Mohon tunggu...
puntodamar
puntodamar Mohon Tunggu...

Hello World ! I'm a programmer

Selanjutnya

Tutup

Politik

Penista Agama: Masalah Vertikal, Solusi Horizontal

9 Mei 2017   16:05 Diperbarui: 9 Mei 2017   19:12 968 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penista Agama: Masalah Vertikal, Solusi Horizontal
kompas.com

Saya suka memelihara ikan. Daripada berkubu dan berperang dengan senjata, lebih suka jadi penonton. Nyantai leyeh-leyeh, sambil menebar umpan di kolam bernama media sosial. Saya senang melihat ikan-ikan bereaksi memakan umpan saya. Apalagi kalau saya tidak sendiri saat memancing.

Tentu saja, tidak terkecuali kasus penistaan Ahok. Saya sering menikmatinya sambil ngemil. Seperti judul artikel ini, kasus ini menarik karena menurut saya, kasus penistaan ini sebenarnya adalah masalah vertikal (antara manusia dengan Tuhan), namun diselesaikan dengan cara horizontal (cara hukum - manusia dengan manusia lain).

Sebagai makhluk ciptaan-Nya, tentuk kita tidak bisa menebak pikiran Tuhan. Apakah Ia benar-benar marah? Apa buktinya? Tidak ada. Para umatlah, yang secara psikologi terpelatuk. Semua orang gak mau direndahkan, apalagi ini menyangkut agama.

Tentang hukuman penista

Mau bawa-bawa ayat? Boleh. Mungkin saya terlewat. Tapi gini, kalau melihat kitab suci, kita tahu bahwa Tuhan suka menghukum manusia. Tulah bangsa Mesir, Sodom-Gomora, banjir Nabi Nuh. Terus kenapa Tuhan tidak langsung menghukum Ahok dan pendukungnya? Mati mendadak misalnya?

Apa yang bisa kita ambil dari sini?
- Tuhan tidak tersinggung / marah ?
- Tuhan maha pengampun ?
- Tuhan tidak ada ?

Kemudian mengesampingkan unsur politik, kenapa diproses di pengadilan? Tidak cukupkah ia bebas dan biarkan Tuhan yang menghukumnya? Apakah belum cukup si cina ini sengsara di neraka? Well I guess, kebiasaan buruk manusia muncul, selalu memperjelas kesalahan orang lain.

Tentang persidangan

 Kalaupun perlu diproses hukum, lawan Ahok bukan umat Islam, tapi Tuhan itu sendiri. Ahok menghina Al-Quran, berarti menghina Allah. Umat islam hanyalah kelompok yang tidak suka melihat Al-Quran dilecehkan. Analoginya sama seperti ketika seseorang selalu menjadi bahan ejekan, kemudian kita merasa simpati dan mencoba menyudahinya. Ahok pelaku, Tuhan korban, umat Islam adalah pelapor. Kenapa bukan korban? Karena umat Islam gak kompak, ada yang bilang menista, ada yang bilang enggak.

Selanjutnya berdasarkan nalar ini, jika ada seseorang yang menghina / melecehkan Tuhan, kita butuh undang-undang tentang penistaan. Well people should'nt be able to mock God. Kalau begitu, Tuhan perlu bersaksi bagaimana Ia disakiti, di persidangan. Persis seperti kasus pencemaran nama baik.

Apakah omongan saya ini juga termasuk penistaan?
Ya gimana ya, saya rasa memang seperti inilah alur persidangan pada umumnya.

Tentang Tuhan yang diam

 Karena kita tidak bisa melihat Tuhan bahkan membuktikan bahwa Tuhan itu ada (fallacy burden of proof), kita tidak tau reaksi Tuhan. Analoginya sama, ketika seseorang dijadikan bahan lelucon, ada yang acuh, ada yang diam tapi lapor wali kelas / guru BK, ada yang pergi sambil mengutuk "awas kalian nanti", dan lain lain. Diam bukan tanda seseorang baik-baik saja.

Kita sebagai orang sekitar yang melihat kejadian itu, take action, tidak mau diam saja. Ada yang menegur, dan sebagainya. You got the point. Mengenai perlukah Tuhan dibela atau tidak, silahkan berdebat di kolom komentar, saya tonton.

Kesimpulan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN