Mohon tunggu...
Pudji Widodo
Pudji Widodo Mohon Tunggu... Lainnya - Pemerhati Kesehatan Militer.

Satya Dharma Wira, Ada bila berarti, FK UNDIP.

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Ingin Kota Kita Aman, Mulailah dari Mengamankan Sampah

30 September 2021   04:47 Diperbarui: 4 Oktober 2021   18:45 676
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi warga memilah sampah berdasarkan jenis | Sumber:  Shutterstock via Kompas.com

Sejak tahun 2005 Surabaya dengan beban 1.400 ton/hari sampah, telah mengelola sampah secara sistematis yang melibatkan seluruh warga kota. 

Sampai tahun 2019, Surabaya memiliki 5 Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) dan mempunyai 28 rumah kompos yang dapat menyerap 10 - 20% dari sampah yang masuk TPA. 

Surabaya juga memiliki 296 unit Bank Sampah yang tersebar di berbagai wilayah. Surabaya juga memiliki Pusat Daur Ulang (PDU) Jambangan dengan kapasitas maksimum 20 ton per hari. 

Di lokasi PDU  juga diterapkan teknologi Black Soldier Fly untuk mengurai sampah organik. TPST Jambangan dan TPST Wonorejo menghasilkan energi listrik 4 kilowatt yang dapat dimanfaatkan warga sekitar (kominfo.jatimprov.go.id, 9/10/2019).

Pemkot Surabaya sejak tahun telah menutup TPA dengan insineratornya di Keputih. Kini TPA Keputih seluas 60 hektar telah berubah menjadi hutan bambu dan  taman bunga Harmoni. 

Adapun jumlah total taman di Surabaya adalah 536 lokasi, sehingga ruang terbuka hijau untuk Surabaya mencapai 21% dari 30% yang ditentukan. 

Sebagai pengganti TPA Keputih, Pemkot Surabaya membangun TPA Benowo dan di lokasi baru inilah lalu dibangun PLTSa. Dari PLTSa Benowo inilah dihasilkan 11 Megawatt energi listrik, di mana 2 Megawatt dari landfill power plant dan 9 Megawatt dari gasification power plant (www.cnnindonesia.com, 9/5/2921).

Sebagai negara kepulauan, tentu saja tidak semua daerah bisa menyiapkan lokasi TPA yang luas seperti Surabaya dan kota-kota di pulau-pulau besar. 

Untuk itu, kompasioner Handy Chandra telah menulis hasil penelitiannya melalui artikel "Kapal Insenerator, Alternatif Solusi Penanganan Sampah di Kepulauan" <3>. 

Kompasioner Handy Chandra menyampaikan bahwa konsep yang diajukan tim risetnya, merupakan tindak lanjut penanganan sampah di laut secara regional dengan menggunakan kapal sebagai pengangkut, pengumpul dan juga proses insenerasinya.

Terlepas dari teknologi pengolahan sampah yang dipilih apakah untuk wilayah dominan daratan sehingga leluasa memilih lokasi TPA atau tipe wilayah kepulauan yang terbatas lahannya, diperlukan konsistensi pemimpin daerah mengelola sampah di wilayahnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun