Mohon tunggu...
Putra PutriPapua
Putra PutriPapua Mohon Tunggu... Informasi anak Papua Barat

Seputar Informasi pelajar yang berasal dari Papua Barat, mulai dari kegiatan-kegiatan yang bersifat Regional, Nasional hingga Internasional. Akun ini juga akan mengedepankan berita-berita Prestasi Anak Papua Barat di berbagai Aspek, terutama Pendidikan. Tujuannya agar Pemerintah Daerah dapat memberikan perhatian lebih kepada Masyarakat Papua Barat dalam ranah Pendidikan, baik yang kuliah di dalam Negeri, apalagi yang di luar Negeri.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Putra Teminabuan, Alumni DDI Mangkoso, Lulusan Ilmu Hukum UINAM raih Magister Hukum dalam 12 Bulan dengan Predikat Cumlaude

15 Februari 2020   14:21 Diperbarui: 15 Februari 2020   14:35 292 0 0 Mohon Tunggu...
Putra Teminabuan, Alumni DDI Mangkoso, Lulusan Ilmu Hukum UINAM raih Magister Hukum dalam 12 Bulan dengan Predikat Cumlaude
fadel-wa-2-5e47972cd541df7db73b3214.jpeg

Makassar, Muhammad Fadli Asri (24), berhasil menyelesaikan Studi Pasca Sarjana (S2) nya dalam masa 12 Bulan (Setahun) di The National University Of Malaysia ( Universitas Kebangsaan Malaysia ). Ia berhasil lulus S2 dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3.71 dan berhak memperoleh predikat Cumlaude.

Fadli atau yang lebih akrab disapa Fadel merupakan Mahasiswa Magister Hukum Jurusan Islamic Criminal Law (Hukum Pidana Islam) di Fakultas Hukum Universitas Kebangsaan Malaysia yang mengambil program Master By Coursework. Ia resmi dinyatakan lulus dan meraih Magister nya 08 Februari 2020.

Mahasiswa kelahiran Teminabuan 18 November 1995 silam ini mulai menempuh studi magister nya sejak Februari 2019 yang lalu. Fadli hanya membutuhkan waktu setahun untuk menyelesaikan studinya. Pencapaian yang luar biasa dilakukan oleh anak dari Bapak Asri Sija dan Ibu Sitti Saidah Salam ini. Fadli pun tak menyangka bisa lulus dengan waktu yang sangat cepat, apalagi dengan nilai yang cukup memuaskan (Cumlaude). Ia menjadi satu dari dua Mahasiswa Asal Indonesia yang berhasil selesai dalam setahun untuk prodi Hukum. Ia merasa sangat bersyukur dan bangga serta terharu atas capaiannya tersebut.

" Jujur saja, ini merupakan nikmat terbesar yang Allah berikan di awal Tahun ini. 08 Februari merupakan hari Ulang Tahun adik saya yang bungsu, Hafidz. Alhamdulillah Allah masih memberikan kesehatan kepadanya hingga dapat merayakan ultahnya yang Ke-11 di 2020 ini. Makanya saya sangat bahagia karena pengumuman di SMP.Web Kampus keluar dihari yang sama dan terharu melihat hasil dari usaha selama setahun ini. Honestly saya berencana selesai di pertengahan tahun, karena Convo/Wisuda di UKM hanya sekali setahun dan itu dilaksanakan pada Bulan 10 atau 11 nanti. Tetapi lagi dan lagi Allah sangat baik kepada hamba yang berusaha, bekerja, belajar dengan penuh kepercayaan, sesuai Firman-Nya : Faidza Adzamta Fatawakkal 'alallah. ( Apabila kamu telah berusaha, bertekad maka bertawakkallah kepada Allah ) jadi saya sangat bersyukur. Terkait IPK yah disyukuri karena sadar diri juga bahwa banyakk mata kuliah yang memang sulit, tugasan penelitian hingga exam sangat menguras kepala. Metode Exam nya dengan di Indonesia agak sedikitt berbeda. Kalau di UKM terutama untuk Mahasiswa Magister hanya dua soalan dalam setiap Exam tertulis, tetapi dua soalan itu mesti dijawab 6-10 muka surat (Halaman) dengan menggunakan kertas panjang yang disediakan oleh Kakitangan (Pejabat) Fakultas. Hasil ini tentunya saya persembahkan buat Kedua orangtua saya beserta Keluarga besar Sija Salam di Teminabuan, Papua-Barat. Tegasnya.

Alumni Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Kampus II Tonrongnge ini bercerita juga mengenai perjalanan akademiknya hingga bisa menyelesaikan S2 nya dalam setahun. Mottivasi Utamanya ialah Ia sangat ingin membuktikan kepada khalayak umum bahwa Anak Papua juga mampu bersaing di bidang pendidikan, tidak hanya skala nasional, tetapi Internasional pun anak Papua bisa. Sebab menurut Kakak dari dua adik ini sangat terganggu dengan Mindset orang-orang yang mengatakan bahwa; Papua adalah daerah yang ketinggalan dalam dunia Pendidikan sehingga banyak orang papua sangat minim pengetahuannya. Fadli menanggapi argumen seperti ini dengan berpikir bahwa Pengetahuan seseorang tidak dapat dinilai dari orang itu bersekolah/tidak, berpendidikan/tidak. Tidak semua orang yang tidak bersekolah itu minim pengetahuan dan tidak semua orang yang bersekolah itu lebih pengetahuannya. Artinya tolak ukur kita dikatakan sebagai insan yang berilmu tidak dilihat dari pendidikannya, karena pendidikan juga tidak menjamin seseorang itu berilmu. Orang berilmu adalah orang yang berpengetahuan, yang berpengetahuan pasti berilmu. Tetapi orang berpendidikan belum tentu berilmu, yah mungkin dia berpengetahuan tetapi tidak semua pengetahuan dapat dijadikan sebagai ilmu. Yang namanya Ilmu kodratinya yah kebenaran yang diberikan, dan orang yang berpegang teguh pada kebenaran itu tidak akan memberikan pengetahuan yang salah. Kalau kita hanya sampai pada pengetahuan saja, bisa juga mejadi satu ancaman, karena kadang ada pengetahuan dapat membuat kita keliru, tetapi kebenaran tidak. Makanya kenapa dalam Alquran dijelaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu? Allah tidak katakan yang berpengetahuan. Saya rasa karena itu tadi, yang berilmu sudah pasti benar, dan kebenaran akan membawa kita kepada insan yang beriman. Ada Guru saya di Pondok dulu, Ustad Asy'ari beliau pernah berkata bahwa: Tidak usah berlomba-lomba menjadi orang pintar, tapi cukup pintar-pintar saja jadi orang. Orang pintar belum tentu dapat menghargai orang, tetapi pintar-pintar jadi orang dapat menjadikan kita sadar diri, rendah hati, dengan begitu Akhlak terbentuk sendiri dalam diri kita. Jelasnya.

