Mohon tunggu...
Puhid Akhdiyat Septana
Puhid Akhdiyat Septana Mohon Tunggu... ⏩⏩

"Selamat mengamalkan ibadah puisi." Katamu sambil menyeret koper warna-warni. Dan lalu hari-hari berikutnya hatiku terasa sunyi.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi | Empat Pilar Kerinduan

22 Juni 2019   21:53 Diperbarui: 30 Juni 2019   06:04 0 13 2 Mohon Tunggu...
Puisi | Empat Pilar Kerinduan
mahasastra.com

Bukan berpilar pada Pancasila, sebab rinduku hanya patuh pada Panca indra. Mataku hanya boleh melihat keindahanmu, telingaku hanya mau mendengar suaramu, hidungku hanya ingin mengendus keberadaanmu, lidahku hanya mau mengecap manisnya sebuah pertemuan, dan kulitku selalu taat membungkus rapat segala rupa ingatan.

Bukan berpilar pada UUD 1945, sebab rinduku hanya berlandaskan UUD kesunyian. yang di mana bunyi pembukaannya; "Bahwa sesungguhnya kerinduan adalah hak segala perindu dan oleh sebab itu maka penjajahan atas nama pertemuan harus dilestarikan karena hanya dengan dijajah, perindu akan mati-matian berjuang melawan atau mempertahankan kerinduannya.

Bukan berpilar pada Bhineka Tunggal Ika, sebab rinduku hanya bersandar pada 'Bersemuka Tanggal Ika'. Karena hanya dengan sebuah pertemuanlah yang sanggup menanggalkan segala kerinduan.

Bukan berpilar pada NKRI, sebab rinduku hanya mengerti NKRI berikut; Nyerinya Kesepihakan Rindu Ini. Maklumlah penjajah bernama jarak, waktu, tempat, dan kesamaan masih saja menerapkan strategi devide et impera untuk memecah belah kesatuan rindu kita.

*****

KONTEN MENARIK LAINNYA
x