Mohon tunggu...
PUJA NOR FAJARIYAH
PUJA NOR FAJARIYAH Mohon Tunggu...

MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG ANGKATAN 2018 NIM : 18160010

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Akrab Bersama Kita, Kemudian Mereka

28 April 2019   16:04 Diperbarui: 28 April 2019   16:08 0 0 0 Mohon Tunggu...
Akrab Bersama Kita, Kemudian Mereka
Sumber gambar https://www.shutterstock.com/ 

Ada sebuah pepatah yang mengatakan seperti ini, sebelum kamu mencoba mengikat tali di seberang pulau, kau harus memeriksa apa tali pancang ditempatmu berdiri sudah tertancap kuat atau tidak. Barangkali ini dapat dijadikan sebagai pedoman bagi para orang tua tentang salah satu pola dalam pengasuhan yaitu dalam melatih anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Lantas, bagaimana maksudnya? Tapi sebelum itu saya akan sedikit memberikan pandangan kepada teman-teman yang membaca artikel ini.

Akrab, adalah kata pertama yang ada di judul artikel ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna dekat dan erat serta intim. Lalu pada kalimat selanjutnya adalah bersama kita kemudia mereka. Jadi maksud dari judul artikel ini adalah bagaimana dan kenapa anak harus erat, dekat dan intim dengan kita atau yang disini saya gambarkan adalah para orang tua dan guru serta mereka yang saya maksud adalah orang lain selain keduanya. Bisa saja meliputi teman , atau orang lainnnya.

Kita sebagai orang tua atau guru biasanya akan begitu bahagia ketika memiliki anak atau murid yang begitu ramah, akrab dan mudah menjalin hubungan dengan orang lain namun terkadang malah hubungan kita dengan anak atau murid kita hanya sebagai sebuah hal yang terlalu formal dan tidak ada kehangatan di dalamnya atau bahkan cenderung kurang baik. Hal itu jelas bukanlah hal yang sepenuhnya baik.

Ada beberapa faktor kemudian yang menyebabkan hal tersebut terjadi, seperti halnya kita yang terlalu mengatur pola pergaulan anak atau terlalu mendikte anak untuk berbuat atau berkelakuan seperti apa yang kita mau, kita gagal dalam membangun hubungan yang baik dengan anak atau murid  kita dan penyebab yang terakhir yang saya contohkan adalah adanya kita yang kurang peka akan seperti apa seharusnya kita bersikap dengan anak atau murid kita.

Kaitannya dengan peribahasa yang saya contohkan diawal adalah kita sebagai orang tua atau guru harus mampu membangun hubungan baik terlebih dahulu dengan anak atau murid kita. Hubungan baik ini tidak sekedar hubungan yang secara fisik, namun juga batin. Bukankah lucu ketika kita melihat anak atau murid kita lebih akrab dan senang ketika berhubungan dengan orang lain diluar sana tapi malah merasa tidak nyaman ketika berhubungan dengan kita.

Anak adalah manusia yang begitu sensitif emosinya. Salah satu kunci berhubungan baik dengan anak usia dini adalah membuatnya nyaman. Karena ketika ia sudah merasa nyaman terhadap suatu hal atau seseorang, dia akan lebih nurut atau mudah ketika berhubungan dengan orang tersebut. Jadi kuncinya adalah membuat dia nyaman dengan kita terlebih dahulu. Ketika dia sudah nyaman dengan kita, dia biasanya akan manut dengan apa yang kita mau.

Setelah anak mau melakukan apa yang kita mau disitu baru kita bisa mulai memperkenalkan anak untuk dapat berhubungan baik dengan orang lain. Dimulai dari hal yang paling sederhana adalah dengan mulai mengajarkan mengenai kebiasaan-kebiasan baik yang seharusnya dilakukan bagaimana bersikap dengan teman yang lebih muda, teman sebaya, ataupun dengan orang yang lebih tua. Anak cepat paham pula apabila kita langsung mencontohkan apa yang kita inginkan untuk dilakukan oleh anak.

Membangun keakraban dengan anak memang sebuah hal yang seharusnya tiap orang tua atau guru bangun sejak dini. Karena benar adanya bahwa dengan membangun keakraban dimulai dari orang yang laing dekat dengan dia sendiri, ketika diminta untuk membangun keakraban dengan mereka yan lain maka tidak lagi menjadi hal yang sulit baik bagi si anak maupun bagi kita para orang tua atau guru yang mengingkan hal tersebut terjadi dan dilakukan oleh anak atau murid kita.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x