan menghindarinya. Motivasi dapat dikategorikan ke dalam motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Motivasi adalah dorongan yang terdapat dalam diri siswa untuk melakukan suatu tindakan. Motivasi belajar yang terdapat dalam diri siswa dapat digolongkan sebagai motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi yang berasal dari dalam yang mencerminkan kecintaan (passion) terhadap isi atau materi yang dipelajari disebut dengan motivasi intrinsik sementara motivasi yang didasari pada imbalan dari luar disebut sebagai motivasi ekstinsik.

PENUTUP
2.1  Simpulan

Peserta didik merupakan salah satu sumber daya manusia yang masih aktif, semangat, dan bisa mengembangkan seluruh kreatifitasnya dalam berbagai bidang. Selain itu, peserta didik juga merupakan salah satu satu penerus cita-cita bangsa Indonesia ini agar tetap maju. Sebagai salah satu penerus cita-cita bangsa, seorang peserta didik harus bisa menunjukkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang berbeda itu bisa berupa kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan. Hal ini dimaksudkan agar seorang peserta didik bisa menunjukkan karakteristik yang khas dari dalam dirinya.
Pendidikan harus mengarah pada sesuatu yang positif dan akan berlangsung apabila terjadi interaksi edukatif antar peserta didik. Jika mengacu pada waktu, materi, kurikulum, dan tempat berlangsungnya, maka proses pendidikan harus dilakukan di sekolah.

Karakteristik siswa yang akan menempuh program pembelajaran, perlu diketahui oleh guru untuk memudahkan dalam menentukan tujuan, metode, dan media pembelajaran, serta materi pelajaran yang dapat digunakan untuk memfasilitasi proses belajar siswa. Karak--teristik siswa yang perlu dianalisis oleh guru meliputi: (1) karakteristik umum; (2)
kompetensi awal; (3) gaya belajar, dan (4)
motivasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x