Mohon tunggu...
Purnawan Andra
Purnawan Andra Mohon Tunggu... Seniman - A sinner with no name

Peminat kajian sosial budaya masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Istirahatlah Kata-Kata: Kesunyian Seorang Wiji Thukul

19 Juni 2020   00:30 Diperbarui: 19 Juni 2020   00:36 241
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Poster film "Istirahatlah Kata-kata" (sumber foto: detak.co)

Wiji Thukul adalah tokoh, legenda, pahlawan, martir bagi sejarah pergerakan. Namanya boleh jadi disebut dalam tiap perayaan Hari Buruh. Puisinya dibacakan dalam orasi. Slogannya "Hanya ada satu kata: lawan" tercetak di kaos dan spanduk perjuangan.

Tapi namanya tak dikenal oleh generasi sekarang. Perannya dalam sejarah formal Indonesia masih sumir karena sampai sekarang nasibnya belum jelas.

Tapi justru karena statusnya sebagai orang hilang, maka film tentangnya menjadi semacam gugatan serius dalam kehidupan kita sebagai sebuah bangsa. Karena kita tahu, ketidakjelasan nasibnya adalah karena pandangan dan aksi politiknya.

Alih-alih disajikan lewat heroisme yang mengultuskan sang penyair, film Istirahatlah Kata-kata berlaku sebagai negasi film biopik umumnya.

Ia malah lebih terkesan sunyi untuk film yang menceritakan seorang pembangkang. Sosok ini diterjemahkan sutradara Yosep Anggi Noen dalam setting masa pelarian Wiji Thukul di Pontianak, Kalimantan Barat, sesudah 27 Juli 1996 ketika bersembunyi dari kejaran intelijen dan aparat Orde Baru. Kisaran waktu ini menjadi periode krusial bagi kehidupan Wiji yang unik sekaligus kompleks.

Film ini mencoba menampilkan sisi manusiawi sang penyair: sosok yang juga mengenal rasa takut, cemas, kesepian dan rindu dalam pelariannya.

Tak ada ketegangan debat dalam rapat, riuh rendahnya demonstrasi atau berbagai bentuk aksi politik yang menegangkan dalam film ini. Yang ada justru hal-hal remeh temeh: main kartu, minum kopi, makan bersama hingga mati listrik. Tak ada yang heroik, apalagi bombastis.

Tapi kesederhanaan suasana keseharian ini yang justru menjadi kekuatan film. Anggi ingin menunjukkan bahwa kenyataan tidak sesederhana itu.

Dibaliknya, ada suatu sistem yang bekerja sebagai kekuatan struktural yang merasuk masuk dalam kehidupan keseharian kita.

Ironisnya kekuatan tersebut kerap menempatkan pihak-pihak yang ada didalamnya dalam posisi yang berlawanan bahkan saling menguasai dalam kekuatan yang kerap tidak seimbang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun