Mohon tunggu...
Priyo Widiyanto
Priyo Widiyanto Mohon Tunggu... Papan Kanggo Olah Rogo lan Roso. Edukatif dan Teraputik.

Seorang peziarah kehidupan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Air Mata Pencuri Ikan

26 Oktober 2020   12:12 Diperbarui: 26 Oktober 2020   12:31 19 5 0 Mohon Tunggu...

Sejak siang anak laki-laki  usia kelas enam sekolah dasar itu sangat gelisah, keluar masuk rumah dalam diam, beberapa kali membuka tutup makan di meja makan, yang terlihat tetap sama, yaitu nasi di wakul, tanpa lauk. Ada piring bekas tempat lauk, tempe garit goreng merupakan lauk tunggal yang menemani sarapan pagi. Siang pulang sekolah hanya terlihat ada nasi sendirian, belum ada lauk karena simboknya juga belum pulang dari mengajar. Simbok memang guru sekolah dasar di desa tetangga.

Sebagai anak guru dalam keluarga beranak lima, di sekitar tahun 1970-an, keluarga dengan kondisi ekonomi memprihatinkan merupakan pemandangan umum. Bekal yang dibawa anak sekolah itu ketika berangkat ke sekolah adalah garam dan cabe. Tentu muncul pertanyaan untuk apa membawa bekal garam dan cabe berangkat ke sekolah ? Ya nanti garam dan cabe itu di perjalanan akan ditemani oleh kacang panjang, mangga, dan buah-buah lain yang ditemukan dalam perjalanan berangkat dan pulang sekolah. Meskipun dalam aura kemiskinan, berangkat dan pulang sekolah tetaplah bersuasana menggembirakan apalagi buku tulis yang dibawa juga hanya dua atau tiga buah.

Ketiadaan lauk di meja makan menjadi beban tersendiri bagi anak laki-laki tersebut setelah menyantap nasi tunggal, yang telah diberi sedikit air garam. Pergilah anak laki-laki tersebut melesat keluar rumah dengan membawa bekal sedikit garam, gula, dan cabe. Dia melesat menemui teman-temannya untuk bersama-sama ke kebun yang dipenuhi dengan kacang panjang dan di sekitarnya banyak mangga yang sudah ranum. Canda dan tawa di antara mereka membuat mereka melupakan perut tadi sudah diisi apa saja. Kegembiraan dalam bermain membuat hari terasa cepat berlalu . Hari sudah sore, pulanglah anak-anak tersebut.

Sampai di rumah anak laki-laki tersebut membuka tutup makanan di meja. Yang terlihat  satu wakul nasi masih panas, dan tempe goreng garit sejumlah tujuh potong, sebanyak jumlah anggota keluarga di rumah tersebut. Anak laki-laki itu termenung sejenak. Sewaktu ia bermain tadi ia lewat perikanan, yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Ia melihat ikan-ikan tombro yang besar. "Wah betapa enaknya kalau malam minggu dan kebetulan terang bulan ini makan dengan lauk yang sedikit istimewa," begitu yang terlintas dalam pikiran si anak.

Terdorong oleh ide keinginan makan yang sedikit istimewa, anak laki-laki tersebut mengambil kail dan segera pergi ke perikanan. Ia langsung mengail dan tidak butuh waktu lama, seekor induk tombro merah berat sekitar 1 kg sudah ada di tangan. Wajahnya pun memerah tanda bahagia dan bangga. Kepulangannya diwarnai oleh kegembiraan. Dalam hatinya, pasti ayah, ibu dan adik-adiknya akan senang karena makan malam akan istimewa. Perjalanan dari perikanan ke rumah sangat terasa singkat, diterangi oleh matahari yang mulai redup.
Sampai di depan rumah, kebetulan ayahnya ada di halaman depan  rumah. Langsung si anak lapor, "Pak, kulo pikantuk ulam."
Ayahnya pun bertanya singkat , "Entuk seko endi ?"
"Perikanan", jawab si anak.
 "Leh mu entuk piye,"  tanya ayahnya lagi.
Dengan tenang si anak menjawab, "Mancing, Pak."
Ayahnya tanya lagi, "Mau nembung ora ?"
Dengan jujur si anak menjawab, "Mboten, Pak."
"Kuwi jenengen opo ?" segera ayahnya bertanya.
"Nyolong,  Pak," dengan segera pula si anak menjawab polos.
"Iwake baleke sing nduwe, terke neng omahe !" perintah ayahnya kemudian.

Tanpa menunggu ayahnya marah, si anak laki-laki pun berjalan gontai ke rumah pemilik perikanan. Dalam bayangan dia, pasti si pemilik perikanan akan marah besar. Di depan pemilik perikanan si anak berkata, "Pak, kulo wau mancing nyolong ulam, niki kalih bapak ken mangsulke, nyuwun ngapunten nggih, Pak, ulame pun pejah." Si anak pun menunduk dan air mata pun terurai, air mata ketakutan. Si pemilik kolam berkata, "Mboten nopo-nopo, Nak, benjang nek kepingin ulam sanjang mawon." Setelah itu, si anak pamit dan segera pulang karena waktu memang sudah menjelang maghrib.

Sampai di rumah, ayahnya sudah berdiri di depan pintu rumah dan berkata, "Ojo pisan-pisan wong urip kuwi nyolong, mengko ndak kowe diarani maling, wis kono gek adus terus madang bareng adi-adi mu." Kata-kata ayahnya itu terus terngiang dalam pikiran si anak sepanjang malam, mengganggu  tidurnya. "Nek wong nyolong kuwi diarani maling !" Sangat sederhana pesan ayahnya. Pesan yang sangat sederhana ini sungguh mewarnai perjalanan hidup si anak laki-laki itu sampai saat ini.

Orang tua memang punya tanggung jawab mewariskan nilai-nilai kehidupan yang baik bagi anak-anaknya. Orang tua harus mampu menangkap situasi dan kondisi yang tepat untuk mewariskan nilai kepada anak. Apabila hal itu terjadi, pewarisan nilai kehidupan akan dengan mudah terinternalisasi dalam diri anak dan nilai kehidupan yang diwariskan itu akan mewarnai perjalanan hidup si anak. Dalam air mata pencuri ikan terinternalisaikanlah nilai-nilai luhur dari orang tuanya dalam diri si anak.
-pw-

VIDEO PILIHAN