Mohon tunggu...
Purnawan Andra
Purnawan Andra Mohon Tunggu... A sinner with no name

Peminat kajian sosial budaya masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Indonesia dalam Kho Ping Hoo

2 Mei 2020   08:12 Diperbarui: 2 Mei 2020   08:18 415 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Indonesia dalam Kho Ping Hoo
Cerita silat karya Asmaraman S Kho Ping Hoo (ilustrasi: BaleBengong.com)

Sastra tidak hanya menjadi karya seni, representasi estetika dan nilai-nilai moral/kreatif. Sastra tidak hanya menunjuk pada nilai-nilai universal yang intrinsik dan abadi, tetapi dalam konteksnya bisa dipahami sebagai sebuah praktek kebudayaan yang menunjuk pada seluruh peta relasi sosial. 

Pemikiran ini diperlukan dalam semangat rekonstruktif-kualitatif konsep-konsep umum yang berlaku sebelumnya, untuk mengkritisi tendensi yang berusaha mempertahankan aturan-aturan yang mereproduksi kelas dan ketidaksamaan lainnya, termasuk antara karya sastra, sastrawan dan negara.

Pada titik inilah kita teringat Asmaraman S(ukowati) Kho Ping Hoo, penulis cerita silat (cersil) yang populer sampai kini. Selama 30 tahun berkarya, KPH menghasilkan lebih dari seratus judul karya seperti Bu-Kek Sian-Su, Pendekar Super Sakti, Pedang Kayu Harum, Pendekar Budiman dan beberapa karya berlatar Jawa seperti Badai Laut Selatan dan Darah Mengalir di Borobudur (pernah dipentaskan berulangkali dalam bentuk sendratari Jawa dan disiarkan dalam bentuk sandiwara radio pada pertengahan 1970-an). KPH menjadi nama fenomenal yang menggunakan ruang imajiner Tiongkok dan dibaca khalayak luas. Gayanya popular dan tidak bisa ditiru.

Namun nasib KPH terpinggirkan. Karya-karyanya dianggap sebagai sastra popular, barang hiburan dan tidak pantas sebagai objek kajian sastra. Selain karena persaingan bisnis penerbitan dan maraknya ragam buku bacaan (populer) lainnya, kondisi politik juga berpengaruh besar terhadap eksistensi sastra cersil. Isu SARA pernah menjadi pemicu munculnya sentimen anti Tiongkok, termasuk dalam bidang seni budaya masyarakatnya.

Menurut Ajidarma (2012) dalam hal ini, kita memasuki isu 'seni tinggi' dan 'seni populer', tempat yang satu seperti merendahkan yang lain. 

Kebudayaan menjadi situs perjuangan ideologi, tempat kelompok terbawahkan berjuang melawan pembebanan makna dalam wacana yang merupakan representasi kepentingan kelompok dominan. Kondisi ini membuat kebudayaan selalu hadir ideologis, dan juga politis---dalam arti bahwa selalu melibatkan terdapatnya suatu kepentingan, termasuk proses hegemoni.

Kita dan Mereka

Pada titik ini, melalui karya-karya KPH, diam-diam barangkali kita teringat pada sebuah isu lama tapi yang masih tetap hangat diperdebatkan ditawarkan kepada pembacanya, yaitu isu kita dan mereka, pribumi dan non-pribumi, yang menjadikan kita sebagai sekelompok orang yang berusaha membayangkan apa yang direpresentasikan sebagai Indonesia, sebagai sebuah realitas yang sesungguhnya.

Meminjam analogi Rustopo (2006) pola hubungan semacam ini menjadi interaksi sosial hubungan orang-orang Tiongkok dan masyarakat etnis sekitarnya dalam kehidupan yang kompleks dan dinamis. Termasuk interaksi kultural hubungan orang-orang etnis Tiongkok dengan nilai-nilai dan unsur-unsur kebudayaan "Indonesia". Bisa jadi, dalam kenyataannya, kedua jenis interaksi ini tidak bertemu. 

Dalam interaksi sosial timbul masalah kesenjangan yang bersifat laten dan kadang-kadang menjadi penyulut timbulnya kerusuhan. Sebaliknya dalam interaksi kultural, orang-orang etnis Tiongkok tertentu melebur ke dalam nilai-nilai dan unsur-unsur kebudayaan setempat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN