Mohon tunggu...
Priyanto Sukandar
Priyanto Sukandar Mohon Tunggu...

Penulis

Selanjutnya

Tutup

Tekno

Transaksi Online Rawan Fraud dan Kartel Baru?

11 April 2016   11:55 Diperbarui: 11 April 2016   13:21 0 0 0 Mohon Tunggu...

Era digital dan internet nampaknya tak terelakkan lagi. Digital dan internet telah memasuki seluruh sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan dunia internet dan digital sudah dijadikan gaya hidup bagi sebagian besar masyarakat di kota-kota besar di Indonesia.

Dahulu masyarakat yang hendak berbelanja kebutuhan pokoknya, harus menuju pasar atau mal terlebih dahulu. Namun kini untuk membeli bahan pokok, masyarakat tingga membuka komputer atau gawai mereka. Merak tak perlu repot-repot memilih dan jalan menuju mall atau pasar.

Sebelum adanya internet dan gawai, masyarakat yang ingin mengetahui informasi atau berita terkini harus membeli koran atau majalah. Namun kini dengan berlanganan paket internet dan memiliki gawai, masyarakat tak perlu lagi membeli koran atau majalah. Mereka bisa kapan saja dan dimana saja membaca berita atau informasi yang tengah menjadi sorotan masyarakat.

Bahkan kini dengan keberadaannya Internet of Things (IOT), masyarakat bisa mengontrol suatu perangkat keras dari jarak yang jauh hanya dengan menggunakan internet. Seperti menyalakan perangkat elektronika seperti AC dan tv ketika kita berada di luar rumah.

Tak dipungkiri dengan adanya layanan internet dan digital, membawa dampak positif terhadap masyarakat. Dengan internet membuat hidup menjadi lebih mudah. Selain itu dengan internet dapat membuat beban masyarakat menjadi berkurang. Beberapa biaya yang selama ini membuat harga barang ke konsumen menjadi tinggi, dapat dipotong dengan keberadaannya aplikasi di gawai.

Namun dunia digital dan internet bag pisau bermata dua. Di satu sisi bisa membawa manfaat. Namun di sisi yang lain jika dipergunakan secara tak bijak, maka akan membawa mudarat. Banyak aksi penipuan, aksi radikal, SARA, pencemaran nama baik, maupun pornografi kerap dilakukan melalui dunia digital dan internet.

Dengan memasukan virus atau bugs, setiap transaksi digital dapat dimanipulasi. Bahkan bisa mengarah ke fraud. Buktinya banyak lembaga keuangan maupun perusahaan e-commerce pernah kebobolan pada transaksi melalui dunia maya ini.

Bahkan isu yang beredar dikalangan praktisi IT menyebutkan sistim tender lembaga pemerintahan telah terdapat bugs yang mengakibatkan tender pemerintahan bisa disetel dan pemenangnya bisa diarahkan kepada salahsatu pihak.

Tak hanya fraud saja. Ekses dari dunia digital juga bisa menimbulkan gesekan antara pengusaha konvensional dengan pengusaha non konvensional. Beberapa waktu yang lalu terjadi benturan antara pengusaha taksi konvensional dengan pengusaha taksi berbasis aplikasi. Pengusaha dan pengemudi taksi konvensional merasa pendapatan mereka tergerus akibat adanya taksi berbasis aplikasi.

Selain itu yang belum muncul ke permukaan adalah adanya ‘kartel’ baru pada layanan taksi berbasis aplikasi. Saat ini para pengemudi dan pengusaha taksi online mengeluhkan tingginya biaya pendaftaran dan bulanan yang dikenakan koperasi atau perusahaan rental yang menjadi rekanan perusahaan taksi berbasis aplikasi.

Para pengemudi mengeluhkan tingginya biaya pendaftaran yang dikenakan oleh salah satu koperasi rekanan perusahaan taksi online. Ada koperasi yang menggenakan pendaftaran sebesar Rp 500 ribu ketika seorang pengemudi hendak bergabung dengan koperasi atau perusahaan rental yang menjadi rekanan perusahaan taksi berbasis aplikasi ini. Ada juga perusahaan rental atau koperasi yang mengenakan biaya Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu perminggu sebagai biaya administrasi. Seharunya dengan adanya aplikasi, membuat biaya di masyarakat menjadi turun. Bukan membuat mata rantai yang tak perlu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2