Mohon tunggu...
Pudji Widodo
Pudji Widodo Mohon Tunggu... Pemerhati Kesehatan Militer.

Satya Dharma Wira, Ada bila berarti, FK UNDIP.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Ketika Banjir, Gempa, dan Problem Vaksinasi Terjadi di Satu Lokasi

22 Februari 2021   03:25 Diperbarui: 22 Februari 2021   10:00 896 58 16 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Banjir, Gempa, dan Problem Vaksinasi Terjadi di Satu Lokasi
Tampak depan kawasan Paruganae yang menjadi lokasi Rumkitlap TNI di Bima | Dokumen Pribadi

Banjir bandang disusul gempa tektonik
Saya melanjutkan kisah pengalaman tugas Satgaskes PRC PB Banjir Bandang Bima 2016. Selain data hasil Health Rapid Assesment yang dikirim Kakesdam IX Udayana, dalam rapat pertama di KRI Teluk Bintuni (TBN) 590, kami juga membahas semua faktor risiko yang kami sebut sebagai analisis daerah operasi (ADO).

Namun terdapat data yang baru kami terima setelah kami menginjakkan kaki di dermaga Pelabuhan Bima pada tanggal 28 Desember 2017, yaitu ketika satgaskes masih dalam pelayaran telah terjadi gempa tektonik di Bima.

Wapres RI Yusuf Kalla sedang meninjau UGD Rumkitlap TNI di Bima 28/12/2016, foto dokumen pribadi
Wapres RI Yusuf Kalla sedang meninjau UGD Rumkitlap TNI di Bima 28/12/2016, foto dokumen pribadi
Gempa tektonik terjadi di kedalaman 10 km pada Minggu tanggal 25 Desember 2016 pukul 13.23. Episentrum gempa pada koordinat 8.28 LS dan 119.04 BT di laut Flores, berkekuatan 3,7 skala Richter dengan skala gempa I/BMKG atau skla II versi MMI (nasional.tempo, 25/12/2016)<1>.

Dampak gempa berupa guncangan yang lemah dirasakan oleh warga kota Bima yang sebelumnya telah dilanda banjir bandang pada tanggal 21 dan 23 Desember 2016.

Selanjutnya gempa tektonik juga terjadi pada tanggal 30 Desember 2016, sekitar pukul 06.30, episentrum di laut pada 79 km selatan kota Bima pada kedalaman 98 km <2>.

Gempa ini adalah gempa susulan, karena yang pertama pada pukul 05.30 meskipun magnitudonya lebih besar yaitu 6,2 tapi kami yang di gedung dan di tenda tidak merasakan getaran apapun.

Saat itu juga seluruh pasien di dalam gedung Paruganae di pindah keluar gedung. Komandan Rumah Sakit Lapangan (Danrumkitlap) Letkol dr. Aminuddin Harahap, Sp.A dengan sigap mengendalikan kegiatan pemindahan pasien ke lokasi yang aman.

Beruntung kami masih punya cadangan 2 tenda perawatan di luar gedung yang masih kosong, namun tanpa fasilitas pendingin ruangan dan biasa dipakai isitrahat para keluarga penunggu pasien UGD. Akhirnya tenda perawatan pasien ibu dan anak kami keluarkan pula dari gedung Paruganae dan kami dirikan kembali di halaman gedung, tentu saja berikut pendingin ruangannya.

Selama bertugas di Bima, terjadi tiga kali gempa dan seperti juga gempa yang pertama tanggal 26 Desember 2017, ketiga gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meskipun demikian situasi ini menggelisahkan pasien dan keluarganya, karena trauma para pasien dan keluarga terdampak bencana banjir bandang belum hilang.

Tenda perawatan anak di dalam gedung Paruganae dan suasana penyelamatan pasien keluar gedung saat gempa, 30/12/2016, foto kolase dokpri
Tenda perawatan anak di dalam gedung Paruganae dan suasana penyelamatan pasien keluar gedung saat gempa, 30/12/2016, foto kolase dokpri

Ancaman wabah campak ketika menanggulangi dampak bencana banjir
Warga terdampak banjir bandang Bima tersebar di berbagai pos pengungsian. Sebagian sudah kembali ke rumah masing-masing setelah banjir surut, namun sebagian belum karena pemukiman dan tempat tinggal masih dibersihkan dari timbunan lumpur. Pada lokasi pengungsian yang terbatas yang ditempati bersama-sama dengan fasilitas hiegene sanitasi tidak memadai, maka ini meningkatkan risiko penularan penyakit.

Dari tanggal 27 Desember 2016 sampai 12 Januari 2017, jumlah pengunjung Rumkitlap TNI adalah 7965 orang dengan 9102 jumlah kasus penyakit. Salah satu tantangan pelayanan kesehatan saat bencana banjir Bima adalah adanya temuan kasus campak di pos pengungsian Kelurahan Penaraga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x