PURNOMO
PURNOMO Konsultan

Alumni Pascasarjana Universitas Brawijaya dan sekarang bekerja sebagai Konsultan Individual, Tim Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Permukiman Strategis Kementerian PUPR dalam Membantu Kejadian Luar Biasa (KLB) Kabupatan Asmat.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Catatan Terakhir Perjalanan ke Asmat

12 Maret 2018   06:51 Diperbarui: 12 Maret 2018   10:55 1524 8 5
Catatan Terakhir Perjalanan ke Asmat
KabarPapua.co

Bagian 4/4

Kami harus mengakhiri pendataan pada hari ini. Kami akan segera meneruskan perjalanan ke Distrik Atsj.

"Ke kanan sedikit," suara anak buah motoris speedboat memberikan aba-aba ke motoris untuk membelokkannya agar terhindar dari batang kayu yang hanyut terbawa arus Sungai Sagare.

Aba-aba pengingat seperti itu seringkali dilakukan oleh anak buah motoris yang duduk di bagian depan speedboat. Apalagi karena kondisi lebar Sungai Sagare semakin lama semakin sempit. Kadang pengemudi juga harus menurunkan gas agar lajunya menjadi pelan dan tidak menabrak batang kayu yang ada.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Toleransi Lalu Lintas Air

"Stopp!" teriak anak buah motoris. Kami melihat ke depan dan ke tengah sungai tidak ada apa-apa. Di antara kami pun menyeletuk, "hai ada apa?"

Sang motoris menjawab, "Itu ada ketinting di depan. Kalau kita tidak turunkan laju kecepatan, ketinting di depan bisa terbalik kena dampak ombak speedboat kita!" terangnya.

Kami baru paham dan mengerti etika lalu lintas air. Ternyata toleransi dan menghormati sesama jalan sungai di sini lebih santun, ketimbang di lalu lintas darat, yang main "emang gue pikirin!"

Cahaya matahari senja di atas Sungai Sagare semakin lama-semakin redup. Ini juga yang membuat sang motoris makin berhati-hati menjalankan kendaraannya. Semakin sering kami berhenti karena berpapasan dengan warga yang memakai perahu ketinting. Tak jarang kita berikan lambaian tangan ke penduduk yang tinggal di tepian Sungai Sagare, "Sore Bapak ... dada," Sebuah sapan keakraban yang lazim.

Hampir 2 jam kami meninggalkan Distrik Kasuari, namun rupanya belum ada tanda-tanda mendekat Distrik Atsj. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 17.25 WIT. Suasana sudah gelap, hanya modal kepekaan mata dan lampu speedboat saja yang menerangi perjalanan kami.

Kebetulan saya duduk di bangku depan, sehingga dengan kemampuan mata saya ikut serta membantu komando motoris.

"Pak Pur, ini ada korek api yang ada senternya. Bisa dipakai!" teriak Om Baqi.

Tanpa pikir panjang langsung saya menyahutnya untuk membantu penerangan jalan.

"Bang, lihat peta kira-kira kurang berapa jam lagi ada kampung terdekat, karena kalau kita lanjut, bahaya nih!" ujar Om Baqi. Periksa peta, terlihat kurang lebih 1 jam lagi sampai kampung terdekat.

Hari sudah semakin gelap. Tiba-tiba terdengar, "Hai, selamat malem!" teriak laki laki dari samping speed boat kami. "Tolong bantu kami, tolong kami kehabisan bahan bakar bensin."

Kami pun kaget dan menoleh ke asal suara itu. Terlihat samar-samar 2 orang lelaki, seorang perempuan serta anak kecil dalam gendongan dalam sebuah ketinting. 

"Bang, ayo kita bantu mereka, kita berhenti bantu mereka!" pinta salah sorang dari kami. Tapi sang motoris buru-buru memotong pinta kami begini, "Maaf bapak, tidak bisa!"

"Jangan 'gitu Bang, ayo kita bantu!" pintanya lagi. Lalu dijawab oleh motoris, "Bang kami solar, mereka bensin!"

Jawaban itu pun menyadarkan kami. Speed boat pun terus melaju.

Kekhawatiran pun masih terus menyelimuti. Ini ada kampung, tapi masih terlihat hanya satu rumah.

"Sudah kita sandar dan menginap di sini saja, tidak usah mencari Hotel di Atsj!" pinta pimpinan rombongan kami. Kami hanya diam dan melihat sang motoris masih terus menjalankan speedboat-nya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3