Imam Punarko
Imam Punarko Guru

seorang pengajar yang belajar

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Sederhana, Jangan Berbohong

13 Maret 2019   13:31 Diperbarui: 13 Maret 2019   14:51 50 2 0

Konstelasi politik Indonesia membuat warga negara terpecah kedalam kedua kubu besar mau tidak mau. Aturan pilpres 20 persen ambang batas presiden membuat putra terbaik bangsa tidak terekspos dengan baik. Sebab, marketing tidak berjalan secara terbuka, bisa jadi hanya duo politik yang berjaya.

Kedua pasangan calon merupakan pasangan terbaik bangsa, mereka bisa menjadi utama lantaran mereka punya kapasitas yang membuat mereka didukung kedua kubu besar. Sekali lagi, tujuan dari diadakan pemilu adalah untuk menghindari hak mutlak, mencegah sistem tiran, bahkan untuk mengganti sebuah kekuasaan.

Rasa Respect saya terhadap pelaksanaan pemilu cukup tinggi, mengingat bagi saya pemilihan ini adalah awal dari kebangkitan bangsa yang besar ini. Sudah lama kita seperti macan asia yang tertidur di percaturan global. Berharap "pemimpin baru dapat jadi alasan untuk Indonesia melanglang buana melintasi banyak medan percaturan dunia.

Saya rasa terlepas dari kehebatan jokowi dan pendukungnya, Indonesia punya alternatif pemimpin yang mampu menjadi titik tolak kebangkitan Indonesia.

Pertama, Prabowo murni tentara punya ketegasan dan wibawa yang baik di dunia internasional. Bila kemarin aisyah diklaim pemerintah melalui diplomasi yang apik berhasil dibebaskan dari segala hukuman. 

Maka Prabowo sudah melakukannya sejak lama, tercatat 2 kali TKW yang nyaris di hukum pancung bukan cuma di penjara yang berhasil di bebaskan dan kembali ke Indonesia. Saya menangkap ada pesan luhur yang membuat seorang Prabowo bukan hanya ingin unggul dalam persaingan politik namun juga unggul dalam nama baik bangsa Indonesia di mata dunia.

Kedua, beliau adalah pengusaha tulen, artinya secara banyak hal pengusaha memang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia yang besar, bukan sekedar pengusaha yang hanya ambil untung kemudian melarikan uangnya ke luar negeri yang kata nya sampai 11 triliun. Tentu Prabowo dan sandiaga uno sendiri pengusaha yang bukan cuma mengambil untung dari status pengusaha yang terjun ke dunia politik namun memang berkorban untuk bangsanya sendiri.

Ketiga, Prabowo bukan politisi yang punya hutang budi, satu-satunya hutang Prabowo adalah rakyat Indonesia. Saya tahu betul beliau benar-benar memberantas korupsi di lingkaran dekatnya. Seperti SBY yang benar-benar tidak tebang pilih dalam memberantas korupsi sehingga kita tahu banyak kadernya sendiri yang terkena korupsi di masa pemerintahannya. 

Sekedar catatan saya tidak akan mendukung jokowi selama kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan belum dapat di tangkap hingga hari ini. Mengapa banyak kasus begitu cepat penanganannya sedangkan sekelas novel begitu lama

Keempat, Prabowo berada pada jalur dukungan yang tepat, pendukung Prabowo sampai saat ini merupakan pendukung yang ikhlas berjuang. Minim dana tapi tidak minim kreatifitas, mereka berhasil memenangkan pertaruangan di darat dan di udara tinggal waktu penghitungan saja yang membuktikan siapa yang memimpin. 

Sementara, bisa dilihat para pendukung Jokowi yang saya perhatikan baik di dunia nyata maupun dunia maya belum bisa menjadi sebuah contoh berbangsa yang baik. Mudah-mudahan ini juga menjadi introspeksi bagi pendukung Prabowo sendiri. Selama dukungan diberikan dalam bentuk pembelaan terhadap sesuatu yang salah lihatlah kehancurannya.

Mengapa saya tidak memilih Jokowi dan fix tidak akan mengubah dukungan saya. Sebab, dasar dari Jokowi dan tim pemenangannya adalah sesuatu yang sangat absurd untuk sebuah janji kampanye. Hampir janji-janji 2014 banyak yang tidak ditepai atau terkesan meleset. 

Coba perhatikan berapa banyak nawacita yang di usung dan yang sudah berhasil di tepati. Terlebih pada debat ke dua kemarin capres Jokowi banyak melakukan blunder data yang menurut saya sangat memalukan sekelas capres. Jokowi begitu hafal luas tanah Prabowo yang ratusan ribu hektar tapi lupa data kebakaran hutang, sengketa lahan, nilai impor.

Alangkah baiknya Jokowi menginstrospeksi diri beserta pendukungnya, lebih baik mengakui kegagalan, kemudian berbenah dari pada memaksanakan dan kemudian melakukan blunder seperti sesuatu yang akhirnya meleset atau bahkan membohongi. Selamat berusaha, lebih baik jujur dari pada bohong itu saja pesan saya.

Semoga tulisan ini menginspirasi