Mohon tunggu...
pungkaspung
pungkaspung Mohon Tunggu... Hanya buruh yang butuh nulis

Hanya peminum kopi tanpa disertai senja, karena dominasi kopi dan senja akan membuat saya tidak kerja.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Kompetisi Kopi Lokal vs Internasional

30 April 2019   17:06 Diperbarui: 30 April 2019   17:19 0 2 1 Mohon Tunggu...
Kompetisi Kopi Lokal vs Internasional
Kopi Kedai India di KL (Dokpri)

Kopi saat ini memiliki daya gengsi yang dapat dikatakan sudah berdaya saing. Bagaimana tidak? Dalam beberapa dekade terakhir para pemuda berduyun-duyun menikmati kopi setiap malamnya. Ada yang bertujuan untuk menambah daya maskulin atau hanya sekedar menuruti nafsu adiktif dari segelas kafein.

Selain karena tren minum kopi sudah kian merajalela di kaum milenial, pengetahuan tentang kopi sudah menjadi gengsi tersendiri. Bukan hanya ikut-ikutan saja mereka meminum kopi, tapi juga ngelmoni dalam secangkir kopi. Mulai proses pasca panen, tehnik seduh, sampai cara menyecap mereka serap semua ilmunya.

Tentu ilmu semacam ini ada yang impor dan ada pula yang asli anak bangsa. Karena khasanah perkopian nusantara tak mungkin ada apa-apanya jika masyarakat international tak mengakuinya. Cara mendapat pengakuan ya dengan memenuhi standar kopi internasional.

Hal yang mustahil bila pelaku kopi nusantara ingin menaklukkan pasar internasional, namun memilih untuk menutup telinga dari keilmuan kopi internasional. Dengan membuka telinga mengenai standar kopi internasional dapat menyesuaikan produk yang dapat diterima pasar internasional.

Masalah Baru yang Muncul
Menjadi laris manis di pasar internasional tak serta-merta menjadikan semua masalah tuntas, memang secara ekonomi negeri ini akan tertolong dengan melonjaknya barang dagangan yang laris. Namun ada sedikit celah untuk petani yang mau tidak mau berhadapan secara face to face dengan pasar bebas internasional.

Beberapa data yang tersaji dan berasal dari berbagai sumber menjelaskan bahwa pengetahuan petani mengenai kopi masih belum mumpuni. Bukan pengetahuan tentang kualitas, namun pengetahuan mengenai produktifitas lahan pertanian yang mereka garap.

Bisa terbayang bukan? Bila para penjualnya sudah all out namun produktifitasnya masih belum maksimal, pasti persediaan akan sangat terbatas. Menurut ilmu ekonomi bila persediaan terbatas dan permintaan meningkat, harga akan semakin mahal. Persediaan terbatas karena petani kurang produktif, sedangkan permintaan meningkat karena penjual atau eksportirnya all out dalam mempromosikan barang.

Pasar Internasional Akan Lesu
Hasilnya pasti harga melambung tinggi dan pasar internasional akan memilih lagi  harga yang lebih masuk akal. Masuk akal yang saya maksudkan di sini yaitu harga yang sesuai dengan ekonomi mereka. Karena kopi bukan merupakan bahan pokok, maka tidak mungkin juga mereka tetap membeli jika harganya terlampau mahal. Daya konsumsi mereka pasti akan terbatas.

Jika hal ini terjadi maka akan kembali ke masa lalu, di saat kopi nusantara susah menembus pasar ekspor seperti yang saya sebutkan di atas. Namun beda kasus, bila saya menyebutkan di atas pasar lesu karena memang masih babat alas, kini pasar lesu karena harga yang disebabkan oleh produktifitas petani.

Sekadar Teori
Ulasan di atas hanya sekedar teori yang masih belum tentu juga teraplikasikan. Namun ada kemungkinan besar hal itu akan terjadi. Artikel ini dibuat bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk memberikan inspirasi bagi para penggiat kopi. Sudah ada Starbuck yang menjadi raksasa kopi di negeri ini, memang terlampau ngeri. Tapi itulah yang terjadi.

Karena pasar tak cukup dengan menembus luar negeri, bila tidak terjaga kestabilannya akan menjadi bumerang yang balik menyerang diri. Intinya mari kita berkontribusi untuk negeri, bila bingung dengan apa yang harus dilakukan, mari seduh dan cecap segelas kopi dari anak negeri.