Mohon tunggu...
Puhid Akhdiyat Septana
Puhid Akhdiyat Septana Mohon Tunggu... ⏩⏩

"Selamat mengamalkan ibadah puisi." Katamu sambil menyeret koper warna-warni. Dan lalu hari-hari berikutnya hatiku terasa sunyi.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi | Sebuah Ketakutan dalam Menulis

26 Juni 2019   19:18 Diperbarui: 30 Juni 2019   05:43 0 17 4 Mohon Tunggu...
Puisi | Sebuah Ketakutan dalam Menulis
eirudo.com

Hari itu aku memaksa menulis lagi perihal patah hati.
Bukan sedang patah hati!
Tetapi anehnya setelah menjadi tulisan hal-hal menyedihkan seperti itu biasanya menjadi sebuah kenyataan.
Iya, secara tak langsung aku sedang menanam janin sedih yang sekarang sedang tumbuh liar di dalam kandungan waktu.
Mereka tinggal menunggu-nunggu aba-aba Tuhan untuk lahir dan mematahkan hati.


Hari itu aku memaksa menulis lagi perihal kematian tragis
Bukan kematian yang sudah terjadi?
Tetapi anehnya, hal-hal mengerikan seperti itu biasanya menjadi sebuah kenyataan.
Iya, secara tak langsung aku sedang membangun bangunan tragis yang sekarang sedang menjulang tinggi di pinggiran usia.
Mereka tinggal menunggu aba-aba Tuhan untuk ambruk dan menimpa diri.

Lalu aku coba bandingkan dengan tatkala banyak menulis penceritaan yang baik,
Bukan sedang baik-baik saja!
Tetapi anehnya, biasanya tulisan perihal kepedihan memang lebih sering menjadi kenyataan.
Iya, aku sedikit mulai takut menuliskan apapun tentang yang bukan aku dengan tinta air mata. aku takut Tuhan menyangka aku sedang berdoa sehingga suatu hari nanti hal-hal menyedihkan tersebut Dia kabulkan.

*****

KONTEN MENARIK LAINNYA
x