Mohon tunggu...
Puja Nor Fajariyah
Puja Nor Fajariyah Mohon Tunggu... Mahasiswa, Aktivis Pelajar Islam Indonesia, Kuligrafis

Suka nulis tapi masih belajar baca~

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Penderita Skizofrenia, Jangan Dianggap Gila

27 Oktober 2020   04:00 Diperbarui: 3 November 2020   21:06 449 31 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penderita Skizofrenia, Jangan Dianggap Gila
Ilustrasi depresi (tuaindeed via Kompas.com)

"As well as being one of the worst things that can happen to a huma being, schizophrenia can also be one of the richest learning and humanizing experiences life offers"
-Mark Vonnegut (American pediatrician and author of The Eden Express: A Memoir of Insanity)


Kemarin, aku tak sengaja menonton salah satu video dari Kevin Anggara yang judulnya "Cerita seram". Awalnya aku kira isi kontennya adalah video pendek informatif tapi membuat penontonnya berpikir seperti biasanya, tapi ternyata di konten ini Kevin Anggara menceritakan tentang salah satu rekomendasi komik webtoon berjudul "Pigpen" yang ia sudah baca dan selesaikan. 

Aku, sebenarnya juga pembaca webtoon, terkadang juga membeli koin untuk membaca komik favorit. Biasanya, aku sama sekali tak tertarik dengan komik yang bergenre thriller atau horror, sebab ya aku adalah tipe anak yang kalau membaca suatu cerita susah untuk melupakan dalam waktu lama. Jadi aku tidak mau aja terjebak dalam ketakutan. Tapi entah kenapa atas rekomendasi Kevin Anggara tadi, pada malam harinya aku maraton membaca komik tadi sampai tamat. 

Komik Pigpen
Komik Pigpen

Komik Pigpen ini sendiri adalah sebuah cerita karangan Kim Carnby dan illustratornya yaitu Cheon Beomsik (SiCK). Saat membaca kisah awalnya sendiri, aku sudah diajak berpikir keras. 

Kisahnya bermula dari pria dewasa yang hilang ingatan, dan harus terjebak di pulau misterius yang aneh. Di pulau tersebut ada sebuah rumah bak istana, yang disewakan oleh sebuah keluarga misterius untuk keperluan wisata. 

Akhirnya, pria tersebut mau tidak mau, harus menjalani hari-harinya yang aneh di rumah tersebut. Setiap episodenya memiliki jalan cerita yang sama sekali tidak bisa tertebak namun selalu memaksa untu dibaca.

Episode demi episode aku baca, tidak terasa aku menamatkan 68 episode dalam satu malam saja, dan hingga akhir otakku seolah ikut terbawa dengan apa yang aku baca. Kisah yang diangkat di komik ini begitu nyata dan 'relate' dengan keadaan yang ada di masa sekarang ini. 

Entah aku yang terlalu berlebihan atau emosional, aku menjadi ikut membayangkan bagaimana keadaan si 'pria' pemeran utama di komik tadi kalau ada di dunia nyata. 

Betapa tersiksanya ia, hidup tapi tak hidup sepenuhnya sebab otak dan pikirannya terkurung dalam delusi dan halusinasi, dunia buatan yang mengurung ia sebagai penderita skizofrenia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x