MASYARAKAT SIPIL TIDAK BOLEH GUNAKAN ATRIBUT TURN BACK CRIME

26 Mei 20161 tahun lalu

Beberapa hari lalu Kabid Humas Polda Lampung, AKBP Sulistyaningsih mengatakan bahwa telah menerima surat dari Kapolri untuk melarang masyarakat sipil menggunakan atribut khusus Polisi yang bertuliskan Turn Back Crime karena dapat disalahgunakan. Namun kemudian Kapolri Badrodin Haiti mengklarifikasi bahwa tidak ada pelarangan mengenai hal ini. Meski demikian, beberapa waktu lalu telah terjadi kasus kriminal di mana pelakunya menggunakan atribut Turn Back Crime untuk mempermudah aksi mereka. Kompasianer, menurut Anda apakah setuju jika masyarakat sipil tidak boleh lagi menggunakan atribut Turn Back Crime milik Interpol ini?

8 PRO
  • Ronald Hutasuhut
    21 Februari 20179 bulan lalu

    Kalimat 'Turn Back Crime' terlanjur identik dengan Polri, bisa disalah-gunakan.

  • Ananta Damarjati
    01 November 20161 tahun lalu

    Sangat setuju. Gini, saya sedikit banyak mempelajari tentang pola berbusana. Dan yang saya amati, bukan kesan gagah berani yang muncul ketika orang mulai memakai t-shirt turn back crime. Yang ada malah kesan norak, latah, serta kaku. Jadi, ini cuma soal fashion, kalau nggak pantes --dan kebanyakan memang tidak pantas-- mending ndak usah punya pikiran beli, apalagi memakai. Lebih-lebih diberi karunia Tuhan dengan body kerempeng, aduh.

  • Dede Rusli
    05 Juni 20161 tahun lalu

    ini sih hanya pak Polisi yang cari duit aja, yang suka dengan baju itu, orang yang suka ditilang polisi dengan 86.. masyarakat bodoh..

  • Masud
    30 Mei 20161 tahun lalu

    Setuju karena Polda Sulawesi Tenggara telah mencetak puluhan lembar baju yang dibagikan kepada sejumlah wartawan di Kendari dan saya juga dapat....hehehehe...

Masud cetakan baju tersebut bertuliskan Turn Back Crime
  • Bram Y. Setiadi
    30 Mei 20161 tahun lalu

    Saya ingat benar bahwa produk 'turn back crime' ini mulai booming setelah terjadi bom sarinah. Satuan kepolisian yang tampil trendy dan modis saat itu menjadi perbincangan masyarakat (khususnya di dunia maya) dan mulailah ada oknum yang memproduksi polo shirt dan kaos oblong bertuliskan turn back crime. Menurut saya jika memang atribut tersebut adalah atribut kepolisian, ada baiknya selain memberikan kejelasan mengenai penggunaan oleh masyarakat umum dari kepolisian juga harus ada pembeda yang jelas antara 'turn back crime' asli dan abal agar masyarakat tidak menjadi korban.

    Di sisi lain, saya melihat justru ini sebagai perluang bagi kepolisian untuk semakin dekat dengan masyarakat melalui atribut-atribut yang friendly dan casual, sehingga justru bagaimana jika Polri menjadikan 'turn back crime' menjadi semacam original brand milik mereka, dan tetap tentu saja dengan pembeda yang jelas antara yang beredar di kalangan masyarakat umum dengan yang digunakan oleh satuan kepolisian. Mengingat masyarakat kita yang sepenuhnya belum terdidik secara merata, saya melihat kasus penipuan masih rawan terjadi serta karena brand ini memang asli muncul dari polisi sendiri - tidak berasal dari masyarakat yang diadopsi oleh satuan kepolisian, maka sudah selayaknya jika hak cipta desain dan royalti (dan sejenisnya barangkali) seharusnya sepenuhnya dalam kendali sang pemilik brand.

KONTRA 9
  • Faris Saputra Dewa
    01 September 20161 tahun lalu

    kalau pihak kepolisian lebih kreatif, seharusnya mereka melarang seluruh anggotanya untuk mengenakan seragam 'Turn Back Crime' dan mengumumkannya kepada masyarakat bahwa atribut tersebut tidak lagi berkaitan dengan institusi kepolisian, agar tidak lagi disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab

  • HARUS SHARING
    24 Juli 20161 tahun lalu

    lebih baik galakkan pnyuluhan, bahwa org yg mlakukan aksi kjahatan itu bukan polisi tapi penjahat, walau dia jd polisi kalau udah jahat ya jahat, n pertegas hukuman aja, mau pake bajau turn back crime atau apa aja kalau udah mau jahat ya jahat, biar rakyat ma aparat suatu saat g ada bedanya, biar g ada yg sombong lah

  • Bang Pilot
    12 Juni 20161 tahun lalu

    Turn Back Crime itu bukan milik interpol. Tapi milik pengusaha konveksi.

  • Sabaruddin Siregar,CA
    02 Juni 20161 tahun lalu

    Yang penting niat dan bisa untuk kampanye anti kejahatan untuk Semesta Keamanan Nasional dan jgn jadi sok jagoan ...harus kerja sama dan gotong royong...

Masud Menurut Kapolri Pak Jendral Badrodin dalam kurun waktu tahun 2011 sampai dengan 2015 telah dilakukan penambahan jumlah sumber daya manusia (SDM) polisi sebanyak 68.531 personel. Dan khusus tahun ini, Polri telah merekrut 15.800 personel yang terdiri dari Akademi Kepolisian (Akpol) sebanyak 300 personel, Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) 50 personel, Brigadir 13.200 personel dan Tamtama 2.350 personel. Dengan demikian selama kurun waktu lima tahun Polri telah mengalami peningkatan dalam rangka memenuhi perbandingan rasio Polri dengan masyarakat yaitu 1 : 575 dan Menurut PBB, Rasio Polisi yang ideal adalah 1:400. Jadi masih ada selisih kekurangan sebanyak 175 personel. Dengan rasio tsb pun kejahatan masih marak, terutama pemerkosaan, cyber crime dll. Tentu dengan adanya kampanye “Turn Back Crime” akan menjadi sebuah Aksi Nasional menjadi Semesta Keamanan Nasional.-
Masud Yg akan membantu polisi untuk menutupi selisih kekurangan sebyk 175 dan kejahatan akan menurun minimal sekali kita tidak melakukan kejahatan that is point.-