Mohon tunggu...
Dhihram Tenrisau
Dhihram Tenrisau Mohon Tunggu... profesional -

Dokter Gigi muda, Unprofessional musician

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Seperti Hagia

24 Desember 2015   08:11 Diperbarui: 24 Desember 2015   09:46 79
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 

[caption caption="Doa bersama para pemuka agama Sulsel di Anjungan Pantai Losari, Makassar Rabu Malam (22/12) Sumber : Seputarsulawesi.com"][/caption]

Bulan Desember ini ada dua kebahagiaan utama dari kelahiran dua orang Juru Selamat. Pertama kelahiran anak lelaki oleh seorang perempuan utama dari kabilah Quraisy di daerah Mekkah bernama Aminah. Perempuan yang hidup bersama kawanan suku di padang gurun ini berbahagia dapat melahirkan buah hati meskipun ditinggal mati sang suami, Abdullah di awal perkawinannya. Tiada dia menyangka suatu hari anak yang dilahirkannya itu menjadi penerang bagi umat manusia setelahnya.

Kedua yaitu, di sebuah kandang di Betlehem. Seorang perempuan perawan yang hamil  dari Nazareth, Maria namanya. Tak ada penginapan yang menerimanya, sehingga kandang menjadi tempat persalinan.  Dibaringkan anak bayinya di palungan – tempat makan hewan ternak – di bawah temaram malam yang bertabur bintang dan kesaksian para malaikat. Di masa depan anak inilah yang kemudian menjadi penuntun menuju peradaban manusia.

Para – para pengikutnya di dunia merasa bahagia. Menggambarkan bagaimana ajaran kasih dan cintanya dibacakan, dikhotbahkan, dan menjadi panutan umat Muslim dan Kristian. Yang jadi masalah ketika ajaran suci itu dijadikan alasan untuk saling bersitegang.

Dalam novel Umberto Eco, The Name of The Rose, kita dapat melihatnya, dimana potret ajaran suci dapat menjadi alat penabur benci dan pembunuh terkeji. Di novel yang berlatar Abad Pertengahan, menceritakan pembunuhan yang terjadi di salah satu biara di Utara Italia.  Selanjutnya tejadilah lagi pembunuhan dan pembakaran perpustakaan, pembid’ahan oleh pengetahuan yang dianggap berbeda dari ajaran atau pemahaman.

Mengerikannya itu kejadian di Biara itu dilakukan oleh orang – orang yang merasa beriman secara tulus, orang – orang yang mengikuti ritus – ritus ajaran secara teratur, penghapal ayat yang bermoral dan berpengatahuan. Dibaliknya kepentingan pribadi menyembul dan penghalalan apa saja demi mencapainya.

Sama halnya ketidakbahagiaan sepanjang tahun ini : kasus terorisme di Paris, konflik menjual mahzab di Suriah, penyegelan dan pelarangan beribadah di Aceh Singkli, kasus penyerangan rumah ibadah di Tolikara, hingga yang paling sering terjadi tiap tahunnya adalah pengiriman pesan untuk pelarangan pengucapan “Selamat Natal”. Bayangkan saja ketika kelak hal tersebut dilestarikan. Kita akan hidup dalam kecurigaan dan nyinyir yang membawa pada kebencian. Kelak itulah yang mengantarkan pada hancur dan terbakarnya seperti biara Benediktin dalam novel tersebut. Mungkin saja Negara kita yang di dalamnya hidup beragam keyakinan dan kepercayaan – termasuk Islam dan Kristen – dapat bernasib sama.

Maulid dan Natal

Berbeda dari Biara Benediktin dalam kisah Umberto Eco, ada Hagia Sophia yang berdiri tegak di atas tanah Turki. Sebuah museum saksi kejayaan Byzantium, kejayaan Usmani, hingga kejayaan republik Attaturk. Bekas Mesjid dan Gereja ini menjadi lambang bahwa Islam dan Kristen dapat bersatu dalam satu atap. Di dalam museum itu dapat kita temukan berbagai simbol dan lambang-Nya dapat berdampingan. Bangunan ini nyatanya dapat selamat dari berbagai bencana yang menghadang (baik gempa bumi atau perang). Kenapa tidak jika pengikutnya dapat berlaku demikian ? Kenapa tidak semangat Hagia Sophia dapat menjadi inspirasi untuk negeri ini ?

Beberapa waktu lagi hari besar kelahiran – maulid nabi bertanggal 24 Desember, dan perayaan natal 25 Desember - kedua tokoh di atas. Sangat jarang tentunya mendapatkan momen seperti ini. Perlu rasanya kita tulisan Gus Dur “Harlah Natal dan Maulid”, yang menurutnya menjadi kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa Al-Masih, yang sekarang disebut hari Natal. Ada juga pandangan Nurcholish Madjid yang melihat Maulid – mungkin bisa diintegrasikan ke hari raya lainnya – secara kontekstual yaitu bernilai kultural dan mempererat tali silaturahmi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun