Mohon tunggu...
Pringadi Abdi Surya
Pringadi Abdi Surya Mohon Tunggu... Pejalan kreatif

Lahir di Palembang. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Instagram @pringadisurya. Catatan pribadi http://catatanpringadi.com Instagramnya @pringadisurya dan Twitter @pringadi_as

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Yang Hilang dari Toa Sahur

1 Mei 2021   09:29 Diperbarui: 1 Mei 2021   10:07 475 10 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yang Hilang dari Toa Sahur
Toa Masjid. Sumber: Tempo.

Toa sahur sempat menjadi bahan pembicaraan tatkala sebuah portal berita mengangkat pernyataan seorang artis yang mengatakan toa sahur dengan cara berteriak itu berisik, mengganggu ketenangan. Padahal cara membangunkan sahur seperti itu bukanlah hal baru di Indonesia. Terlebih di kampung-kampung. Bahkan di komplek perumahanku juga ada yang kerap membangunkan sahur dari toa musholla. "Pak Pringadi, Pak Widada, bangun, Pak....

Protes terhadap toa itu sendiri sebenarnya mencerminkan ada sesuatu yang hilang di sana. Pertanyaan pendahuluannya adalah kenapa bisa ada ketersinggungan? Jawabannya adalah karena tidak saling mengenal. Ada keterasingan dalam anggota masyarakat sehingga niat baik sekalipun bisa disalahpahami.

Tradisi membangunkan sahur lahir karena keakraban itu. Dahulu, antar tetangga saling mengenal dengan baik. Meski ada julid-julidnya, tetangga seperti anggota keluarga. Dianggap saudara. Seperti cerita Bapakku yang lahir dalam keluarga beranak banyak, "dibawa" oleh tetangga yang jauh hubungan darahnya merantau ke Sumatra saat berumur 4 tahun. Ada rasa percaya di sana. Ada saling menjaga di sana. Karena itu waktu aku kecil, bermain lumayan jauh dari rumah pun aman-aman saja. Karena radius saling mengenalnya bukan hanya 1-2 rumah di sekitar. Satu kampung bahkan sampai kampung sebelahnya juga kenal kalau A, B, C, ini anaknya siapa-siapa saja.

Bersama itu, tradisi lain juga mengiringi sebagai penanda kebersamaan seperti rewang saat ada tetangga yang menyelenggara hajatan atau saling pinjam alat bikin kue saat menjelang lebaran. Aku masih ingat saat SD, suka diminta pinjam loyang atau cetakan kue ke tetangga A, B, dan C, juga sebaliknya.

Keguyuban itu nyata di masa lalu. Oleh karena itu, tradisi membangunkan sahur bertumbuh dan diapresiasi. Ada yang berkeliling memukul bedug. Ada yang menabuh alat musik dadakan yang terbuat dari kaleng dan ember. Ada yang memakai petasan (tapi ini kemudian dilarang karena berbahaya). Ada yang memakai alat musik beneran seperti gendang dan gong. Berbagai cara, berbagai nama tradisi membangunkan sahur itu di berbagai daerah di Indonesia. Yang paling sederhana, memukul tiang listrik dengan batu. Ting ting ting.

Toa masjid/musholla pun bukanlah sekadar toa. Masjid/musholla itu sendiri bukanlah sekadar tempat beribadah. Di sanalah pusat "peradaban" kampung. Ibu-ibu mengaji pakai toa. Ibu-ibu latihan rebana pakai toa. Pengumuman kerja bakti pake tua. Pengumuman orang meninggal juga pakai toa. Posisi toa itu seperti emas buat anak-anak sepertiku dulu sehingga kalau ada kesempatan, aku akan menyambar toa hanya sekadar bilang halo-halo sampai petugas mushola datang dan memarahi kami.

Namun, zaman berubah. Sekarang orang "membangun pagar rumah" tinggi-tinggi. Mau membiarkan anak bermain agak jauh saja ada rasa khawatir. Keterasingan muncul di antara rukun tetangga. Masjid berubah menjadi tempat beribadah sehingga apa-apa yang keluar dari toa, bahkan adzan sekalipun bisa dianggap mengganggu. Ibadah tidak lagi menjadi ranah publik yang menyatukan, melainkan harus ditempatkan di ruang-ruang privat.

Baru Saudia Arabia dijadikan dalih. "Di Arab saja, masjid-masjid mematikan pengeras suara atau toa eksternal -- yang ada di luar masjid -- dan hanya menggunakan speaker internal."

Ya, percayalah, Indonesia punya nilai yang indah. Setiap mendengar suara dari toa itu, aku akan bernostalgia. Meski kini zaman sudah berubah, toa (eksternal) mungkin tak akan lagi ada. Tapi disadari atau tidak, ada yang hilang dari toa sahur. Dan kita akan mencari, dan mencari....

VIDEO PILIHAN