Dulu, ketika masih mengenyam pendidikan di Madrasah Aliyah, Ia bertekad menjadi Putra Papua yang berprestasi di segala bidang, baik bidang Agama maupun Umum. Alumni Ilmu Hukum Uin Alaudiidin Makassar ini merupakan mahasiswa yang dulunya aktif di berbagai organisasi, sehingga pengalaman di organisasi menjadikan modal awal ia melangkah lebih jauh untuk meraih cita-citanya.

"Saya juga sangat beruntung pernah mengenyam pendidikan di berbagai organisasi kampus semasa S1. Selain itu saya sering menyempatkan waktu untuk sharing dengan beberapa dosen di Fakultas Syari'ah dan Hukum UINAM. Begitu juga dengan kawan-kawan, senior-senior, sangat sering kami duduk berdiskusi membahas banyak hal perihal pendidikan di Kampus sampai Sistem Pendidikan di Indonesia". Ucapnya

Pengalaman-pengalaman di atas membuat Fadli melangkah lebih jauh hingga menyelesaikan S2 nya di negeri Jiran, Malaysia. Ia berhasil membuktikan bahwa anak Papua juga anak Bangsa, Putra Terbaik Bangsa. Ia juga yakin bahwa banyak anak Papua dan Papua Barat yang melebihi kualitas keilmuan dirinya, hanya saja mereka terkendala karena prasarana/fasilitas yang kurang memadahi, atau faktor utama yaitu masalah Financial masyarakat Papua.

" Tentu saja banyak anak Papua yang berprestasi, hanya saja belum terekspos atau terlihat. Harapan saya semoga dengan langkah awal ini Pemerintah daerah Papua dan Papua Barat dapat membantu mereka dalam menggapai cita-citanya, salah satu cara yang baik adalah dengan memberikan beasiswa prestasi, beasiswa pendidikan kepada mereka ( anak Papua ). Toh juga nantinya ketika berhasil, 10-20 Tahun kedepan mereka ( Anak Papua ) yang akan melanjutkan tongkat estavet guna membangun dan memajukan tanah Papua dan Papua Barat kelak". Katanya

Selain itu, faktor Long Distance Relationship (LDR) juga sangat penting buat Fadli dalam meraih S2 nya. Ia bertekad cepat selesai agar bisa cepat kembali ke tanah kelahiran untuk melepas rindu bersama keluarga dan kawan-kawannya. Selain itu ia juga bertekad untuk dapat mengaktualisasikan ilmunya kepada masyarakat, terkhusus masyarakat Papua Barat, tempat dimana ia lahir dan tumbuh besar.

Ketika ditanya, Apakah saudara akan langsung melanjutkan Program Doktor (S3) ataukah Saudara ingin mengabdikan diri dengan mengamalkan ilmu yang suadara miliki?. Ia menjawab dengan penuh senyum kebahagiaan,: Kalau lanjut S3 pasti yah, siapa yang tidak ingin menjadi Doktor kan? hehe. Tetapi belum tahu kepastiannya, apakah langsung lanjut atau kerja dulu. Yang jelas ingin rehat sejenak, yah tubuh juga butuh istirahat kan. Ujarnya. Bagaimana ketika ada tawaran untuk mengamalkan ilmu, yah seperti lewat seminar-seminar?, Ia menjawab; selagi saya mampu dan punya kapasitas di bidang itu Insya Allah siap-siap aja, kan pahala juga buat saya. Pertanyaan terakhir dari kami, Jika suadara bekerja atau ingin mengabdi, Saudara ingin bekerja pada sisi apa? Politisi?, Akademisi? ataukah Pemerintahan?, Tanya Kami. Fadli pun menjawab bahwa: Akademisi ataupun Politisi saya rasa bisa-bisa saja, dan punya bakat meskipun sedikit yah, kalau pemerintahan kan ada campur tangan politik juga, akademik juga jadi sama saja, tergantung dimana rejeki datang yah disitu saja, heheh. Pikir-pikir juga sih, kalau politisi kan Indonesia sudah banyak pakar politik yang hebat, bahkan siapa saja bisa menjadi politisi tanpa persyaratan tertentu kan, jadi kayaknya lebih ke arah akademisi. Karena Akademisi selain kita berbagi ilmu, kita juga menghasilkan pahala jariyah . Contoh seperti Guru atau Dosen, nah itu kan Profesi yang beruntung karena selain bisa menghidupi Keluarga, Pahala juga di peroleh. So' kemungkinan besar sih lebih ke Akademisi nantinya. Doain saja. Katanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x