Andri,dr,SpKJ,FAPM
Andri,dr,SpKJ,FAPM Psikiater

Psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik Medis. Lulus Dokter&Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society dan Academy of Psychosomatic Medicine sejak tahun 2010. Anggota dari American Psychosomatic Society dan satu-satunya psikiater Indonesia yang mendapatkan pengakuan Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine dari Academy of Psychosomatic Medicine di USA. Dosen di FK UKRIDA dan praktek di Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang (Telp.021-29779999) . Twitter : @mbahndi

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Mampukah Seseorang Cepat Pulih dari Serangan Depresi?

18 Maret 2018   06:55 Diperbarui: 18 Maret 2018   15:31 2015 7 1
Mampukah Seseorang Cepat Pulih dari Serangan Depresi?
Ilustrasi depresi(SIphotography)

Saat saya menuliskan artikel ini saya masih berada di Bangkok, Thailand dalam rangka mengikuti acara Asia Pacific Central Nervous System Speaker Bureau Masterclass yang diadakan dua hari dari tanggal 17-18 Maret 2018. Ada beberapa negara yang ikut serta dalam acara ini selain Indonesia, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand sebagai tuan rumah, India, Pakistan, dan Hongkong. 

Acara yang bertujuan untuk memberikan hal-hal terbaru terkait depresi ini memiliki misi agar para peserta bisa menjadi narasumber terpercaya nantinya di bidang depresi di negara mereka masing-masing. Acaranya sendiri dipandu oleh Prof Roger MacIntyre dari University of Toronto dan Prof Chee Ng dari Australia. 

Beberapa hal terkait depresi yang dikemukakan kembali dalam pertemuan ini adalah bagaimana di era digital saat ini kemungkinan atau kerentanan orang untuk mengalami depresi semakin tinggi.

Apalagi telah diprediksikan oleh badan kesehatan dunia WHO bahwa tahun 2020 nanti depresi akan menjadi beban global nomor dua setelah penyakit jantung dan pembuluh darah. Salah satu masalah yang terkait dengan depresi di masyarakat adalah bahwa gangguan medis ini tidak dikenali bahkan oleh kalangan dokter sendiri.

Penelitian epidemiologi mengatakan lebih dari 50% kasus depresi tidak dikenali atau tidak mendapatkan terapi yang baik di pelayanan kesehatan. Sayangnya perbaikan depresi akan lebih baik jika dikenali dini dan diterapi segera. 

Prof Roger MacIntyre bersama sebagian peserta APAC CNS Speaker Bureau Masterclass 17-18 Maret 2018 di Bangkok (dok.pribadi)
Prof Roger MacIntyre bersama sebagian peserta APAC CNS Speaker Bureau Masterclass 17-18 Maret 2018 di Bangkok (dok.pribadi)

Kembalikan Fungsi Pasien Depresi

Salah satu fokus utama dalam pembicaraan kemarin adalah bagaimana mencapai fungsi optimal kembali setelah terapi dan kembali pulih dari depresi. Salah satu yang ditekankan adalah --selain deteksi dini-- depresi juga berkaitan dengan kebutuhan terapi yang sering tidak bisa diwujudkan dengan baik. Terapi depresi sendiri bersifat individual yang memerlukan keterampilan klinis yang tinggi dari dokter yang menemui kasus ini di klinik sehari-hari. 

Salah satu masalah yang berkaitan dengan kembalinya fungsi adalah pasien depresi sering kali tidak mematuhi pengobatan dengan baik. Lebih dari 70% kasus depresi tidak mendapatkan terapi sampai tuntas atau batas waktu yang disarankan.

Kebanyakan pasien depresi melepaskan pengobatan kurang dari 6 bulan pertama setelah pemberian obat. Inilah yang membuat banyak penelitian mengatakan bahwa kegagalan terapi pada pasien depresi berkisar antara 40-60%. Tidak mengherankan pula jika pada kenyataannya kekambuhan pasien depresi bisa mencapai lebih dari 80% dan bahkan untuk pasien yang telah lebih dari dua kali mengalami episode depresi maka meningkat menjadi lebih dari 90%. Inilah yang menyebabkan kebanyakan kasus depresi yang berat dan berulang disarankan untuk melakukan terapi seumur hidup. 

Penyulit untuk kembalinya pasien ke fungsi optimal juga terkait gangguan medis yang dialami pasien. Gangguan medis yang berkaitan dengan depresi pada banyak penelitian dikatakan adalah gangguan endokrin seperti diabetes tipe dua dan gangguan jantung yang kronis.

Kondisi medis yang berkepanjangan memang sering kali menjadi penyulit dalam proses terapi selain memang secara fisiologis tubuh gangguan medis seperti jantung dan diabetes menyimpan masalah yang erat dengan terjadinya depresi. 

Gejala Depresi pada Pasien Asia 

Beberapa gejala yang dicatat sebagai gejala yang sering dialami pasien depresi dan mengganggu fungsi pekerjaannya adalah gangguan konsentrasi, kelelahan dan insmonia. Selain itu juga penelitian mencatat bahwa gejala depresi dikaitkan juga dengan keluhan fisik yang berkepanjangan dan sepertinya "tidak bisa sembuh". Berkaitan dengan penelitian epidemiologi, pasien depresi di budaya Asia dikaitkan dengan keluhan fisik yang lebih dominan daripada keluhan psikologis. Hal ini mungkin dikaitkan dengan penerimaan masyarakat dan keluarga untuk gejala fisik lebih baik atau bisa diterima daripada mengeluhkan keluhan psikologis. 

28827930-1877255972344905-1942280162262765569-o-5aadaa6c5e1373722146fcb4.jpg
28827930-1877255972344905-1942280162262765569-o-5aadaa6c5e1373722146fcb4.jpg
Hal ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh para dokter yang menangani pasien dengan keluhan fisik yang sering kali tidak sesuai fisiologis tubuh atau bahkan tidak ada dasarnya, perlu memikirkan kemungkinan ke arah depresi. 

Upaya penyembuhan pasien depresi untuk mencapai hasil yang optimal terus diupayakan. Salah satu hal yang penting untuk dilakukan adalah kesadaran kita semua akan masalah depresi dan bagaimana mengenalinya dengan baik.

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menjadi pendengar yang baik tanpa bersifat menghakimi jika ada teman dekat atau keluarga kita mengeluhkan keluhan depresinya. Nasehat yang terlalu dini atau mengatakan depresi hanya permainan pikiran yang berlebihan malah akan membuat orang yang mengalami depresi enggan untuk melanjutkan cerita tentang keluhan mereka dan akhirnya menjadi tidak mampu didiagnosis baik dan diterapi dengan benar.

Semoga kita semua bisa lebih memahami depresi dan meningkatkan dukungan terhadap keluarga atau teman kita yang mengalami depresi, setidaknya dengan mendengarkan mereka. Semoga artikel laporan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa.